Shalat Meyehatkan Jiwa

  • Whatsapp
  • Oleh Jufri Aswad, S. Ag

Banyak ayat-ayat Al-qur’an yang membahas tentang makna dan hakikat hidup manusia. Hakikat hidup manusia merupakan manifestasi dari tujuan penciptaan dan pertanggung jawaban dari siklus kehidupan selama berapa umur seseorang diberikan kesempatan untuk mendiami serta beraktifitas di dunia.

Tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah untuk mengabdi dan menghambakan diri kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang wajib disembah. Manusia dilarang untuk membuat kerusakan di bumi sehingga dapat menjauhkan diri dari anugerah dan rahmat serta dapat mendatangkan kemurkaan dari Allah Swt.

Read More





Tujuan hidup dan Penciptaan Manusia
Penegasan Allah Swt tentang hakikat dan tujuan hidup manusia adalah “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Az-Zariyat, 51: 56), “ A pakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah, 75: 36), “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah denganmemurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah ,98 : 5)

Berdasarkan beberapa kutipan ayat al-qur’an di atas jelas bahwa tujuan diciptakan manusia agar beribadah kepada-Nya. Menurut Imam Syafi’i, manusia tidak dibiarkan bebas berbuat sekehendak hatinya.

Mereka diperintahkan untuk melaksanakan inti ibadah yakni mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Mereka yang mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya tentu akan mendapat pahala.

Sebaliknya, mereka tidak mau melaksanakan perintah dan berbuat apa yang dilarang Allah Swt tentu akan mendapat siksa.

Masyarakat Islam merupakan sebuah masyarakat yang terikat dengan nilai-nilai ilahiyah, dalam tujuan dan orientasi kehidupan. Shalat merupakan sebuah ibadah yang mengandung nilai ilahiyah yang hubungan orizontal antara hamba dan khaliknya. Ibadah shalat menjadikan seorang hamba komitmen selalu berada dalam perjanjian dengan Allah.

Shalat adalah kamar rohani dimana ruh membersihkan diri dan hati manusia bersuci lima kali setiap kali, maka tidak tersisa lagi sesuatu kotorannya. Yusuf Al-Qardhawy mengatakan shalat dengan dampak spiritualnya, zikir-zikirnya, tilawah dan do’a-do’anya merupakan pendidikan terbaik bagi jiwa dan dapat melembutkan nurani.

Menurut Hasbi Ashshiddieqy, bahwa “Ta’rif yang melengkapi hakekat dan rupa shalat adalah berhadap hati dan jiwa kepada Allah Swt yang mendatangkan rasa takut serta patuh kepada kebesaran dan perintah-Nya dengan melakukan gerakan dan ucapan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam”

Shalat menimbulkan ketentraman jiwa
Shalat membentuk budi pekerti. Orang yang rajin melaksanakan shalat bearti temasuk golongan hamba yang mempunyai satu pengakuan atas kebesaran ilahi. Manusia adalah kecil dan lemah.

Pemahaman ini akan menimbulkan refleksi suatu akhlak yang utama, yaitu rendah hati sebagai salah satu budi pekerti yang penting dalam kehidupan dan pergaulan. Shalat akan menyucikan jasmani dan rohani rohani.

Shalat membersihkan manusia berbagai kotoran, yakni bersih badan dan pakaian dari hadats dan najis, bersih dari dosa, bersih jiwa dari akhlak yang tercela dan bersih pikiran hanya mengingat Allah Swt.

Bertambahnya usia tentu berbagai permasalahan hidup juga mengenyangkan aktifitas kehidupan. Permasalahan-permasalahan hidup sangat mempengaruhi beban mental seseorang. Ada beberapa contoh diantaranya masalah ekonomi, konflik dalam kehidupan sosial, dan menghadapi masa tua.

Memelihara Shalat

Hasan Al-Banna , berpendapat dengan memelihara shalat akan timbul perasaan halus, timbul suatu kesadaran yang tinggi, ketentraman jiwa, rasa solidaritas dan menambah muraqabah (instropeksi) kepada Allah Swt. Orang yang selalu mendirikan shalat akan memiliki sifat sabar, tekun dan mantap jiwanya.

Manakala ditimpa suatu cobaan (musibah) diterimanya dengan penuh kesabaran hati, karena memang sudah terbiasa dengan sikap sabar dan jiwanya menyatu dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah shalat. Orang-orang yang khisyu’ dalam shalatnya memperoleh keberuntungan yang nyata dari Allah Swt.

Mendirikan shalat pada dasarnya suatu proses komunikasi antara hamba dengan Khaliknya. Allah akan menerima ibadah shalat tersebut bila dikerjakan dengan benar, ikhlas, dan penuh pengabdian kepada-Nya.

Allah Swt akan melepaskan beban-beban pikiran dan kesulitan hidup yang dialami oleh seorang hamba di saat mereka mendirikan shalat. Dan mengabulkan do’a-do’a yang dimohonkan oleh seorang hamba ynag ikhlas penuh berharap kepada Allah Swt. “ Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan, (QS. Al-Fatihah : 6-7)

Apapun status sosial dalam masyarakat, jabatan apa yang kita miliki, sebanyak manapun harta yang kita kejar, dan seindah apapun kesibukan yang kita kerjakan.

Namun itu semua tidak bearti apa-apa dan mendatangkan mamfaat abadi bagi kehidupan kita kalau bila waktu azan berkumandang kita tidak bergegas mendirikan shalat.

Dan kita termasuk kepada golongan orang-orang yang meringan-ringan kan syari’at Islam dan melalaikan shalat yang telah diperintahkan kepada umat Islam untuk wajib mendirikannya dalam sehari semalam lima waktu.

Manusia tidak menyadari bahwa semua nikmat yang dia miliki baik jabatan, kekayaan, fasilitas kehidupan, dan meningkatnya status sosial yang ia peroleh merupakan anugerah dan pemberian Allah Swt. Termasuk orang-orang sombong bila azan berkumandang umat Islam tidak bersegera melaksanakan shalat fardhu, dan lebih mementingkan aktifitas rutinitas yang setiap hari ia kerjakan. Allah Swt tidak menyukai orang-orang sombong dan membanggakan diri.

Nilai Persatuan pada Shalat Berjama’ah
Dalam ajaran Islam shalat berjama’ah mempunyai nilai ibadah yang sangat tinggi dibandingkan dengan shalat yang dikerjakan sendiri. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa “Shalat dengan jama’ah itu melebihi utamanya shalat sendirian dengan duapuluh tujuh derajat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Didalam shalat berjama’ah terdapat nilai kebersamaan mengwarnai kehidupan. Dimana antara jama’ah saling mengenal dan bersilaturrahmi,penuh keakraban, dan penyerahan diri kepada tujuan yang sama yaitu kepada Allah Swt.

Masjid adalah rumah Allah yang tidak mengenal status sosial dalam penempatan jama’ahnya. Pada pelaksanaan shalat berjama’ah di masjid, jama’ah membentuk barisan rapat-rapat menunjukkah semangat persatuan dan kesatuan.

Menurut Amien Rais dalam bukunya Tauhid Sosial, hikmah shalat berjama’ah itu memberikan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan. Dimana tidak ada perbedaan status sosial. Seorang rakyat biasa berhak menempati barisan paling depan karena dia merupakan yang paling awal datang ke masjid.

Disamping itu dalam shalat berjama’ah mengandung ajaran kebersamaan dan adanya nilai-nilai kepemimpinan dan adanya orang yang menjadi pengikut. Pengikut imam berhak berhak menegur imam sebagai pemimpin shalat berjama’ah bila melakukan kesalahan dalam pelaksanaan shalat, misalnya bacaan dan gerakannya.

Alangkah indahnya kehidupan bermasyarakat bila semua kita berkumpul di mesjid. Memakmurkan mesjid bearti menghidupkan rumah Allah dan memupuk semangat persatuan dan kesatuan dikalangan umat Islam.

Masjid sebagai sarana berkomunikasi antar jama’ah dimana ukhuwah terjalin dan berbagai permasalahan umat dapat diselesaikan di mesjid.

(Penulis adalah Guru PAI SMA Inshafuddin Banda Aceh, Alumnus Fadak IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Alumnus Fakultas Tarbiyah Unmuha Aceh))

Related posts