Ada Apa Dengan Literasi Kita?

52

Oleh : Muklis Puna
SANTERDAILY.COM |-OPINI—-Perguruan tinggi adalah salah satu dari sub-sistem pendidikan nasional. Keberadaannya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mempunyai peran sangat penting melalui adanya penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, di antaranya pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Merujuk pada Tri Darma perguruan tinggi dalam paparan di atas, kita wajib berbangga hati, karena ketiga konsep yang diemban oleh misi perguruan tinggi merupakan perwujudan dari tujuan pendidikan Indonesia yang ada undang- undang nomor 20 Tahun 2003.

Untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa , pemerintah melalui payung hukum tidak main-main. Pemerintah telah menggelontorkan dana APBN sebesar 20% dari total penghasilan pemerintah setiap tahun.

Selanjutnya agar garis komando tidak tumpang tindih pemerintah juga sudah memisahkan kementerian pendidikan menjadi dua bagian yaitu kementerian tinggi riset dan teknologi serta kementerian menengah.

Walaupun kedua instansi tersebut berbeda seragam akan tetapi dua duanya tetap mengurus bidang pendidikan. Pada taraf perguruan tinggi ditetapkan tiga konsep yang dikenal dengan tri darma perguruan tinggi. Artinya ada jabaran yang bertugas memajukan pendidikan.

Hal ini sesuai dengan anggapan bahwa pendidikan merupakan rahim dari kemajuan suatu bangsa. Majunya suatu negara dapat dilihat pada indikator sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat yang berwujud pada tingkat pendidikan masyarakat.

Jika kita merunut lebih jauh atau menakar kemajuan pendidikan hari ini kita harus mengurut dada. Perguruan tinggi yang seharusnya perpanjangan tangan dari pemerintah dalam memajukan kesejahteraan rakyat masih jalan di tempat.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tenaga tenaga pendidik yang profesional berada di perguruan tinggi. Tugas para pendidik ini melakukan pembelajan yang mampu mengubah peradaban negeri kearah yang lebih maju. Selain dari mengajar para pendidik di perguruan tinggi juga dituntut melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang semua lini kehidupan manusia yang bertujuan menciptakan negara yang mampu bersaing di kancah internasional. Karena negara Indonesia ini juga merupakan salah satu anggota dari percaturan dunia.

Melihat kuantitas perguruan tinggi di Indonesia baik negeri maupun swasta memang sesuatu yang membahagiakan. Data statistik pada Tahun 2017 dari Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristek Dikti), jumlah unit perguruan tinggi yang terdaftar mencapai 4.504 unit.

Angka ini didominasi oleh perguruan tinggi swasta (PTS) yang mencapai 3.136 unit. (Kemenristek 2017) Angka ini bukanlah angka yang sembarangan, jumlahnya bertebaran mulai dari Sabang sampai Merauke. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sudah diverifikasi dengan ketat oleh Dikti melalui proses Akreditasi.

Kembali ke subtansi permasalahan bahwa pendidikan di perguruan tinggi merupakan salah satu pilar pembangunan negeri ini. Di sini tempat berkumpulnya para intelektual Indonesia dengan berbagai disiplin ilmu. Bandingkan dengan kemajuan dan teknologi yang telah disumbang oleh perguruan tinggi terhadap kemaslahatan ummat, mungkin bisa dihitung dengan lipatan jari.

Hanya beberapa perguruan tinggi baik institut ataupun akademi yang memberikan sumbangsih nya terhadap pembangunan negeri. Selebihnya negeri ini harus mengimpor dari luar negeri.

Tugas penelitian dan pengembangan di perguruan tinggi belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Semua penelitian yang dibuat oleh mahasiswa hanya berfungsi untuk memenuhi syarat dalam mencapai gelar kesarjanaan saja.

Buktinya hampir tiap tahun perguruan tinggi mencetak sarjana dengan produk penelitian. Akan tetapi yang membuat riskan adalah hasil penelitian tersebut tidak ditindaklanjuti bahkan hanya sebagai pajangan di perpustakaan universitas dan prody, selebihnya dikembalikan kepada mahasiswa sebagai arsip…ironis.

Para dosen yang bergelar profesor, Doktor dan magister mereka bermesra ria di atas menara gading dengan ilmu yang dimiliki. Tugas- tugas penelitian yang dilakukan tidak lebih hanya mengumpulkan angka kredit yang lebih bersifat individual.

Pengabdian dan pengembangan terhadap kehidupan masyarakat masih berada pada tahap yang belum diharapkan oleh undang-undang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah buku atau karya yang dihasilkan oleh masyarakat sebagai dampak dari majunya sumber daya manusia masih minim. Budaya menulis pada masyarakat kita masih berada pada titik nadir jika dibandingkan dengan jumlah penduduk kita hari ini 230 juta hanya menghasilkan plus minus 25000 pertahun. Mari kita lihat kutipan di bawah ini sebagai renungan kita.

Jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun. (Kompas.com, 22 Juni 2012).

Penulis sengaja menambah jadi 25000 judul buku karena tulisan ini berada pada 2018.. He..he. Kalau kita bandingkan dengan Jepang dan negara tetangga kita Malaysia kita masih jauh di nomor buncit.

Jepang mengalami kekalahan hebat pada perang dunia II tahun 1942.Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki dibom luluh lantak oleh Amerika Serikat dengan bom Nuklir yang diracik secara teknologi modern oleh Albert Einstein. Semua aset negara hancur dihantam nuklir.

Jamur raksasa itu telah meninggalkan radiasi yang luar biasa. Bahkan sampai detik ini satu batang rumput pun belum tumbuh di daerah yang menelan ratusan ribu korban itu.

Tiga tahun setelah peristiwa yang mengharu biru itu Indonesia lahir 1945. Jepang baru bangkit dari keterpurukan dan Indonesia baru lahir. Ini artinya Indonesia dan Jepang sama sama sebagai kupu kupu yang keluar dari kepompong. Akan tetapi pertanyaan yang menggangu malam panjang kita adalah kenapa mereka lebih maju dari kita? Konsep yang digunakan apa ni?

Ternyata hanya ada satu kata untuk menjawabnya adalah PENDIDIKAN. Pertayaan selanjutnya mengapa pendidikan, bagaimana pendidikan dan apa peran pendidikan bagi kehidupan bangsa?( tak perlu diulas lagi karena semua pembaca sudah mengetahui jawabannya)

Nah, yang wajib dicontohkan pada Jepang adalah jepang bisa maju sebagai Jepang yang menghagai budaya bangsa nilai nilai yang dikandungnya. Hampir setiap hari semua buku buku pengarang terhebat dunia termasuk dari Indonesia dimasukkan pustaka digital, lalu ditranslet dalam bahasa Jepang dan dikonsumsi oleh semua masyarakat Jepang.

Penulis tidak ingin membeberkan bagaimana di kita ya?
Dari beberapa fenomena yang telah dipaparkan di atas penulis berpikir alangkah indahnya negeriku ini, jika para intelektual yang berada di puncak menara ilmu mau berbagi ilmu lewat tulisan dan mau menyiasati momen dan peluang dalam membangun negeri. Apalagi zaman teknologi yang begitu maju media sosial begitu menjamur. Data menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia menempati posisi nomor 4.

Itu artinya setengah penduduk Indonesia menggunakan media sosial melebihi angka 100 juta lebih…wah.. sebuah angka yang fantastis.

Angka yang luar biasa tersebut ternyata tidak mampu mendongkrak budaya tulis dan baca di negeri ini. Kebanyakan pengguna sosial di sini adalah hanya melakukan up date status, postingan foto dan vedeo tentang kehidupan pribadi. Seandainya para pakar pendidikan, teknokrat ramai ramai turun gunung berbaur dengan masyarakat di media sosial dunia literasi kita pasti mencapai puncak kejayaannya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here