Kisah Kakek Sebatang Kara di Aceh Selatan, Tinggal di Gubuk Derita Beratapkan Tenda

  • Whatsapp

ACEH SELATAN- Kisah sedih dialami seorang kakek yang hidup sebatang kara dalam sebuah gubuk derita.

Sebagai penulis, saya merasa iba dan tersentuh oleh kehidupan sang kakek yang sudah renta, usia pun mulai senja, dan hidupnya hanya sebatang kara.

Abah Ali (72 tahun) namanya. Begitu warga sekitar memanggilnya. Kakek berusia lanjut tersebut tinggal di gubuk nestapa berukuran 2×2 meter. Teratak mini yang ditinggalinya itu tak jauh dari bantaran sungai Kluet Raya.

Ujung sungai yang bermuara dan menjulur ke salah satu anak sungai yang mengalir ke sebuah kawasan bernama Kuala Tuha.

Gubuknya beralamat di Desa Indra Damai, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan.

Sehari-hari, aktivitas Abah Ali saat ini adalah berkebun untuk memenuhi kehidupan pribadinya.

Sepetak kebun yang berada diantara gubuk rentanya itu, dikelilingi oleh semak belukar itu ditumbuhi oleh beberapa pohon sawit yang katanya adalah punya warga sekitar.

Gubuk yang dihuni Abah Ali sengaja dibangun di tengah perkebunan itu karena ia tidak ingin menyusahkan anak-anaknya.

Semenjak istrinya meninggal, Abah Ali sudah memulai kehidupan sendiri. Alhasil, Abah Ali memilih tinggal di perkarangan perkebunan tersebut. Guna menyambung sisa hidupnya semenjak ditinggal oleh istri tercinta.

Saat ditemui, Sabtu (23/5/2020) siang, ia terlihat sedang tertidur pulas. Posisinya menyamping sambil memeluk kardus lusuh. Ia tidur beralaskan beberapa helai sarung.

Pintu gubuknya dibiarkan terbuka.
Tubuh kurusnya bisa terlihat dari jalan berlumuran lumpur yang berada di pinggir kampung tersebut.

Mendengar ada tamu yang memanggil, Abah Ali berusaha untuk bangun. Namun perlahan karena pandangannya sepertinya sudah sedikit kabur karena faktor usia.

“Siapa ya,” katanya sambil berusaha memfokuskan pandangan ke arah pintu.

Setelah sadar dari dongeng tidurnya, ternyata ada beberapa orang yang menghampiri gubuk mininya.

Abah Ali mengatakan bahwa ia sangat bersemangat apabila ada yang datang ke gubuknya.

Abah juga sempat bercerita bahwa ia sangat ingin mempunyai rumah yang layak untuk ditempati. Namun belum ada bantuan yang hadir untuknya.

Sampai kami bertamu, ia hanya membuatkan saung kecil. Sekedar untuk tempat berteduh dan seadanya. Itupun hanya berjarak beberapa meter dari kandang kambing.

“Maaf ya Nak, Abah tak pakai baju karena di sini panas kalau pada siang hari. Jadi, kita duduknya di luar saja ya,” ujar Abah Ali.

Tubuh kurusnya terlihat lemas. Abah mengeluh tatkala semua bagian badannya terasa pegal.

Sambil memegang kaki dan bagian punggung, Abah seperti memperlihatkan beberapa bagian badannya yang sakit.

Abah Ali maupun keluarganya selama ini tak tersentuh bantuan sosial maupun pemberian beras miskin dari pemerintah.

Mereka mengatakan sangat berharap mendapatkan bantuan tersebut karena sudah mendengar dari para tetangga dan warga.

Katanya, orang yang tidak berhak mendapatkan bantuan. Sementara kehidupan kami yang serba susah seperti ini, tidak mendapatkan apa pun dari pemerintah setempat. Kecuali para dermawan yang baik hati.

“Kami tak masuk dalam daftar penerima bantuan itu, Nak.” kata Abah Ali.

Penulis sendiri sangat berharap, ada para dermawan yang terketuk hatinya untuk menolong Abah Ali.

Menurut penulis, memang banyak sosok dan kriteria seperti Abah Ali yang memang layak mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat.

Abah juga tidak menghilangkan jasa beberapa dermawan yang sempat datang ke gubuknya.

“Mereka ada yang memberi beras, uang untuk berobat, dan makanan lainnya. Seperti yang kalian antarkan pada hari ini.” sembari Abah memegang tribako (tiga bahan pokok) beras, gula, dan minyak goreng yang kami antarkan padanya hari ini.

Ya, Abah Ali menjadi salah satu penerima donasi yang disalurkan oleh Ikatan Mahasiswa Sunan Kalijaga (Ikasuka Jogjakarta) yang disalurkan melalui Forum Ukhuwah Aceh Selatan (FUAS) yang berada di Aceh Selatan, tepatnya di Kecamatan Kluet Selatan pada Sabtu 23/05/2020.

Sebagai distributor untuk kebahagiaan para dhuafa, anak yatim, dan fakir miskin pada hari ini. Kami juga bangga bisa mengantakan beberapa paket titipan donatur untuk mereka yang sangat layak dibantu dan membutuhkan uluran tangan kita semua.

Ada beragam cara berbagi kebaikan kepada orang yang membutuhkan. Salah satunya, kita juga merasakan apa yang mereka rasakan. Begitu juga sebaliknya. Bersinerji untuk kebaikan.

Ikasuka dan FUAS tiba dengan membawa secercah senyuman dan harapan buat mereka meskipun dengan cara sederhana, yakni memberikan paket tribako (beras, gula dan minyak goreng).

Meskipun sederhana, tapi semua penerima bantuan tribako tersebut sangat berbahagia dan antusias menerima paket yang kami berikan.

Alhamdulillah. Singkat cerita, kami juga menyelipkan masker dan brosur cegah covid. Kami juga mensosialisasikan bahaya penyebaran covid-19.

Kami juga tidak lupa menyarankan kepada para penerima sembako untuk selalu menggunakan masker jika berpergian keluar rumah agar terjaga kondisi kesehatan selama bepergian.

*Penulis: Riri Isthafa Najmi FAMe*

Related posts