Adat Bagi Linto Baro di Aceh Besar

  • Whatsapp

SANTERDAILY.COM |BANDA ACEH—-Aceh Besar punya banyak tradisi dan adat unik, baik tercatat atau tidak. Kali ini saya hendak mengupas adat yang melekat pada Linto Baro (Pengantin Baru), khususnya pengantin pria.

Laki-laki yang kepincut pada gadis Aceh Besar, atau sudah menikahi perempuan yang berdomisili di Aceh Besar, maka harus memahami adat di daerah istrinya tinggal. Pengantin Baru di Aceh Besar akan menanggung dua kewajiban adat pascanikah dan pesta perkawinan. Perlu dipahami, wajib di sini tidak bermakna dosa bagi yang meninggalkan. Namun pasti berfahala bagi yang melakukannya. Sebab adat tersebut berkaitan dengan sedekah. Bila banyak sedekah, banyak fahala. Tentunya dibarengi niat ikhlas.

Ternyata adat di atas juga dipraktikkan oleh masyarakat Kota Banda Aceh. Hal ini sangat beralasan, karena wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh saling berdekatan. Juga pranata sosial masyarakatnya cenderung sama. Apalagi dari sisi sejarah bahwa Banda Aceh merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Besar. Sebab itu, kedua daerah tersebut mempunyai adat dan tradisi yang persis sama.

Berikut penjelasan kedua adat yang melekat pada pengantin baru. Pertama pada saat perayaan maulid Nabi. Bagi pengantin baru, dan baru menjadi pengantin tahun pertama di kampong istrinya tinggal, maka ia wajib menyediakan hidangan maulid di menasah atau masjid.

Hidangan ini diletakkan pada tempat yang telah disediakan. Panitia maulid tidak mengambil alih hidangan tersebut. Artinya panita tidak mengundang masyarakat lain untuk menikmati hidangan itu. Sebaliknya, yang berhak atas hidangan tersebut adalah pengantin baru. Ia wajib mengundang orang lain untuk menghabiskan sedekahnya (kenduri). Terserah pemilik hidangan, mau mengundang teman, masyarakat di kampong asalnya, atau para santri di dayah. Intinya hidangan itu hanya diperuntuk bagi tamu undangan pihak pengantin baru.

Kewajiban membawa hidangan maulid hanya berlaku pada maulid pertama setelah berumah tangga. Sedangkan pada maulid tahun kedua dan seterusnya, pengantin sudah bebas dari kewajiban adat dimaksud.

Bila saat maulid pertama setelah nikah, tetapi belum menyelesaikan adat hidangan maulid dengan dalih ekonomi belum stabil, atau faktor lainnya, maka ia wajib menyelesaikan hidangan tersebut pada musim maulid tahun berikutnya. Intinya tidak boleh meninggalkan adat ini. Sebab akan membuat malu mertua dalam pandangan masyarakat setempat.

Kedua, hidangan buka puasa bersama di menasah atau masjid.

Selain kewajiban hidangan maulid, juga mesti ada hidangan berbuka puasa. Pada hidangan berbuka puasa, pengantin baru juga diberi keleluasaan untuk mengundang siapa saja agar menikmati hidangannya. Pihak panitia buka puasa bersama atau pengurus masjid tidak ikut campur terkait siapa yang akan diundang. Saya sendiri telah menghadiri beberapa kali hidangan berbuka puasa pengantin baru dan hidangan maulid. Seperti di Bayu, Lampeneurut Ujong Blang, Kabupaten Aceh Besar. Juga di Desa Ceurih, Kota Banda Aceh.

Kewajiban memenuhi dua adat dan tradisi di atas hanya berlaku sekali setelah nikah atau walimatul ‘urusy. Pada tahun berikutnya tidak dibebankan lagi. Tradisi dan adat ini bertujuan membuat pengantin lelaki mampu berbaur dengan masyarakat setempat. Terutama dengan pemuda dan tokoh masyarakat.

Jadi, siapa pun kaum pria yang sedang melirik gadis Aceh Besar dan Banda Aceh, jangan lupa pula melirik adat pascanikah yang berlaku di dua daerah tersebut.

Abu Teuming Direktur LSM Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara)

Related posts