Bagi Muslim Amerika, Sosial Distancing Bukan Sebuah Penghalang Untuk Beraktifitas di Bulan Ramadan

  • Whatsapp

Penulis : Abu West Al Jeuniebi, Mahasiswa Pascasarjana di HACC Harrysburg University USA dari Aceh

FEATURE—Dari balik jendela saya melihat serombangan orang bermasker turun dari mobil di sebelah apartement saya tingal, mereka menelpon tuan rumah dan berdiri 1 meter jauh dari rumah yang di tuju pemandangan ini sudah sering saya lihat setiap hari.  karena Billing Apatement tetangga saya kebanyak di huni oleh pasangan lansia setiap sore anak cucu mereka datang menjeguk, Tempat kami tingal menjadi pilahan Lansia karena lokasi apartemen yang kami tinggal dalam komplek Rumah sakit.

Read More



Bangunannya milik Rumah Sakit UPMC Pinnacle Community , sebuah rumah sakit terbesar di Pennsylvania. bahkan billing kami dua pintu dipakai oleh mahasiswa praktek di rumah sakit dari berbagai University Frendshief Pinnacle. setiap 6 bulan sekali Penghuni berganti dengan mahasiswa baru kami saja yang bertahan sebagai ahasiswa abadi disini. sedangkan satu Barak apartement berjumlah 4 pintu saja. jadi barak saya tinggal adalah barak mahasiswa karena saat mengontrak juga 2 tahun yang lalu berstatus mahasiswa.

Sedangkan mereka yang datang silih berganti tinggal di barak apartemnet kami selalu menyapa kami setiap masuk dan pergi  setelah selesai studi semester mereka di rumah sakit UPMC Pinnacle .

selain itu setiap belanja ke supermarket dan di tempat umum , disini kita di wajibkan keluar mobil menggunakan masker.  bila tanpa masker kita tidak bisa masuk ke toko walau hanya untuk membeli sebungkus rokok. peraturan antri juga berlaku setiap sepuluh orang keluar super market sepuluh orang masuk. kadang antrian sampi 5 jam bila kita datang kesiangan.

Kami biasa datang pagi – pagi setelah shalat subuh dan joging sebentar di komplek apatement karena kerja dan sekolah masih libur akibat lockdown , setelah itu langsung ke supermarket untuk menghindari antri yang panjang dan lama.

Kemerin Pada malam Persiapan nuzulul Qur’an , Abu salah seorang petua Aceh menelpon saya beliau berhajat untuk khanduri malam nuzulul Qur’an dan buka puasa bersama , karena setiap tahun kami di Amerika merayakan semua adat istiadat Aceh, mulai khanduri maulot , isra’ mi’raj  sampai tet apam dan peget timphan hari raya.

Bahkan shalat jama’ah dan  buka puasa bersama di lanjutkan taraweh dan tadarus selalu ada setiap ramadhan di gilir satu hari satu rumah, kadang kami dapat giliran  2 kali dalam sebulan Ramadhan, kegiatan ini bertujuan untuk bisa taraweh setiap malam sampai satu bulan penuh ramadhan.  hanya puasa tahun ini saja tidak kami lakukan karena terhalang wabah covid 19 di Amerika.

Pada sore hari 17 ramadahn kami pun datang untuk buka puasa bersama , walau tidak semua datang dengan alasan sosial distarcing dan takut berkutu kalau berdekatan  mungkin juga alasan bisa di terima, kami menghabiskan sore bersama , buka puasa dan taraweh serta tadarus sampai selesai sahur baru pulang.  ini terbukti bahwa lockdown dan sosial distarcing bukan sebuah halangan untuk beraktifitas bersama bagi kita yang belum terkontaminasi corona, lain hal nya apabila dalam lingkungan kita ada yang sakit dan terjangkin virus , yang sakit saja yang perlu di isolasikan.

Di lingkungan saya tinggal kebanyakan Lansia yang sudah pensiun. mereka asyik aja klo siang hari jonging di luar rumah.  yang beda saja kalau saya main membawa anak saya bermain sedangkan mereka bermain dengan anjing mereka itu saja.  tidak bermasker keculi mereka keluar dari komplek apartemen  dan menelusuri jalan yang di lewati mobil baru kami bemasker untuk menghindar debu dan virus yang terbawa oleh mobil yang lalu lalang. (Teuku Muhammad)

Related posts