Kios Tetangga

  • Whatsapp

SANTERDAILY.COM | ACEH BESAR——-

Kios Tetangga

Terinspirasi dari sebuah tulisan mini. Ntah dari mana asalnya, dan tak dikenal penulisnya. Yang jelas pesan kecil itu sungguh menyentuh hati.

Era milenial berhasil mempengaruhi gaya hidup manusia. Memang manusia cenderung pada suatu hal mewah. Status sosial kerap diperebutkan oleh setiap insan, guna menunjukkan dirinya memiliki kelebihan ketimbang yang lain.

Dahulu gaya hidup hanya berpatok pada kendaraan, rumah mewah, dan alat komunikasi.

Kini, berbelanja menjadi gaya hidup baru bagi generasi Y dan Z. Biasanya kita hanya melihat artis dan pejabat yang bolak balik mall, swalayan, dan pusat perbelanjaan berkelas.

Gaya hidup masyarakat zaman now telah bergeser. Dahulu belanja kebutuhan sehari-hari cukup di kios terdekat dengan rumah, atau di warung tetangga.

Saban hari, masyarakat sudah maju dan mampu membedakan harga barang. Barang-barang yang dijual di swalayan dan Indomart lebih murah sekitar 1.000 s.d 3.000 ketimbang di kios sebelah rumah mereka. Sekalipun tentangga itu teman dan orang sekampung. Bahkan orang tua dari teman bermain anaknya.

Hanya karena beda sedikit harga, dan ingin belanja di ruang ber-AC, barangnya lengkap, belanjanya disertai struk pembayaran, akan membuat mereka terlihat keren. Dan itu sangat memuaskan mereka sebagai pembeli.

Sejatinya, tidak menjadi permasalahan ketika konsumen belanja sesuka hatinya. Toh itu hak privasi yang tak dapat dipaksakan.

Tetapi ada hal yang perlu diingat. Pemilik dan pramuniaga swalayan atau Indomart yang sering Anda kunjungi belum tentu mengenal Anda, dan Anda belum pasti mengenal mereka. Perkenalan Anda dengan mereka tak lebih dari mengenal karena sering transaksi jual beli.

Namun, pemilik kios yang juga tetangga Anda, mengenal Anda hingga nenek dan cucu. Bahkan kadang Anda sering minta bantu diberikan sebatang daun sop yang disemai di halaman rumah, atau daun pandan yang berada di belakang rumahnya, atau ia kerap memberikan semangkok kuah pliek, atau meninta ia agar menjaga rumah ketika Anda pulang ke tempat mertua.

Tapi soal belanja kebutuhan hari-hari dan kosmetik, Anda lebih memilih belanja di Indomart/swalayan, karena miring harga 1.000 s.d 2.000. Bahkan Anda lebih memilih belanja online dengan dalih murah, sedangkan siapa penjual dan di jalan apa rumahnya engkau tak pernah tahu. Dan belum tentu laba penjualan barang mereka digunakan untuk kebaikan.

Kalau mau berfikir, tetangga yang juga pemilik kios sederhana merupakan orang pertama yang mengetahui keadaanmu saat sakit, musibah, dan sebagainya. Sedangkan mereka pemilik dan penjaga swalayan. Jangankan untuk menziarahi dan ikut mengebumikan jenazahmu saat dirimu meninggal dunia, informasi kematianmu saja tak didengar oleh pemilik/pramuniaga swalayan. Ketika engkau sakit, belum tentu mereka menjengukmu.

Disebabkan gaya hidupmu yang terkesan mewah, menyebabkan kios sederhana dan serba kekurangan milik tetanggamu gulung tikar (bangkrut). Padahal mereka ada tanggunggan terhadap keluarga, dan membiayai pendidikan anak. Dan engkau pun mengetahui beban mereka.

Inilah generasi zaman milenial.

Abu Teuming. Direktur LSM Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara)

Related posts