Menulis itu Seharusnya Seperti Bernapas

  • Whatsapp
  • Oleh : Muklis Puna*

Opini – Kenapa harus malu posting tulisan di media sosial? Bukankah menulis itu untuk orang lain? Memposting tulisan, berati memberikan informasi kepada orang lain. Karena sifatnya memberikan informasi, berarti memposting adalah suatu kewajiban bagi penulis. Sementara itu membaca adalah sebuah keterampilan konsumtif.

Mengonsumsi sebuah informasi dari setiap teks adalah kebutuhan pribadi. Kebutuhan pribadi tentunya punya sifat privasi yang tidak perlu diketahui oleh orang lain.
Banyak pemula yang merasa malu dan risih, ketika tulisannya dibaca orang lain.

Ini merupakan faktor terbesar yang membuat kreativitas dan inovatif dalam menulis terhambat. Kekakuan dalam menempatkan ide dalam tulisan membuat para pemula tidak punya rasa percaya diri. Apalagi para pembaca sering” Menembak di atas kuda” dalam menilik setiap tulisan para pemula.Kritikan tajam dan menohok dari pembaca sering membuat adrenalin penulis jadi lemah.

Menanggapi hal di atas sebaiknya para pemula harus berani move on dari zona nyaman dalam menulis. Keberanian itu tidak datang dengan sendirinya akan tetapi membutuhkan latihan- latihan yang kontinue dan membangun rasa percaya diri. Rasa percaya diri itu dapat berupa keyakinan akan gagasan yang diuraikan, kesatuan, dan kepaduan setiap untaian paragraf yang dihantarkan.

Pada bagian ini penulis mencoba berbagi pengalaman tentang bagaimana sih menulis semudah bernapas? Bagi penulis profesional menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ketika hari -hari yang dilalui tanpa tulisan, maka akan terasa hampa dan hambar.

Pada saat sebuah gagasan disampaikan dan tersampaikan kepada pembaca, di sinilah kepuasan bathin milik penulis terpenuhi. Untuk memudahkan menjalani tugas menulis bagi pemula, penulis menawarkan beberapa trik dan tips dalam menulis khususunya bagi pemula. Trik dan tips ini adalah selemah- lemahnya iman dalam menulis.

1. Pikirkan Masalah yang Mau Ditulis
Masalah merupakan sumber dasar gagasan dalam menulis. Yang menjadi masalah sekarang adalah banyak diantara pemula tidak memahami tentang konsep dari masalah. Hal ini terlihat saat penulis memberikan pelatihan artikel popular pada guru – guru SMA di provinsi Aceh. Berbagai jawaban membusur dari pikiran peserta, ketika genderang pertanyaan tentang konsep masalah ditabuhkan.

Secara konseptual ” Masalah’ itu adalah jauh antara seharusnya dengan sebenarnya, atau ada perbedaan yang mencolok antara seharusnya dan sebenarnya. Namun ada juga yang mengemukakan konsep masalah itu adalah adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan serta munculnya sejumlah pelanggaran dari aturan yang sedang dilaksanakan dalam berbagai lini kehidupan.
Sebagai contoh ” Seharusnya menulis itu semudah bernapas, namun sebenarnya tidak, ‘ perbedaan kedua peryataan tersebut maka muncullah sebuah masalah. Masalah yang muncul dari perbedaan kedua pernyataan di atas masih beragam.

Penulis profesional biasanya paling jeli untuk menemukan suatu masalah yang ingin dijadikan bahan tulisan.Bagi pemula sebaiknya buat diagram pemetaan masalah dari yang umum menjadi lebih spesifik. Pemetaan ini berfungsi sebagai acuan dan mengembangkan tulisan.

2. Lakukan Study Kelayakan Masalah yang skan ditulis.
Masalah yang mau dijadikan tulisan oleh penulis harus dilakukan sebuah studi kelayakan. Biasanya studi ini meliputi,

a) Apakah masalah yang diangkat punya keunikan tidak atau dengan bahasa sederhana fenomenalkah atau tidak? Kefenomenalan sebuah masalah sangat mempengaruhi pembaca untuk masuk lebih jauh ke dalam tulisan.

b) Referensi yang mendukung terhadap tulisan yang mau dikembangkan. Jika tidak ada referensi dalam setiap tulisan,maka akan menimbulkan kegaduhan pemahaman di kalangan pembaca.

Hal ini berbeda dengan tulisan- tulisan milik penulis hebat yang sepenuhnya mengemukakan ide dan solusi terhadap sebuah masalah yang fenomenal. Referensi yang dimaksud dapat berupa referensi kualitatif dan kuantitatif. Nah apa itu referensi kualitatif? Referensi ini berupa pendapat para pakar, tokoh penting publik figur yang diambil dari buku, web, blog, jurnal , dan sebagainya. Sedangkan referensi kuantitatif adalah referensi yang berupa hasil survei atau angka yang berupa angka yang diambil dari buku, web , bolg dan sebagainya.

c) Masalah yang ditulis hendaknya dikuasi oleh penulis. Sebagai empunya ide dan gagasan penulis harus memahami betul masalah yang ditulis. Jika penulis abai terhadap hal ini, dipastikan tulisan yang ditulis tidak selesai dalam rentang waktu yang ditentukan. Selanjutnya jika di penulis tidak menguasai 70 persen dari masalah yang ditulis berarti ketertarikan penulis akan menghambat lahirnya tulisan.

3. Tetapkan Judul yang menarik
Judul adalah pintu gerbang menuju isi tulisan. Artinya gerbang tulisan itu harus dihias dengan pernak-pernik yang menarik, sehingga setiap tamu bacaan mau bertandang dan berlama- lama dalam gerbong paragraf yang tertata. Pemilihan diksi menarik ini juga harus representatif dengan isi tulisan yang akan ditulis. Penulisan sesuai dengan PUEBI juga sangat dianjurkan agar tidak muncul penafsiran ganda terhadap judul tulisan yang bertengger di gerbang bacaan.

4. Tetapkan Kerangka Tulisan
Agar dalam penulisan tidak terjadi pengulangan gagasan, dibutuhkan kerangka tulisan yang kokoh. Kerangka ini berisi tentang gagasan -gagasan pokok yang akan distribusikan dalam sub tulisan. Penetapan kerangka ini juga disesuaikan dengan alur pikir dari masalah yang sudah ditetapkan di awal.

Pemekaran gagasan dalam kerangka tulisan sangat tergantung pada masalah dan tujuan yang hendak dicapai oleh penulis. Hal ini jarang sekali dilakukan oleh penulis pemula, sehingga tulang yang dihasilkan selalu berkutat pada bagian yang sama. Kalaupun ada dilakukan penetapan kerangka, namun sulit sekali adanya korelasi gagasan antara satu dengan lainnya Dengan demikian penetapan kerangka berfungsi sebagai rancang bangun sebuah tulisan. Apabila rancang bangun disusun lebih kokoh , kualitas bangunan tulisan akan tampak kokoh dan apik

5.Tahap Menulis

Tahap ini merupakan tahap implementasi semua bagian yang sudah dirancang dengan tepat dan terukur. Untuk memudahkan pengembangan ide dalam menulis, di sini ditawarkan sebuah solusi untuk keluar dari kebuntuan dalam memaparkan sebuah gagasan. Hal ini tergambar pada langkah berikut;
a. Buatlah Paragraf Pengantar ke Masalah
Paragraf pengantar merupakan suatu hal yang harus dilakukan penulis. Pengantar ini berisi ajakan secara implisit agar pembaca mau mengikuti alur pikir penulis. Segala keunikan dan ciri khas penulis tampak jelas pada paragraf ini. Paragraf ini biasanya berisi tentang fenomena masalah yang akan ditulis.

Sebagai contoh dapat dilihat pada kutipan berikut;
“Asal Mula Siswa Berkarakter adalah Guru”
Muklis Puna
~Kalau Guru Kencing Berdiri , Anak Pasti Kencing Berlari~

Dalam konteks pembelajaran akhir zaman, karakter menjadi komoditi utama. Hampir semua ruang diskusi pendidikan selalu memunculkan kata karakter. Para tokoh masyarakat, elite politik, dan tokoh pendidikan selalu beranggapan bahwa hilangnya karakter pada diri seseorang disebabkan oleh pudarnya ruh-ruh pendidikan dalam dada peserta didik.

Jika merujuk pada kata pendidikan, guru sebagai satu komponen pendidikan dengan sendirinya jadi fokus pada setiap pembahasan. Konektivitas antara guru dengan pendidikan merupakan suatu zat yang senyawa yang tidak dapat dileburkan oleh unsur kimia manapun.

Sebagai salah satu komponen yang sudah disebutkan di atas, maka guru merupakan sebuah diksi yang seksi untuk dijelaskan. “Keseksian dan kegenitan” sang guru dalam meluruskan paradigma peserta didik selalu mencari incaran para orang tua dalam mengarahkan anaknya untuk belajar.(https://www.acehtrend.com/2021/01/20/asal-mula-siswa-berkarakter-berawal-dari-guru/ diakses 6 Maret 2021).

Kutipan di atas memberikan sebuah gambaran yang utuh tentang pengantar masalah. Teknik penulisan dan nuansa bahasa sangat bergantung pada gaya dan karakteristik penulis. Setiap penulis memiliki sikap kepenulisan masing-masing.Biasanya di akhir sebuah pengantar penulis selalu menempatkan satu di opini sebagai landasan pengembangan selanjutnya. Opini tersebut dapat berupa kritik, saran, evaluasi dan pandangan penulis terhadap masalah yang ingin disajikan.

b.Pengembangan Opini

Setelah penulis menempatkan opini di akhir paragraf pengantar. Langkah yang perlu dilakukan adalah mempertahankan opini yang telah dikemukakan penulis. Nah… Untuk menguatkan opini tersebut penulis membutuhkan argumen -argumen yang kuat. Argumentasi yang dikemukakan harus dibuktikan dengan data dan fakta yang relevan seperti sudah dikemukakan pada studi kelayakan masalah di atas. Pengembangan opini menjadi isi sebuah tulisan membutuhkan proses kreativitas dari inovasi dalam menulis.

c. Gunakan Pola Tuang yang Tepat

Pola tuang yang digunakan dengan model sederhana yang tidak membuat penulis tersiksa dengan materi yang akan dituliskan. Sebaiknya gunakan pola menulis cepat. Menulis cepat adalah menulis dengan mengikuti alur pikir yang tepat dan sistematis.

Menulis seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan stopwatch sebagai instrumen utama dalam mengukur kecepatan menuangkan gagasan. Dalam pola tuang seperti ini penulis dilarang menoleh ke belakang tentang apa yang sudah ditulis. Apabila hal ini dilakukan, maka semua ide penulis yang akan meluncur dalam tulisan terhadang oleh proses melihat kembali apa yang sudah ditulis. Menoleh ke belakang dalam proses ini sebaiknya dijauhkan oleh penulis.

Pengalaman seperti ini banyak dimiliki oleh penulis pemula.
Pola tuang yang tepat adalah dengan menatap ke depan. Artinya, penulis terus melaju mengikuti alur pikir sambil mencari keseimbangan dalam menuangkan gagasan.Menulis cepat seperti ini layaknya mengayuh sepeda, kalau mau sukses pastinya harus maju terus sambil menjaga keseimbangan. Jika berhenti dari mengayuh maka sang penulis akan tersungkur dalam tumpukan paragraf.

d.Sampaikan Solusi yang Jitu
Setelah dirasa pengembangan tulisan sudah dirasa matang dan sempurna, perlu dipikirkan solusi yang tepat terhadap masalah yang dibahas. Solusi bertujuan memberikan arahan kepada pembaca biar tidak dianggap bahwa tulisan itu sebagai kritik buta. Solusi diarahkan pada tindakan atau pandangan penulis terhadap alternatif yang diberikan oleh penulis.Penyampaian solusi sebaiknya menggunakan bahasa yang menarik dan sistematis.Kelogisan sebuah solusi merupakan pemikat bagi pembaca setiap tulisan.

e. Tuliskan Simpulan
Simpulan merupakan pokok- pokok isi tulisan yang sudah dipaparkan. Ada dua teknik penyampaian simpulan yaitu, 1) pola menoleh ke belakang,dan 2) Pola menatap ke depan. Pola menoleh ke belakang adalah sebuah teknik mengungkan kembali pokok- pokok penting yang sudah dikemukakan pada barisan – barisan paragraf. Teknik seperti ini biasa dijumpai pada tulisan jenis artikel. Selanjutnya, pola menatap ke depan adalah meramalkan atau memprediksi tentang hal- hal yang akan terjadi jika masalah yang sudah ditulis tidak ditangani secara serius. Pola seperti ini jarang sekali kita dapatkan dalam jenis tulisan yang bersifat populer. Namum karena ini bahagian dari teknik pengambilan simpulan di sini perlu disampaikan uraiannya

6.Tahap Revisi

Tahap ini merupakan tahap yang sangat menentukan dalam menulis. Merevisi sebuah tulisan yang sudah ditulis di atas rancang buram membutuhkan waktu yang tepat. Setiap diksi yang digunakan harus ditilik secara jelas dengan merujuk pada kaedah kebahasaan yang sempurna.

Kesatuan gagasan antara gerbong paragraf satu dengan lainya harus mempunyai korelasi yang kuat. Ungkapan penghubung juga harus dipilih secara tepat, sehingga antara satu bagian dengan bagian lainya berada dalam satu kesatuan yang padu. Apabila semua hal di atas sudah memenuhi syarat berarti satu tulisan sudah siap ditulis dan siap untuk publis. Silakan pilih media yang tepat dan sesuai untuk melakukan postingan.
Selamat Mencoba

*Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Lhokseumawe

  • Whatsapp

Related posts