Backstreet

19

Oleh : IAK                               SANTERDAILY.COM | CERPEN—-Semua orang ingin dicintai dan mencintai. Begitu juga aku. Gadis remaja yang sedang mencari jati diri. Terkadang iri melihat teman-teman seusiaku berpacaran. Sedangkan aku … orangtua melarang pacaran. ‘Lebih banyak mudharatnya’, nasihat mereka selalu. Aku tak berani membantah, karena berkeyakinan yang dikatakan mereka sesuai dengan ajaran agama.

Ternyata memegang teguh nasihat orangtua dan ajaran agama sangatlah berat. Aku yang masih labil dan gampang terpengaruh tak lagi kuasa menahan nafsu.

Robby, itu namanya. Berperawakan tinggi besar, tubuh yang ideal. Selalu rapi. Aku begitu menyukainya. Mengingatkanku akan Robby Purba, seorang MC di televisi.

Tanpa sepengetahuan orangtua, aku sering berduaan bersama Robby di taman. Di sanalah kami bebas memadu kasih. Seringkali banyak pasang mata yang melihatku aneh. Mungkin karena hijabku yang lebar. Akh … aku tak peduli. Yang terpenting aku bisa bersama Robby.

Seperti sore ini. Kami duduk berdua di bangku taman dengan aneka bunga cantik berwarna-warni sebagai saksi cintaku dan Robby. Ia memandangku mesra. Kedua tangan ia letakkan di paha kananku. Terdengar jelas napasnya turun naik. Aku tersenyum bahagia. Kuusap lembut kedua tangannya dengan penuh cinta. Jantungku berdegup kencang.

Aku tak kuasa menahan gejolak ini. Saat ia mendekatkan bibirnya, aku sambut dengan suka cita, tak berpikir resiko apa pun. Orang-orang melihat kami. Hasratku melupakan segalanya. Inilah pertama kali aku dicium Robby.

“Ida!” Seseorang berteriak, menepuk pundakku.

Aku membalikkan tubuh.

“I-ibu … ke-na-pa a-da di si-ni?” Aku ketakutan melihat Ibu yang memerogokiku. Aku menunduk, gemetar, memainkan jemari. Tak berani menatap wajah Ibu. Kulirik Robby yang juga diam tak bergerak. Pasrah.

“Pergi kamu sana! Jangan ganggu anakku!” hardik Ibu ke Robby. Tanpa sepatah kata, Robby melesat pergi.

“Robby …!” panggilku berusaha mencegahnya. Namun, ia terus menjauh.

“Duduk!” Ibu memerintahkan aku duduk di sebelahnya di bangku yang tadi kududuki bersama Robby. Aku menuruti perintah Ibu, duduk tepat di sebelahnya.

“Ida, Ibu sayang banget sama Ida. Bukannya Ibu tidak suka Ida bersama Robby, tapi dokter melarang Ida untuk memelihara kucing. Nanti asma Ida kambuh. Apalagi Ibu lihat tadi, Ida mencium Robby. Bahaya, Nak.” Ibu menggengam tanganku. Tampak sekali ia sangat khawatir jika asmaku kambuh karena mencium Robby, kucing kampung yang sering berkeliaran di taman.

END

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here