Tentang Kasus Saree

  • Whatsapp

Oleh : Abu Teuming*
SANTERDAILY.COM | BANDA ACEH—Saya memberi judul artikel ini “Tentang Kasus Saree”. Berbeda dengan banyak media yang langsung membuat judul secara jelas, misal “Remaja Mesum di Masjid Saree”. Terlebih media di luar Aceh. Khusus media adiknya Serambi Indonesia, yaitu Prohaba, saya tak menemukan judul yang menyemat istilah “masjid” atas kasus remaja mesum di atap masjid. Padahal selama ini masyarakat menganggap “Prohaba” sebagai koran mesum. Sebab banyak berita mesum di koran itu. Artinya, Prohaba tak ingin membuat judul yang begitu bombastis. Apalagi hendak memberi kesan syariat Islam di Aceh pantas diperolok.

Baca Juga : Rumah Penjaga SD Terbakar.

Kembali ke persoalan. Tertangkapnya pasangan mesum di atap masjid memang benar adanya. Jangan hanya melihat itu sebagai sebuah perbuatan biadab, walaupun ini sangat biadab. Apalagi hendak memvonis “apa juga di Aceh berlaku syariat Islam, jika perbuatan hina itu masih ada?”. Sekali lagi, jangan mengkambing hitamkan hukum Allah.

Ada sisi lain yang penting untuk diperhatikan. Penangkapan pelaku mesum menjadi bukti bahwa pelaksanaan syariat Islam terus meningkat di Aceh. Masyarakat Aceh makin sadar akan pentingnya hukum Allah di bumi Serambi Mekah. Sebagian besar masyarakat akan tetap waspada pada tindakan asusila yang dilakukan oknum tertentu.

Baca Juga : AMPD Gelar Aksi Damai Tolak Money Politik di Depan Gedung DPRK Bireuen

Karena tingginya kepedulian masyaramat Aceh terhadap syariat Islam, maka para pelaku maksiat makin sulit menemukan tempat yang aman dari mata orang lain, demi melancarkan aksi bejatnya. Lalu mereka harus mencari lokasi aman dan jarang dicurigai oleh publik, yaitu masjid.

Mengapa di masjid? Ada anggapan bahwa masjid tempat ibadah dan sakral dalan ajaran Islam. Orang-orang jarang mencurigai aksi mesum di masjid, kecuali pencurian kotak amal yang kerap terjadi.

Di Aceh, ladang-ladang maksiat terus menyempit. Hotel bukan alternatif terbaik untuk lokasi mesum, apalagi wong cilik, tentu tidak mudah bagi mereka untuk masuk hotel, yang kadang kala dompetnya kosong, buku nikah pun tak punya. Rumah kos dan tempat kontrakan di Aceh terus mendapatkan pengawasan masyarakat serta aparat desa, karena mereka tidak mau citra baik kampongnya rusak akibat ulah anak kos.

Realita tersebut membuat para pelaku maksiat harus cerdas memilih lokasi shuting (mesum), agar aman, nyaman, dan sukses acaranya. Dan itu hanya bisa didapatkan di masjid.

Setelah kejadian “Kasus Saree”, sikap waspada terhadap abang-abang dan adik-adik yang lagi kuat arus bawah (birahi) harus ditingkatkan. Bukan hanya menjaga kesucian masjid dari perbuatan haram dan hina, juga menjaga setiap jengkal tanah Aceh agar tidak kembali terulang kasus serupa.

*Abu Teuming
Direktur LSM Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara)

Related posts