Anjuran Aqiqah Untuk Anak

  • Whatsapp
  • Oleh : Tgk. Nasrul Zahidy, S. Sos
    (Pengajar Ilmu Fiqh pada Dayah Terpadu Inshafuddin)

Aqiqah secara harfiah adalah rambut yang ada di kepala bayi ketika dilahirkan. Sedangkan secara etimologi (syara`) ialah binatang yang disembelih ketika memotong rambut bayi. Aqiqah sangat dianjurkan di dalam syara` karena berdasarkan salah satu pendapat jika anaknya tidak dilaksanakan aqiqah, maka ia tidak diizinkan memberi syafa`at kepada kedua orang tuanya.

A. Ketentuan aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan

Dalam pelaksanaannya, disunnahkan beraqiqah dua ekor kambing untuk anak laki-laki dansatu ekor kambing bagi anak perempuan. Jika dikaji secara komprehensif, jenis hewan yang diaqiqahkan tidak harus kambing. Namun, alasan dianjurkan hewan ini, agar dapat mengambil berkat dengan lafadz yang telah warid, yakni berdasarkan hadist dari Aisyah ra.

“Rasulullah SAW. menyuruh kami untuk beraqiqah dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing bagi anak perempuan.”

Ada juga yang berpendapat bahwa yang paling afdhalitu tujuh ekor kambing atau seekor unta atau sapi atau domba atau yang sejenis dengan unta yakni badanah atau yang serupa dengan sapi.Bolehmelaksanakan aqiqah dengan seekor sapi/unta untuk tujuh orang anak. Boleh juga beraqiqah meskipun hanya beberapa anak saja yang ingin beraqiqah, sedangkan yang lain hanyaberharap dagingnya.Adapun konsekuensi awal kesunnahannya aqiqah bagi anak laki-laki itu seekor kambing.

B. Perbedaan pendapat Ulama tentang jenis hewan yang bisa diaqiqahkan

Berdasarkanibarat dari kitab fathul bari` kata “kambing”yang tersebut di dalam hadits dari Aisyah ra. tadi menunjukkan bahwa hanya kambing yang bisa menjadi hewan aqiqah. Begitu juga menurut Bandaniji (salah seorang ulama bermadzhab syafi`i). Beliau berpendapat bahwa tidak boleh beraqiqah dengan hewan selain kambing. Meskipun Imam Syafi’i sendiri tidak berpendapat demikian. Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa unta dan sapi boleh dijadikan sebagai hewan aqiqah. Hal ini bersandar pada hadist dari Thabrani dan Abi Syech yang membolehkan keduanya.

C. Melakukan aqiqah, mencukur rambut dan menyematkan nama pada anak

Pada hari ketujuh kelahiran disunnahkanmelakukan aqiqah, mencukur rambut dan memberi nama yang baik pada sang anak. Jika ia terlahir dalam keadaan meninggal dan tidak diketahui jenis kelaminnya, maka ia diberi nama dengan nama ma`lum (yang biasa dipakai) untuk anak laki-laki atau perempuan.Contohnya Thalhah, Hindun dan lain sebagainya.
Jika merujuk pada kitabShahih Bukhari, dapat dipahami bahwa jikaorang tua tidak berencana untuk mengaqiqah anaknya, maka dianjurkan menyematkan namanya sejak satu hari pasca kelahiran. Jangan sampai ditunda pemberian namanya hingga hari ketujuh.

 

Disunnahkan memberi nama indah terhadap anaknya. Anjuran ini berdasarkan hadist:

“Sesungguhnya kamu akan dipanggil di hari kiamat dengan namamu dan nama bapakmu.Maka baguskanlah namamu!”

D. Nama-nama yang dianjurkan dan yang dilarang

“Nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (H.R. Muslim). Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata:“Pada hari kiamat Allah mengeluarkan ahli tauhid dari neraka dan orang yang paling pertama dikeluarkan adalah orang yang sesuai namanya dengan nama nabi.

Hal ini menunjukkan bahwa nama yang paling baik Abdullah dan Abdurrahman, disusul dengannama-nama Allah (Asma`ul Husna). Kemudian nama Muhammad dan Ahmad. Ibnu Hajar pernah ditanya mengenai nama yang paling afdhal antara Muhammad dan Ahmad. Beliau menjawab: “Jika ditinjau berdasarkan perspektif penduduk bumi, maka Muhammad lebih baik. Karena nama “Muhammmad” lebih masyhur diantara mereka. Namun jika dibandingkan dengan penghuni langit maka lebih baik “Ahmad”. Adapun memberi nama anak dengan nama malaikat dan nabi tidak dimakruhkan.

Menurut pendapat yang mu`tamaddimakruhkan memberi nama dengan “Abdul Nabi’. Lebih lanjut, di dalam Hasyiyah Ar-Rahmani dijelaskan bahwa pendapat yang mengharamkan pemberian nama Abdul Nabi adalah pendapat lemah.

Dimakruhkan juga memberi nama anak dengan sesuatu yang memungkinkan dapat ditiadakan (`adam) atau bisa diadakan (wujud) seperti: Barakah, Rahmat, Ghanimah, Nafi`, Yassar, Harb, Marrah, Syaithan dan lain-lain. Nama-nama tersebut bisa saja ada atau terkadang tiada. Andaikan seseorang bertanya “Dimana Barakah?” Lantas kita menjawab: “Ia sudah pergi”. Pun jika ada yang menanyakan “Dimanakah Syaithan?” lalu seseorang membalas: “Ini si Syaithan”. Akhirnya, akan bermunculan persepsi negatif dalam memahami maknanya.

Sangat dimakruhkan memberi nama anak dengan Sayyidul Ulama`, Saiful Ulama`, Saidun Naas, Sifful Ulama`, Sifful Arab, Siffun Nas dan Sifful Qudhah.

Diharamkan menyemati nama anak dengan Abdul Ka`bah, Abdul Naar, An-Naar, Abdul `Aliy, dan Abdul Hasan karena secara lafal nama tersebut menunjukkan kelunturan aqidah muslim. Begitu juga halnya dengan Aqdha Qudhah, Malikul Amlak, Hakimul Hukkam dan lain sebagainya. Akan tetapi, tidak diharamkan qadhi qudhah karena nama itu makruh menurut pendapat yang mu`tamad.Tak hanya itu, Diharamkan pula memberikan namanya seperti Rafiqullah, Jarullahkarena alasan di atas. Begitu juga Abdul Mannan, Abdul Uzza karena keduanya nama patung.Sehingga dapat dipahami, status pemberian nama berdasarkan nama berhala lain yang disembah juga dihukumi haram.

Namun tidak dimakruhkan memberi nama Abdun Nuur berdasarkan firman Allah:

Peringatan!
Nama-nama yang telah diharamkan apabila sudah diberikan maka wajib diubah atau diganti.

E. Ruang lingkup aqiqah

Aqiqah diperintahkan kepada muslim yang memiliki kewajiban memberi nafkah kepada anaknya walaupun ia faqir. Terlebih dari hartanya sendiri bukan dengan harta sang anak (apabila anak tersebut memiliki harta). Landasan hukum aqiqah sendiri adalah sunah, sehingga jika menggunakan harta anak, maka harus dibayar.

Ibu tidak diperintahkan aqiqah kecuali ketika suaminya jatuh miskin.Tak sebatas itu, disunnahkan bagi si ibu untuk menunaikan aqiqah terhadap anak zina, jika tidak ada aib. Namun konteks yang harus dicermati adalah jika status anak zina ini merdeka. Apabila anak tersebut hamba sahaya tidak sunatkan aqiqah bagi sang ayah walaupun hidup dalam kegelimangan harta (kaya).Hal ini disebabkan karena nafkah anak tanggungan tuannya. Meski begitu, tidak pula disunnahkan aqiqah kepada tuannya.

Adapun anak yang diaqiqahkan adalah anak yang berada dalam gua garba sang ibu sampai masa tiupan ruh padanya walaupun ia keguguran.Maka tidak luput sunnah aqiqah karena meninggal sang anak. Adapun apabila anak sudah sampai umur balighsedangkan belum pernah diaqiqah untuknya maka berpindah perintahnya dari ayah kepada anak tersebut.

Disunnahkan tidak dipecahkan tulang binatang yang diaqiqahkan, tetapi dipisahkan anggota-anggotanya karena sebagai sampena agar selamat anggota tubuh anak yang diaqiqahkan. Disunatkan pula daging aqiqah dimasak sama seperti walimah yang lain kecuali bagian kakinya (lebih baik kaki kanan).Ada baiknya, bagian tersebut diberikan mentah (belum dimasak) kepada yang membantu persalinan. Lebih afdhal lagi, masakan aqiqah diracik dengan bumbu yang manis agar manis akhlaknya pun karena Rasulullah SAW. suka madu dan hidangan yang manis-manis. Disunnahkan pula masakannya diberikan untuk orang-orang fakir.

  • Whatsapp

Related posts