Pemuda Berkualitas Modal Kemajuan Indonesia

50

Foto : ilustrasi.

SANTERDAIL.COM | OPINI—Tidak terasa, tanggal 17 Agustus 2019 ini bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya ke-74. Karena kecintaan terhadap negeri, setiap tahun masyarakat memperingati perhelatan kemerdekaan, meskipun banyak carut marut dalam masyarakat dan pemerintah.

Ada harapan negeri ini menjadi lebih baik. Segenap kaum muslimin selalu mendoakan agar Indonesia bisa menjadi negeri yang penuh dengan kemakmuran, dan negeri yang penuh ampunan Allah.

Sebuah negara yang baik, kehidupan masyarakatnya juga baik. Kebutuhan hidupnya terpenuhi, kesehatan terjamin, keamanan terjaga dan masyarakatnya juga jauh dari sikap permusuhan.

Dari saling membenci, mereka mengubah jadi saling toleran, dan saling memaafkan. Oleh karena itu, dalam praktiknya kaum muslim tidak pernah memiliki problem toleransi. Mereka sudah terbiasa hidup dalam kemajemukan. Mereka memiliki tradisi toleransi tinggi.

Mereka biasa memperlakukan orang-orang yang berbeda keyakinan atau agama dengan santun, adil, dan manusiawi.

Negeri ini memiliki sumber kekayaan alam berlimpah, baik berupa emas, nikel, batubara, minyak, gas dan lainnya. Juga memiliki sumber daya manusia yang unggul, karena faktor dari datangnya Islam yang pernah membawa kegemilangan pada setiap bangsa, seperti pernah terukir dalam sejarah.

Bangkitnya bangsa pada saat itu dan sampai sekarang faktor pemuda yang berkualitas, penuh ketaatan dan cerah masa depan bangsa. Bila buruk kondisi kaum muda hari ini, maka suramlah nasib bangsa tersebut di kemudian hari. Allah sang pencipta dan pengatur telah memberikan negeri kita kemakmuran tanah yang subur, cuaca yang sedang, masyarakat yang terdiri berbagai suku, ras dan bahasa. Dengan perbedaan itu semakin membuat mereka kuat untuk hidup bersatu dalam membangkitkan negeri ini, agar kemakmuran dapat kita rasakan, yang selalu rukun, saling menghormati dan menghargai.

Ada tiga potensi yang sudah tetap pada manusia dari dahulu sampai sekarang. yakni berupa kebutahan jasmani, kebutuhan naluri, dan Akal.

Dengan diberikan akal, kita patut menjaga akal sebagai alat berpikir, karena akal sumber yang bisa mendapatkan banyak informasi dan juga menyampaikan informasi. Apalagi kita yang diberikan tugas menjadi Penyuluh Informasi Publik, yang memberikan cahaya dari kegelapan dan memberi pengaruh bagi kebangkitan bangsa.

Semuanya ini menjadi tanggungjawab semua pihak, bukan saja guru atau pendidik, tetapi orang tua juga harus menanamkan akidah Islam, dan negara bertanggungjawab bersama dalam memajukan bangsa.

Sulastmiyati
Penyuluh Informasi Publik (PIP) Kominfo RI, dan Penyuluh Agama Islam, Sabang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here