Mampukah Mutu Lulusan Didongkrak melalui Asesmen Nasional?

  • Whatsapp
  • Oleh : Hamdani MPd*

Opini – Sejarah membuktikan fenomena tentang Ujian Nasional yang sudah berlangsung lamanya di negera kita, mungkin ini suatu moment yang tepat di Tahun 2021 adalah tahun yang sangat pantas untuk mengucapkan “selamat tinggal Ujian Nasional”.

Karena Ujian Nasional selama ini menjadi momok di kalangan peserta didik di Indonesia, sekarang di hilang dari dunia pendidikan. Pemerintah akan memberlakukan sistem Asesmen Nasional untuk pemetaan mutu sekolah di setiap satuan Pendidikan terhitung mulai Maret 2021 Sebagai gantinya,.

Read More





Mampukah Asesmen Nasional ini mendongkrak mutu lulusan?

Kita melihat beberapa tahun kedepan hasilya.Kita dapat melihat dari berbagai sumber dan media, tentu saja sudah banyak yang mengetahui tentang apa sebenarnya Asesmen Nasional itu. Asesmen Nasional-meerupakan pemetaan mutu pendidikan seluruh jenjang satuan pendidikan.

Jadi, hasil dari Asesmen Nasional buka suatu syarat kelulusan peserta didik, melainkan suatu diskripsi peta mutu pendidikan secara nasional dari berbagai jenjang. Namun begitu, sekolah harus tetap memiliki kesiapan yang matang untuk menghadapi penilaian secara nasional atau lebih di kenal dengan nama Asesmen Nasional.

Dari berbagai pemangku kepentingan pendidikan muncul berbagai polemik Sejak diperkenalkan Asesmen Nasional di kalangan publik. Sebagian ada yang menolak, tetapi ada juga yang mendukung pelaksanaannya.

Pihak yang menolak beralasan bahwa Asesmen Nasional berpotensi menurunkan prestasi belajar peserta didik karena tidak ada lagi suatu measurement yang jelas untuk menentukan kelulusan peserta didik. Pihak yang mendukung, beralasan bahwa Asesmen Nasional merupakan salah satu jawaban untuk meningkatkan mutu pendidikan karena soal yang diujikan dapat memantik keterampilan berpikir tingkat tinggi bagi guru dan siswa.

Kalau kita cermati Sangat miris memang mutu pendidikan kita melalui laporan organisasi dunia. Salah satu laporan yang diumumkan tahun 2019 oleh organisasi tertsebut untuk kerja sama dan pembangunan ekonomi, Indonesia berada di peringkat ketiga dari bawah.

Berarti kemampuan memahami literasi membacaan, literasi nomerasi atau logika matematika, dan analisis sains peserta didik kita jauh tertinggal bila di bandingkan dari beberapa negara tetangga. Realita ini menujukkan bahwa mutu pendidikan Indonesia masih rendah.

Problema akan terjadi bila Mutu pendidikan yang rendah maka negera kita menjadi salah satu Negara penyumbang angka pengangguran yang besar secara terbuka. Mengapa demikian? Karena, jika mutu pendidikan rendah, otomatis kompetensi lulusan yang dihasilkan oleh satuan pendidika juga rendah.

Sehingga para lulusan sangat sulit bersaing dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja di masa sekarang ini. Dengan kata lain, pengangguran akan meningkat. Hanya sekilas gambaran tentang hal tersebut untuk memperkuat sebuah penjelasan, BPS telah mencatat bahwa dari 7 juta pengangguran terbuka, 7,95 persen lulusan SMA dan 11,24 persennya merupakan lulusan SMK yang terjadi pada tahun 2018.

Oleh karena itu Peningkatan mutu pendidikan harus terus digenjot. Karena Seluruh Negara di dunia telah melakukan hal ini. Oleh karena itu, kalau peserta didik kita tidak ingin kalah bersaing di kancah persaingan secara lokal maupun secara global dan mareka akan menjadi pengangguran yang punya pendidikan, mau atau tidak mau, kita harus menemukan pilihan-pilihan baru untuk dapat membenahi mutu pendidikan yang sudah demikian jauh dari harapan bangsa kita.

Dan ini merupakan sebuah pertimbangannya agar pemerintah dapat menyodorkan Asesmen Nasional sebagai pilihan untuk meningkatkan mutu lulusan atau pemetaan satuan pendidikan.
Ada tiga unsur untuk meningkatkan mutu lulusan, yaitu: 1) asesmen kompetensi dasar, 2) survei karakter, dan 3) survei lingkungan belajar yang tercamtum dalam Asesmen Nasional Ketiga pola ini, berfungsi sebagai alat untuk mencapai mutu lulusan unggul.

Oleh karena itu, pelaksanaan Asesmen Nasional, harus melibatkan warga sekolah (kepala sekolah, peserta didik, guru dan pegawai tata usaha), Inilah yang menjadi perbedaan yang mendasar Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional.

Asesmen Nasional peserta didiknya di pilih secara acah berdasarkan dapodik Khusus di jenjang pendidikan menengah, peserta didik yang dipilih mengikuti Asesmen Nasional hanya yang masih duduk di kelas XI, dengan jumlahnya hanya 45 orang.

Dengan Pertimbangannya peserta didik kelas XI sudah mempelajari materi pelajaran X dan XI dan akan mengikuti ujian akhir sekolah di kelas XII.

Sebagai mana harapan kita Asesmen Nasional ini sangat baik sebagai bahan evaluasi diri sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Jadi, apabila hasil Asesmen Nasional belum memenuhi capaian yang diharapkan, secepat mungkin guru dapat melakukan pembelajaran yang lebihefektif dalam rangka meningkatkan kemampuan peserta didik yang masih lemah.

Begitu juga halnya dengan kepala sekolah, dapat memperbaiki beberapa penunjang lingkungan belajar yang belum memadai agar tidak menjadi hambatan dalam proses pembelajaran nantinya.

Mungkin masih banyak yangbelum mengetahui bahwa soal-soal dalam Asesmen Nasional yang diajukan tidak lagi mengandalkan hafalan, tetapi menekankan pada pemahaman literasi nomerasi, nalar bacaan, analisis sains, serta dapat mengartikan model dan grafik matematika.

Jadi, pada Asesmen Nasional, semua soal sudah menjurus ke arah berpikir peserta didik ke arah yang lebih tinggi, yang sebelumnya jarang hampir tidak digunakan oleh peserta didik untuk menguji kemampuannya.

Berdasarkan beberapa hal tersebut, agar dapat kiranya memberikan pencerahan kepada pembaca apa Asesmen Nasional itu dan perbedaannya dengan Ujian Nasional. Tentu semua kita sangat mengharapkan dengan lahirnya regulasi ini tentang Asesmen Nasional, maka mutu pendidikan cepat peningkatan yang berarti.

Tetapi ini semua sangat tergantung pada kesiapan sumber daya di setiap satuan pendidikan dan peran pemerintah, orang tua dan masyarakat yang begitu penting dalam mengayomi dunia pendidikan.

Sehingga , lulusan sekolah akan semakin bermutu, mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia, sehingga dapat memperoleh pekerjaan yang layak sesuai dengan kemamopuannya sebagai manusia yang berpendidikan.

Penulis : Kepala SMAN 1 Bireuen

Related posts