Ma’afkan Aku

  • Whatsapp

SANTERDAILY.COM |BANDA ACEH—-Pandangan mata itu tidak lagi teduh. Hampa, tanpa rasa. Dia yang dulu begitu ku puja, hingga merampas hampir seluruh hatiku seakan hilang tak berbekas, meskipun pada kenyataanya dia ada di hadapanku.

Kata-kata yang terucap dari bibirnya tak lagi indah. Hanya basa-basi sekedar rutinitas. Tak nampak nada keperdulian apalagi kecemburuan. Aku seperti tak ada ruang di hatinya.

Jangankan cinta, benci pun sudah tak lagi dia berikan kepadaku. Karena benci itu ada jika ada cinta. Aku tau aku bersalah, namun pantaskah aku menerima semua hukuman ini darinya?

Aku tau pasti bahwa pengkhianatanku sangat melukainya, bahkan terlalu dalam. Dia, yang dulu tak mengenal cinta, lalu bertekuk lutut di hadapanku, menyerahkan jiwa dan raga seutuhnya hanya untukku, menganggapku malaikatnya, lalu … aku dengan mudahnya mempermainkannya, bahkan lebih jahat. Aku berkhianat!

Tak pantaskah aku mendapatkan ma’af darinya? Mungkin terdengar egois, namun aku sungguh menyesal. Andai saja bisa kuputar ulang waktu, aku tak kan pernah menyakitinya.

Namun, entahlah. Aku tergoda dengan seseorang yang bahkan tidak sesempurna dirinya. Meski tak ada cinta, namun aku menikmati dosa itu.

Setelah sekian lama, ku pikir lukanya telah sembuh. Namun, luka itu justru meninggalkan bekas yang tak bisa hilang. Ibarat cermin yang hancur berantakan, … sulit ditata ulang. Bahkan tak lagi bisa merefleksikan diri.

Aku begitu merindukannya, namun ia begitu jauh, tak lagi dapat ku sentuh, meski ia sangat dekat, hingga aroma tubuhnya selalu menyapa hidungku. Dia, istriku … namun bukan lagi milikku. Aku hanya memiliki tubuhnya, bukan lagi hatinya.

“Dek, udah makan?” Ucapan rutinitas yang biasa kulontarkan untuk yang kesekian kalinya.
“Udah.” Jawaban yang sama untuk pertanyaan rutinitasku. Meskipun aku tahu, dia belum makan. Namun, ia seperti enggan untuk berbicara panjang lebar denganku.
Kulihat punggungnya yang berlalu dari hadapanku. Ya, bahkan kami tidak pernah lagi duduk bersama, jangankan dalam satu meja, bahkan satu ruangan. Ia selalu menghindariku. Dan ini sudah tahun kelima sejak peristiwa itu.
*****
Plak … dia menampar pipiku. Aku yang tahu amat sangat bersalah justru menikmati tamparannya.

“Kau jahat, Mas! Jahat!” Ia begitu terpukul, namun tak ada setitik pun air mata yang jatuh. Dia begitu tegar.

“Ma’afkan Mas, Dek. Mas khilaf. Tapi percayalah, Mas tidak mencintainya.” Aku berusaha membela diri, mencoba meyakinkannya bahwa aku benar-benar khilaf.

“Cinta atau tidak, kau sudah berzina, Mas. Yang menyakitkan adalah, kau melakukan itu di saat aku sedang hamil ___ anakmu.

Mas! Bisa kau bayangkan, setelah kau berbuat kotor, lalu kau mendatangiku. Kau mengotori anakmu, bahkan sebelum ia lahir!” Jelas sekali ia sangat marah dan kecewa.

Aku meraih tangannya dalam genggamanku, namun segera ia tepis.
“Jangan kau sentuh aku. Kau ___ najis. Kotor, aku tak mau lagi kau sentuh, Mas!” Ia memandangku dengan jijik.

Ya, aku memang najis. Dan aku terima itu.
“Mas, ceraikan aku. Nikahi dia, karena dia mengandung anakmu. Aku dan anak ini bisa bertahan, namun dia, belum tentu sanggup tanpamu. Pergilah, Mas. Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu.” Ia menunduk, mengelus perutnya yang sudah sangat membesar menunggu waktu.

“Tidak, Dek. Aku tidak akan menceraikanmu, sampai kapanpun. Aku begitu sulit mendapatkanmu, tak kan semudah itu melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu. Ma’afkan aku, Dek … kumohon!” Aku berlutut, mengemis ma’afnya.
“Cinta tidak menyakiti, Mas. Cinta tidak mengkhianati. Yang kau lakukan adalah dosa terbesar dalam pernikahan. Tak kan terma’afkan, bahkan sulit dilupakan. Aku ikhlas, Mas. Mungkin memang sudah takdirku. Kau tak perlu berlutut. Berdirilah, temui wanita itu. Nikahi dia, ceraikan aku.” Akh, sungguh tak ada air mata disana. Terlalu sakit baginya, hingga air matanya pun enggan jatuh.

Dia berdiri, melangkah ke ruang tamu, menemui selingkuhanku yang sedang terisak duduk di ruang tamu sembari memegang perutnya yang membucit karena ulahku.

Penulis : Suafrida Rahmah/Ida Ayu Komang

Related posts