Pengemis Kota

  • Whatsapp

Oleh : Muklis Puna

PUISI—-

Bocah -bocah kumal mengusik riuhnya kota
Datang dari lembah kemiskinan
Tubuh dekil baju bau amis
mengiba d iperempatan jalan
Kaki berdaki telanjang tanpa terompah

Bocah- bocah kerempeng mengusik bisingnya kota
Menggaruk tingkap- tingkap mobil
Mengharap sodoran rupah kusam
Matanya sayu, suaranya mendesah
Kerongkongan bercampur dahak

Bocah- bocah lusuh bersenandung pilu
Setiap pagi mengejar matahari
memungut sisa kasih di bawah busuran api
Tangannya gemetar mengusung kaleng harapan
Menjerit dalam diam
Senyumnya merekah, walau kata maaf menukik di kuping bernanah

Bocah -bocah miskin menangis di keramain
Ketika burung pulang ke sarang,
kecemasan mendera hidup
Tidur berkasur kardus bekas

Bocah- bocah kumal tak kenal duka
Menatap sangar pada pemilik kota
Tak paham politik
Tak paham krisis
Tak paham ekonomi
Tak paham pendidikan
Tak paham kemerdekaan
Tak paham dasar negara
Tak paham kemewahan

Benaknya selalu menghayal
Besok pagi berapa rupiah bisa diraih?
Besok pagi di mana tak ada tandingan?
Besok pagi siapa mau berbagi?
Besok pagi lambung ini, bisa tidak diajak bercanda,
sebelum kaleng berkarat ini terisi

Lhokseumawe, 23 April 2016

Related posts