Kartu dan Surat Aneh

30

Oleh : IAK

SANTERDAILY.COM | CERPEN—Mukidi seorang pemuda miskin kampung yang mendadak kaya karena menang undian permen karet. Ia lalu membeli mobil merk Kejang Taihatsu. Selanjutnya, ia kursus menyetir selama setahun. Lama, soalnya Mukidi termasuk pemuda lemot bin oon.

“Muk, kowe mesti urus SIM. Kalo ndak, ndak boleh nyetir.” Pak RT menyarankan.

“Aneh. Mobil, mobil sendiri, kok, ndak boleh nyetir. Cemburu banget yang bilang ndak boleh!” Mukidi sewot.

“Bukan gitu, Muk. Memang itu peraturannya. Otakmu itu dibengkelin dulu, Muk. Sayang, udah kaya, otak masih versi lama.” Pak RT tertawa mengejek.

“Yo, wis. Besok temenin aku ya, Pak RT.”

“Iyo, tapi … aku beliin jas, yo?”

“Walah … dasar Pak RT. Pejabat tukang minta-minta. Gak ikhlas banget.”

“Mau ndak? Kalo ndak … aku sibuk besok!”

“Yo wis … iyo … iyo!”

“Kalo gitu, besok aku urus KK dan KTP-mu dulu biar bisa urus SIM. Selama miskin, kowe ndak punya, kan? Sekarang harus punya. Biar nanti gampang urus kartu-kartu lain.”

“Ribet buanget jadi orang kaya. Banyak yang diurus. Perasaan negara ini kebanyakan kartu. Kenapa gak satu kartu dengan semua fungsi, toh? Kan, udah pake onlen semua. Jadi, cukup satu kartu aja. Terkoneksi ke semuanya. Gak ngabisin duit rakyat, gak ngabisin anggaran buat kartu. Terus, ngurus KK bareng KTP pake duit, kan?” Mukidi mendadak pintar sejak punya duit.

“Di negara ini, apa yang ndak pake duit, Muk? Pokoke motone ‘kalo bisa dipersulit, kenapa dipermudah’. Kecuali buat yang punya duit … semua urusan jadi mudah. Naaah, kowe beruntung sekarang. Punya duit.” Pak RT tersenyum membayangkan duit lagi dari Mukidi.

“Yo, wis. Urus teros!”

Selang beberapa hari, KK Mukidi selesai.
KK dan KTP selesai kilat. Mukidi protes melihat KK dan KTP-nya.

“KTP-nya betol. Lah, KK-ne kok gini, Pak RT?Judule Kartu Keluarga, lah kok, malah jadi surat gini?

Pak RT bingung.

“Aku ndak mau tau. Pak RT harus ganti KK-ku jadi kartu, bukan surat. Aneh! Rakyat dibodohi mulu!”

“Mukidi … itu udah dari duluuu …!” Pak RT mendadak pusing.

*****

Keesokan hari, Mukidi dan Pak RT pun menuju Samsak, eh … Samsat, eits … kantor Polres.

“Sampeyan mau jalur normal apa tembak?” tanya calo.

“Wadoh … serem buanget ini. Kok, pake tembak segala? Nek aku mati, piye?”

“Hust, bukan gitu, Muk. Kalo jalur normal, kowe mesti dites tulis dan prosedur lain. Tembak itu main cepet. Zeeet … keluar SIM-mu. Tapi, duite tiga kali lipet. Kalo tes, wis pasti kowe ndak lulus!” Pak RT menakut-nakuti. Ia main mata dengan si calo.

“Gitu toh, ya? Yo wislah, tembak aja.”

Tak menunggu waktu lama, SIM Mukidi pun selesai. Mukidi kaget dan tak terima. Ia memarahi calo dan menjumpai petugas langsung.

“Saya ini memang bodoh, tapi ndak bisa dibodoh-bodohi. SIM itu ‘kan Surat Izin Mengemudi. Lah, kok, ini bentuknya kartu? Penipuan ini! Bayar mahal urus surat, kok, dapetnya kartu. Piye, toh?”

Sumpah, petugas jadi bingung. Baru kali ini ada orang bodoh yang pintar. Si petugas berpikir keras untuk menjelaskannya.

“Mas Mukidi … itu udah dari sana. Mau protes gimana pun, SIM itu ya, bentuknya dari dulu kartu.”

“Piye, toh? Kok, orang-orang pinter pada diem aja? Pembodohan ini namamya. Surat kok kartu.”

Pak RT menggeleng-gelengkan kepala, merasa tak enak hati dan malu. Ia pun menarik paksa Mukidi keluar dari ruangan, daripada urusan jadi panjang.

Sepanjang perjalanan pulang, Mukidi mengomel perihal surat tapi kartu. Pak RT enggan berdebat dengan Mukidi yang oon, meskipun yang diungkapkan Mukidi benar. Ia sendiri juga baru menyadari hal itu.

END

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here