Aku Pergi

  • Whatsapp
  • Oleh : Ida Ayu Komang—Fiksi

‘Untukmu yang entah mencintai atau membenciku.

Kita sudah terlalu sering berdebat. Kita selalu mewarnai hari dengan makian. Kita hampir tak pernah tak bertengkar. Kita acapkali saling merendahkan. Kita yang berubah sangat jauh dan asing. Kita yang dekat di mata namun jauh di hati. Kita yang ketika tak bertengkar hanya diam. Kita yang terikat namun tak menyatu. Kita yang kian hari kian menjauh.

Read More





Tak ada lagi rindu. Hilang sudah rasa cemburu. Lenyap semua cinta. Melayang sudah asa. Tak tersisa.

Kita saling menyiksa. Memaksa tertawa. Memaksa bahagia. Berusaha tersenyum. Sebisa mungkin terlihat mesra.

Aku sudah sangat lelah. Engkau pun terlihat sama. Aku terlalu muak. Engkau pun merasakan hal serupa.

Bodohnya kita. Masih saja berusaha bertahan. Padahal hati remuk redam. Jiwa tak tenang. Pikiran tak karuan.

Aku tak lagi mampu. Senjatamu lebih ampuh. Kuputuskan menyerah. Kuyakinkan untuk mundur. Arah kita berlawanan.

Aku pergi. Kuyakin engkau tak bersedih. Tak pula kutinggalkan pedih. Sebab ini yang kau nanti. Dan, jauh di lubuk hatimu, engkau pasti berterima kasih.’

Diana tak kuasa menitikkan air mata. Kala kesedihan melanda, hanya ini yang mampu ia lakukan. Mengutarakan isi hati dan beban di kepala ke dalam tulisan.

Diana menutup laptop dan meninggalkannya begitu saja di meja kerja suaminya. Ia bergerak menuju kamar tidur.

Jam kuno peninggalan orangtuanya berdentang sekali. Diana menarik napas dalam. Ditariknya selimut untuk menutupi seluruh tubuh. Begitu ia ingin memejamkan mata, suara mobil memasuki halaman rumah.
Selanjutnya, suara daun pintu terbuka dan langkah kaki mendekat ke arahnya.

“Woy! Bangun! Nggak ada ahlak kamu, ya? Suami pulang nggak disambut!” Tangan kokoh orang yang baru saja datang itu menarik selimut yang menutupi tubuh mungil Diana.

“Mas, apaan sih, kamu?” Diana menarik kembali selimut yang ujungnya ada di tangan sang suami, Rendra.

Diana kalah cepat. Rendra mencampakkan selimut itu ke lantai. Selanjutnya, secepat kilat ia menjatuhkan tubuhnya ke Diana dan mencumbunya. Bau alkohol sangat menyengat dari mulut Rendra. Diana berusaha melepaskan diri. Namun, tenaga Rendra jauh lebih kuat.

“Lepas, Mas. Kamu mabuk.” Diana memukul-mukul punggung suaminya dengan kepalan tangan.

Rendra sigap menghalau, mencengkeram pergelangan tangan Diana dan meletakkannya di samping kepala hingga membuat Diana tak bisa berkutik.

Diana begitu jijik melihat pria di atas tubuhnya ini. Matanya nyalang. Dadanya bergemuruh hebat layaknya gunung berapi yang menggelegak ingin menumpahkan lahar. Entah dari mana datangnya keberanian itu, ia meludahi wajah Rendra.

“Bangs*t!” Rendra melepas cengkeraman tangannya dan menghapus air ludah di wajah. Kemudian, dengan cepat ia menampari pipi sang istri. “Kamu pikir kamu siapa, hah? Kamu ini hanya pelacur yang kuambil dari jalanan. Dasar betina tak tahu diuntung!” Tak puas, Rendra meninju wajah Diana berulang kali.

*****
Diana sadar dari pingsan. Kepalanya terasa sangat berat. Rahangnya terasa sangat sakit. Dia memegang kepala dan rahang dengan erangan menahan sakit.

Ia perlahan menarik tubuh ke belakang, duduk bersandar di kepala ranjang. Kepalanya menoleh ke kiri dan melihat Rendra tidur lelap dengan tubuh tertelungkup. Air matanya keluar tak terbendung.

Tanpa suara, ia turun dari ranjang. Diambilnya koper di atas lemari pakaian dan memasukkan beberapa helai pakaian.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Diana menarik koper dan memutuskan pergi menjauhi neraka yang setiap hari membakar tubuhnya.

Ia tak punya tujuan. Yang pasti, berlari sejauh mungkin dari sang suami. Pria yang menikahinya dua tahun lalu kala ia masih menjadi wanita penghibur di sebuah klub malam.

Diana memukul dadanya. Ia merasa sulit bernapas. Sesak menyelimuti. Lalu, terdengar azan Subuh berkumandang.

“Ya, Allah. Aku terlalu lama meninggalkanmu. Masih adakah pintu tobat untukku, ya Rabb?” Diana sesenggukan, menangisi dosa-dosanya.

Ia memutuskan untuk menuju masjid, melaksanakan sholat Subuh untuk pertama kalinya selama hampir sewindu ia tinggalkan.

Berlari ia mendatangi masjid. Ketika hendak menyeberang, tiba-tiba saja sebuah truk tanki minyak melaju dengan kecepatan tinggi menghantamnya. Ban truk melindas tubuh Diana hingga tak lagi berbentuk. Kepalanya pecah hingga isi kepala berhamburan keluar. Begitupun dengan isi perutnya. Pecah berantakan.

Diana telah pergi … untuk selamanya.

END

Related posts