Angkot Ghaib

110

SANTERDAILY.COM |  CERPEN —–Saat itu aku masih berseragam abu-abu. Bersekolah di salah satu SMU Negeri di Kota Pematang Siantar.

Seperti biasanya, setiap hari sepulang sekolah, aku mengikuti les bimbel. Dan selesai les biasanya pukul 5 sore. Seringkali aku terakhir kali mendapat angkot. Tubuhkuku yang mungil seringkali kalah cepat menyerobot masuk ke dalam angkot. Lagipula, aku benci harus berdesak-desakan, berebut di depan pintu angkot mencium aroma sengit dari tubuh orang lain.

Praktis, setiap hari aku selalu sampai di rumah pukul 8 malam. Dikarenakan aku tinggal di pinggiran kota, kira-kira satu jam perjalanan menggunakan angkot.

Sore itu, pun lagi-lagi aku harus menunggu angkot yang terakhir tujuan Pajak Horas. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul 6.00 sore. Rasa khawatir melanda, karena angkot terakhir ke kotaku pukul 6.30 petang. Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan angkot terakhir.

Begitu sampai di Pajak Horas, aku langsung turun secepat kilat menuju barisan angkot yang menuju ke kotaku. Kucari-cari sampai juling mataku, namun sudah tidak ada lagi angkot yang menuju ke arah kotaku. Aku terlambat 15 menit. Kuhentakkan kakiku ke tanah, marah. Ingin menangis, namun malu dilihat orang disekelilingku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here