Hujan Bulan Juli

  • Whatsapp

Oleh: Muklis Puna

PUISI–

Read More



Seperti percikan api di belantara negeri
Di bawah gambut lembut engkau membara
Dari atas, asap – asap tipis tersamar mata
Lama sudah namamu mengambang di udara

Pelan tapi pasti,
Kau bakar diri menerangi dunia
Tak ada yang peduli,
Hanya beberapa yang menyapa
Suaramu tersangkut di kerongkongan
Napasmu diberangus isu
Kesepian dalam derita mendera

Para penguasa tak bergeming
Karena tak ada popularitas yang dapat diretas
Aku ingat betul ketika kita bersua
Saat ujung kakimu mencium teras gubugku
Kain batik motif papua masih kusimpan
Barang seni, rumah adat tetap kupajang

Adalah penyesalan tak terbayar
Ketika kau meradang,
Aku tak sempat bersapa
Ketika kau teriak historis
Aku alpa memahamimu

Kini kau terbaring di ujung negeri

Namamu menguap dimana mana
Mobil- mobil pemadam berhamburan
Mengendong air ribuan barel
Menyiram di atas gambut,
lalu mengumbar lewat udara

Aku terpaku lesu dan bisu
Entah ada popularitas di balik nama mu
Beribu – ribu tamu berkunjung saat kau membisi dan kaku

Kawan…
Lewat sajak berbaris diksi
Aku berkunjung padamu
Engkaulah sejatinya guru

Lhokseumawe, 7 Juli 2020



Related posts

Paris

Paris