Membangun Kesalehan Sosial Melalui Puasa

  • Whatsapp

Oleh : Ahlul Fikri Hasan, S.Pd.I.,M.Pd*

RAMADAN DARING-–Islam tidak melulu berbicara mengenai ibadah wajib (mahdhah, vertikal), tapi juga ibadah sosial (ghairu mahdhah, horisontal). Tidak ada yang lebih penting dari yang lainnya. Keduanya harus serimbang, seiring-sejalan, saling melengkapi, saling menyempurnakan.

Melakukan ibadah wajib semata, adalah orang yang merugi, karena belum memberi manfaat kepada sesama (bangsa dan negara). Sedangkan melakukan ibadah sosial tanpa dibarengi ibadah wajib, maka akan sia-sia.

Pada kenyataannya, masih banyak umat Islam di Indonesia yang masih memahami bahwa kesalehan di mata Allah swt hanya kesalehan pribadi semata.

Sementara, kesalehan sosial belum dianggap sesuatu yang penting dan menjadi bagian dari hidup keseharian.

Padahal, dalam ajaran Islam, banyak mengandung nilai-nilai sosial yang memiliki peran yang sangat besar dan signifikan dalam pembangunan bangsa.
Puasa memang ibadah yang amat istimewa.

Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tak hanya moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.Puasa memiliki dua semangat yang sangat baik dilihat dari perspektif pendidikan akhlak.

Pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun) dari hal-hal yang destruktif (al-muhlikat). Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual.

Adanya heterogenitas menyambut datangnya bulan suci ramadhan dapat memperkaya khzanah culture masyarakat Indonesia. Integrasi antara budaya dengan agama pada akhirnya melahirkan sebuah akulturasi yang sangat apik. Agama dalam konteks ini tidak mengeliminasi atas eksistensi dari suatu budaya. Budaya pada kasus ini dapat memperkaya aspek ekspresi keagamaan suatu masyarakat.

Eksistensi budaya yang sesuai dengan agama akan tetap terjaga dengan terjadinya dialog yang sangat panjang. Nilai-nilai budaya yang digali dari hasil cipta, rasa, dan karsa manusia akan tetap utuh sepanjang tidak bertentangan dengan agama. Budaya yang dianggap tidak sesuai dengan esensi ajaran agama akan tereliminasi secara gradual. Pola akomodasi yang demikian kemudian menghasilkan asimilasi dalam bentuk dominasi agama terhadap budaya.

Manusia merupakan makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak dapat hidup sendiri. Semenjak diciptakan, mereka senantiasa membutuhkan uluran tangan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Tanpa adanya bantuan dari orang lain, sangat sukar bagi manusia untuk dapat bertahan hidup sendiri. Kemampuan yang terbatas inilah yang menyebabkan manusia melakukan interaksi sosial.

Sebagai pancipta alam raya, Tuhan mempunyai sifat rahman dan rahim kepada setiap apa yang diciptakannya. Sifat rahman dan rahim inilah yang kemudian direfleksikan dalam kehidupan setiap makhluk.

Sebuas apapun makhluk yang diciptakan, mereka akan terkena percikan kedua sifat tersebut. Setiap makhluk hidup tentu menyayangi anak-anak mereka. Burung-burung yang terbang tinggi, ikan-ikan yang berenang di samudra yang luas rela kelaparan demi menyambung kehidupan sang anak.

Dalam perspektif agama, ibadah puasa sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang dokter atau pakar kesehatan secara umum mempunyai paradigma bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Menurut ekonomi, ibadah puasa dapat meminimalisir biaya pengeluaran (cost).

Menurut perspektif sosiologis, ibadah puasa merupakan bentuk introspeksi terhadap problem sosial seperti kemiskinan, kriminalitas dan sebagainya

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal ini.

Pertama, orang yang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin.

Orang yang tak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain. Mungkin itu sebabnya, ketika Malaikat Jibril AS menawarkan kepada Rasulullah SAW kekayaan melimpah (bukit emas), beliau menolaknya, seraya bekata: “Biarlah aku kenyang sehari dan lapar sehari.” Penting diketahui, lapar itu ada dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan. Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan, tak gampang disembuhkan.

Puasa menyembuhkan kedua macam lapar itu sehingga kita bisa terbebas dari penyakit vested interest, untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial).

Kedua, orang yang puasa disuruh banyak bederma. Nabi SAW menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Rasulullah SAW sendiri merupakan orang yang paling banyak bederma, dan dalam bulan Ramadhan, beliau lebih kencang lagi bederma, melebihi angin barat. (HR Hakim dari Aisyah).

Ketiga, pada penghujung puasa, kita disuruh mengeluarkan zakat fitrah, di luar zakat mal, tentu saja. Kewajiban ini seakan melengkapi dimensi sosial dari ibadah puasa. Karena, tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah. Ia masih bergantung dan berputar-putar di atas langit.

Di luar semua itu, puasa melatih dan mendidik kita agar menjadi manusia bermental giver (pemberi), bukan taker (peminta-minta). Ungkapan take and give yang populer di masyarakat kita, tentu tidak sejalan dengan spirit puasa. Orang puasa sejatinya sedang meneladani Allah SWT, sejalan dengan doktrin, “Takhallaqu bi akhlaq Allah.” Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Nabi Muhammad SAW juga demikian.

Ramadhan merupakan moment dari manifestasi dari tindakan sosial yang mengarah pada kebaikan. Pemaknaan bulan ramadhan yang kurang tepat biasanya terjadi ketika manusia ingin meningkatkan status sosialnya. Tidak selayaknya kegiatan ibadah di bulan suci didasari niat sebagai sarana reifikasi sosial.

Sebab golongan prekariat dan paria senantiasa membutuhkan uluran tangan.

Begitu pula dengan ibadah puasa di bulan ramadhan. Setiap orang mampu menahan haus dan lapar. Namun tidak semuanya mampu mengambil hikmah dari kelaparan yang dirasakan. Terutama kelaparan dan kehausan yang senantiasa dirasakan oleh orang lain yang masih hidup dalam garis kemiskinan dan serba kekurangan. Setiap orang dapat membaca al-Qur’an, namun tidak semua dapat melaksanakan konsep kebaikannya.

Agama Islam yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw mempunyai misi besar dalam membebaskan manusia dari penindasan dan problem sosial.

Dalam berbagai kisah pada zaman nabi, sahabat, atau tabiin. Mereka senantiasa menumbuhkan empati yang terhadap penderitaan orang lain.
Kepedulian sosial senantiasa diutamakan dalam ajaran Islam. Nabi menyuruh para sahabat untuk memperbanyak air (kuah) ketika memasak dan membagikan kepada para tetangga agar mereka tidak kelaparan.

Dalam suatu kisah lain dijelaskan ketika seseorang makan, maka tetangganya tidak boleh kelaparan.

Menumbuhkan kesalehan sosial dalam bentuk kepedulian sosial terhadap beban hidup yang dipikul oleh orang lain dapat kita adopsi melalui ibadah puasa.

Semoga pada bulan suci yang mulia ini kita dapat menumbuhkan kesalehan sosial dengan ibadah puasa.Maka, orang yang berpuasa diminta meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu kepada umat manusia dengan cara berbuat baik dan berbagi kegembiraan. Dengan begitu, puasa membuat kita cerdas, baik secara moral, spiritual, maupun sosial, dan inilah karakter orang takwa. Wallahu a`lam

*Penulis : Kepala SMA Negeri 2 Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh/Ketua Umum DPW AGPAII Prov.Aceh

Related posts