Kekerasan Senior – Junior di Pesantren dan Cara Antisipasinya

  • Whatsapp

Oleh : M. Sanusi Madli

SANTERDAILY.COM | —Baru-baru ini dunia maya dihebohkan dengan beredarnya video kekerasan yang dilakukan oleh santri senior terhadap juniornya di sebuah pesantren, video tersebut beredar cepat di kalangan masyarakat hingga meresahkan para orang tua yang anaknya berada di pesantren.

Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya yang sedang mondok, akankah mengalami hal sebagaimana isi video tersebut? Dalam video tersebut menampakkan beberapa santri senior melakukan kekerasan terhadap juniornya, penyiksaan yang dilakukan layaknya seperti preman di pasar gelap saat menyiksa orang-orang yang melawan, membangkang atau melakukan kesalahan terhadap mereka.

Sesaat setelah itu beredar kabar tentang kekerasan seorang santri senior terhadap junior nya, hal ini terjadi di salah satu pesantren ternama di Aceh, saat itu beberapa wali santri menghubungi penulis, apakah di dayah yang penulis mengabdi juga punya peluang berlaku senioritas?

Apakah anak-anak kami berada dalam posisi aman saat ini? Begitu kira-kira pertanyaan yang diajukan oleh wali santri, perihal ini menandakan betapa resahnya orang tua saat mendapat kabar dari WAG tentang berbagai cerita kekerasan di pesantren.

Beberapa hari yang lalu, penulis juga bertemu dengan salah seorang yang anaknya berada di salah satu pesantren ternama di Aceh, beliau juga menceritakan hal yang sama, tentang adanya kekerasan yang dilakukan oleh santri senior terhadap santri junior, sebagaimana yang dialami oleh anaknya sendiri, dimana anaknya sering melaporkan padanya tentang adanya tekanan dari seniornya.

Sering mendapatkan perlakuan tak beradab dari seniornya, bahkan seperti perlakuan seorang tuan terhadap budaknya, sang junior terpaksa menuruti segala perintah jika tidak ingin mendapatkan hukuman, apapun kata senior harus diikuti, jika tidak, maka akan ada konsekuensi yang harus diterima.

Kisah-kisah di atas tentu menyayat hati kita semua, hal ini tentu bukan untuk mencari siapa yang salah, bukan pula untuk saling menjatuhkan dan saling menjelekkan, tapi hal ini untuk menjadi bahan evaluasi dan renungan buat kita semua, terutama para pengelola pesantren dimanapun berada, para tenaga pendidik, bahwa ada hal yang hilang dari generasi kita, yakni akhlak dan adab.

Kalimat yang dulunya sering kita dengar, dimana yang lebih tua menyayangi yang muda, yang muda menghormati yang tua, mulai sirna, yang sejatinya senior itu menjadi contoh teladan bagi adik adiknya, menjadi guru yang mengajarkan adab, menjadi pelindung dari berbagai kerusakan, bukan sebaliknya, karena sejatinya tujuan mereka menjadi santri adalah supaya menjadi anak yang beradab dan berakhlak, bukan menjadi preman yang berpeci.

Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan agama di pesantren, yang diharapkan melahirkan generasi yang berakhlak, generasi yang beradab serta generasi yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi, generasi yang bisa merangkul semua ummat manusia, bahkan diharapkan menjadi generasi yang dapat menyatukan ummat dari berbagai golongan bahkan agama, bukan justru menjadi generasi yang menindas, generasi yang menjajah, generasi preman yang siap menerkam siapa saja, kalau ini yang terjadi, maka sudah jauh melenceng dari tujuan utama pendidikan agama.

Karena itu, penulis mengharapkan kepada setiap kita,  terutama pengelola pesantren, terutama para pengelola asrama, supaya :

Pertama,  dapat sebisa mungkin mengurangi senioritas di asrama, tidak memberikan wewenang yang berlebihan kepada santri senior, apalagi wewenang dapat memberi hukuman terhadap santri junior yang berbuat salah, karena hal ini dapat menyebabkan lahirnya jiwa penindas di kalangan santri.

Kedua, para tenaga pendidik sedapat mungkin membuka ruang dialog yang intens dengan para santri dengan penuh kekeluargaan, kasih sayang, sehingga bila ada gejala atau informasi yang mengarah kepada yang tidak baik, dapat segera di antisipasi, sehingga tidak mewabah dan membesar.

Ketiga, memberikan rasa aman kepada seluruh santri atas setiap informasi yang disampaikan, sehingga santri merasa aman dan tenang saat menyampaikan informasi, tidak ada rasa takut dan gundah, hal ini juga dapat melahirkan sikap keterbukaan antara santri dan guru atau pengasuhnya.

Keempat, melakukan pengawasan serta evaluasi berkala.

Kelima, membuat kegiatan yang menggabungkan senior dengan junior dalam satu kepanitian, sehingga tidak membeda bedakan antara junior dan senior, menguatkan kebersamaan diantara mereka akan mampu mengikis sikap senior junior.

Demikian, semoga menjadi bahan evaluasi buat kita semua, serta hal ini bukan untuk mengajari, tapi dalam rangka untuk saling mengingatkan dengan tujuan yang mulia, sehingga generasi yang lahir dari pesantren nantinya benar benar generasi yang berakhlakul karimah. Wallahu’alam….

Penulis adalah Operator SIDARA Dayah Al ‘Athiyah, Pengurus Wilayah Dewan Dakwah Aceh, Ketua LPPD Al Ishlah Aceh.

Related posts