Gegara Qurban

75

SANTERDAILY.COM | CERPEN——–“Keluar kamu dari rumah ini sekarang! Mulai detik ini kau bukan lagi istriku. Kita cerai!” Mas Bram mengeluarkan kata-kata itu dengan sangat lantang. Wajahnya memerah menunjukkan kemarahan yang amat sangat. Sorot matanya menatapku penuh kebencian.

“Mas, aku akan keluar. Tapi, kalau boleh aku memohon, terakhir kali ini saja. Setidaknya, izinkan aku malam ini tidur di kamar ini. Kasian anak-anak kalau harus keluar malam-malam begini.” Aku menjawab kemarahan suamiku dengan tenang, tak ada air mata disana. Entahlah, mungkin sumber air mataku sudah kering.

“Biarkan anak-anak di sini malam ini. Aku sudah tak ingin lagi melihatmu. Kau pergi sekarang juga!” Tampak kebenciannya sudah menghilangkan rasa iba untukku.

Tanpa perlu menjawab, aku segera berdiri beranjak pergi, keluar dari rumah suamiku. Kutinggalkan kedua anakku bersama Mas Bram.

Aku berjalan tak tahu arah tujuan karena tak ada satu pun sanak keluarga disini. Aku melangkah mengikuti langkah kaki yang tak beralaskan apapun.

Kuakhiri langkahku di sebuah masjid di sudut kota. Ingin rasanya aku segera bertemu Tuhanku dan mengadukan segalanya. Namun, masjid ini terkunci. Aku pasrah, berwudhu dan shalat tanpa mukena dan sajadah.

Aku menangis, memohon ampun, meminta padaNya untuk menguatkan aku melewati ini semua. Sakit yang teramat sangat.

Aku begitu larut dalam doa yang panjang hingga kelelahan dan tertidur di teras masjid.

Pagi ini aku terbangun karena sentuhan hangat di pipi. Kulihat Mas Bram, dengan wajah cemas melihatku. Dia mengusap lembut pipiku.

“Udah siuman, dek?”

Aku memegang kepalaku yang terasa sangat pusing. Kulihat sekeliling. Aku ternyata berada di sebuah ruangan rumah sakit. Dan jarum infus sudah bertengger ditangan kiriku dengan indahnya.

“Mas, kenapa ada disini? Bukannya mas sudah mengusirku? Hingga aku tertidur di masjid?”
Sinis kutatap Mas Bram.

“Kamu tuh tadi malam pingsan. Kebanyakan makan daging kambing, darahmu naik.” Mas Bram menjelaskan kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini.

Ya, aku baru ingat bahwa sebelum tidur aku menghabiskan sisa kari daging kambing qurban di kuali sampai dua piring.

Penulis  : Suafrida Rahmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here