Air Mata

  • Whatsapp
  • Oleh : Hj.Darliana, S.Ag,M.Ag
    Kepsek SMPN 2 Mesjid Raya,Aceh Besar/Pengurus DPW AGPAII Aceh

Opini –  Bawang merah, tentu semua kita tahu sama tahu tentang biji-bijian yang satu ini karena dia merupakan bumbu utama disetiap masakan di dapur ibu-ibu saban hari, hampir semua dari kita mengeluarkan air mata ketika mengupas bawang, wabil khusus bawang merah pasti mengeluarkan ait mata, kenapa ya? bawang merah kok di tangisi, itukan pertanyaannya? ini bukan karena kita merasa sedih saat mengiris bawang. Namun, ini reaksi yang normal terjadi pada saat bawang dikupas, itu yang kita alami dan pahami di kenyataannya.

Kita dapati simpulan teori dari referensi bacaan bahwa menurut para ahli, ada senyawa kimia yang terkandung dalam bawang, sel kulit bawang itu mengandung Asam sulfur lunak yang mengakibatkan iritasi pada syaraf retina mata kemudian kita merasakan sensasi pedih dan air matapun keluar sebagai respons untuk mengurangi iritasi tersebut.

Read More





Jika dalam keadaan yang cukup, air mata bagus untuk membersihkan mata dari debu dan kotoran, tapi jika berlebihan, maka akan terjadi iritasi. Tanpa air mata, betapa perihnya mata kita, karena tak ada system yang melindungi, Alhamdulillah, tentang fenomena menangis, yang menjadi bagian dari kehidupan manusia, ternyata hadir tidak secara kebetulan, menangis sebagai rival abadi tertawa, ternyata telah di atur oleh sang Maha Karya, Dialah Allah yang menjadikan bawang merah memiliki zat tertentu yang bisa mencucurkan air mata. “Dan bahwasanya Dia lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” (QS. An-najm: 43).

Dia lah yang menjadikan tangisan sebagai nyanyian perdana malaikat-malaikat kecil kita saat lahir ke alam fana ini, Dia lah yang mengambil kembali orang yang kita cintai sehingga kita menangis perih, Dia lah yang menimpakan musibah sebagai ujian atau sebagai peringatan yang membuat kita menangis pilu, bahkan Dia pula yang menghadiahi kita dengan berbagai kebahagiaan istimewa, yang membuat kita juga menangis dalam syukur.

Dalam lembar-lembar kehidupan yang kita jalani, banyak sudah tangisan itu hadir, baik saat kita bayi, saat kita kecil minta dibelian mainan tidak dipenuhi, saat kita lulus atau tidak lulus ujian, saat kita di marahi guru, pun saat kita remaja dan dewasa, saat (sebagian) kita putus cinta, saat kita kecurian, saat orang yang kita sayangi meninggal pergi untuk selamanya, dan saat-saat yang lainnya.

Sebagai bagian keseimbangan hidup, biarkan saja tangisan itu hadir, lepaskan saja untuk menjalin harmonisasi dengan tertawa, sehingga irama hidup kita terasa menjadi indah.

Ternyata tangisan ada yang tak sekedar tangisan, ada air mata yang membekas, air mata yang menolong, air mata kecewa yang hadir di kehidupan kita, dialah air mata karena takut kepada Allah swt, sang pemberi nikmat air mata. Air mata ini, tak akan kering seiring waktu, tapi ia tetap abadi, dan kelak yang akan menyelamatkan orang yang telah mengeluarkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Air mata keabadian inilah, yang telah menghiasi kehidupan para nabi, dan shalifus shalih, air mata ini pula yang membuat Abu bakar ra, sering tak jelas membaca ayat saat mengimami shalat jamaah, air mata ini yang menjadikan Umar ra, pemimpin besar yang jika ia berjalan, syetan-syetan lari tunggang langgang, air mata ini juga yang lebih menarik hati Abdullah bin Umar ra, sehingga ia mengatakan “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”. Air mata ini pula yang kalau para penguasa tahu kenikmatan dan keagungannya, niscaya mereka akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk merebut air mata keabadian ini.

Tapi, di manakah air mata itu kini? jaraknya sudah begitu jauh, kita berada di satu lembah, dan ia di lembah lainnya. Kapan terakhir kali kita menangis karena takut dan penuh harap di hadapan Allah swt, bukankah kita banyak mengeluarkan air mata untuk menangisi dunia yang kita percaya tidak abadi? Kapan terakhir kali kita menangis saat membaca Al-Qur’an dengan ayat-ayat ancaman jahannanNya? ataukah Al-Qur’an telah kita terlantarkan, demi mengejar kesuksesan semu? atau hati kita yang keras, tertimbun maksiat yang setiap hari kita lakukan, menghiasi siang dan malam, dalam diam, dalam lisan, dalam pandangan, pendengaran, dan dalam langkah tangan kaki kita, Ataukah Al-Qur’an hanya sebagai hiasan, kembali di pinggirkan setelah ramadhan berlalu. Ataukah tetap membaca, tapi dengan porsi yang lebih sedikit dari pada waktu untuk whatsappan, facebookan, bersenda sia-sia tanpa makna dengan teman-teman dst.

Zat Maha Karya yang menciptakan langit dan bumi, menggilirkan siang dan malam, telah menyiapkan syurga dan neraka, masih berkasih sayang dengan kenikmatan yang begitu banyak kita nikmati, tetaplah bersenda syahdu dengan surat cintaNya. Jangan tinggalkan dia, tetaplah bersandar kepadanya sebagai pelipur lara dalam kefanaan ini, ketika kita membuka lembaran demi lembarannya, ada petunjuk jalan kehidupan yang semoga kita di anugrahiNya untuk bisa menemukannya, menikmatinya dalam tangis dan harap.

Oleh karena itu janganlah kita sibukkan diri dengan harta, gelar, pangkat, jabatan, kedudukan popularitas dan penampilan semua itu adalah hanya casing belaka tidak akan bernilai apa-apa tanpa taqwa. Selagi nyawa masih dikandung badan Mari kita pantaskan diri untuk meraih syurga Allah.

Menangislah, menangis dalam fana, membuat kita tertawa dalam kekal, kelak di Yaumul Huzni. Dan banyak tertawa dalam kesementaraan, akan menempatkan kita menangis dalam keabadian.
Semoga Allah mudahkan, mari kita berikhtiar. Allahul Musta’an

Related posts