Si Man dan Si Alu

  • Whatsapp

Oleh  : Abu Teuming         SANTERDAILY.COM | BANDA ACEH–-Kali ini, saya hendak mengurai kondisi dua anak manusia. Si Man dan si Alu. Keduanya tidak saling kenal, bahkan tinggal berjauhan. Satu di ujung barat Aceh, yang satunya di ujung timur Aceh. Si Man tinggal di Meurandeh, Aceh Tamiang. Dan si Alu tinggal di Banda Aceh.

Bagi warga Banda Aceh dan Aceh Besar, atau yang pernah tinggal di Banda Aceh, atau mahasiswa di kawasan Darussalam, pasti tidak asing dengan nama Alu. Bila ada mahasiswa dua kampu bergengsi itu tidak mengenal si Alu, berarti Anda mahasiswa tahun 2011 ke atas.

Si Alu, pria berambut gondrong, rambutnya keras tak terurus. Sering mondar mandir Darussalam – Lamnyoeng. Ia jarang menggunakan baju. Dan hanya ada celana pendek atau anduk kecil melilit di pinggang. Entah berapa tahun tak pernah dicuci. Kebiasaannya duduk di trotoar jalan seputaran kampus UIN Ar-Raniry dan Unsyiah. Sesekali terlihat duduk di tepi jalan lintas Lamnyoeng. Sayangnya, saya tidak sempat foto bareng dia, sebab kala itu androit belum buming. Sepertinya saya masih gunakan handphone jadul, alias butut.

Namun saya ingin pastikan, si Alu yang saya maksud bukan pria yang kriterianya telah saya sebutkan di atas. Tetapi Si Alu di kawasan lain dalam wilayah Banda Aceh. Namun fikirannya tidak pas atau sakit. Saya tak ingin menyebut mereka gila. Tetapi orang sakit. Bedanya, si Alu yang saya maksud berpenampilan menarik. Usianya muda, tak lebih dari 19 tahun. Pakaiannya bersih, dan kerap diurus oleh keluarga. Bila tidak kenal dirinya, orang akan mengira dia pria berakal sehat lagi ganteng. Wajahnya memang tampan, namun akalnya tidak setampan rupa.

Di kawasan Banda Aceh, ada sebuah kampong yang mengadakan pengajian rutin setiap malam selasa, seusai Magrib. Saya (penulis), kerap hadir dalam majlis ilmu itu. Si Alu, juga tidak pernah absen. Setiap malam selasa, ia hadir mengikuti pengajian bersama.

Seperti jamaah lainnya, ia juga berpenampilan muslim, rapi, juga ada peci di kepala. Padahal para jamaah tau, bahwa si Alu sakit, akalnya tidak bisa berfikir normal. Sekali lagi, saya tidak ingin menyebutnya gila, namun orang sakit.

Setiap pengajian, si Alu selalu maju ke depan, bahkan tepat di meja tempat teungku duduk. Tempat teungku memberi penjelasan isi kitab. Sedangkan para jamaah pengajian penuh di dalam masjid.

Sesekali, si Alu terlihat loncat-loncat ringan di hadapan teungku. Mengangkat lengannya, seolah ingin terbang. Pengajian terus berlanjut, tanpa ada yang peduli dengan aksinya. Kadang ia duduk sendiri di hadapan teungku, untuk mendengar penjelasan agama. Entah dia mengerti apa yang disampaikan, atau tidak sama sekali. Bila suda bosan duduk, ia bangun dan berdiri untuk melakukan salat. Entah salat apa yang ia lakukan. Padahal waktu Magrib sudah lewat, dan waktu Isya pun belum tiba. Para jamaah tidak menghiraukan kelakuannya. Tak ada pula yang marah dan mengusirnya dari masjid. Jamaah tetap fokus pada penjelasan teungku.

Ketika sesi pertanyaan, si Alu bangun, seakan ingin bertanya. Tetapi tidak demikian, ia bersikap seperti biasa, berdiri dan duduk tidak tetap.

Pernah teungku tersenyum melihat gelagat si Alu, dan berkata pada jamaah: ini lah, Allah telah membebaskan kewajiban salat baginya, namun ia tetat rajin ikut pengajian dan salat berjamaah.

TOKO CCTV
Melayani Penjualan & Pemasangan CCTV / Security System Wilayah Aceh
+62812 6461 7339

Jasa Pembuatan Website SEO Personal / Instansi / Kantor / Sekolah
+6252 1150 5391