MEWUJUDKAN GENERASI QUR’ANI DALAM KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

  • Whatsapp
  • Penulis : Ahlul Fikri, S.Pd.I.,M.Pd
    Kepala SMA Negeri 2 Lhoknga Kabupaten Aceh Besar/Ketua Umum DPW AGPAII Provinsi Aceh

Ramadan Daring – Memiliki anak-anak yang mencintai Al Quran adalah anugerah tak ternilai. Maka memberikan kesempatan kepada mereka untuk berinteraksi sedini mungkin adalah sebuah keharusan. Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya. Demikianlah yang Allah jelaskan di dalam firman-Nya; “Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)

Mengajarkan cinta kepada Al Qur’an bagi anak-anak adalah salah satu tanggung jawab terbesar bagi orang tua. Tidak sedikit generasi muslim yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Jika ini dibiarkan, kita akan berhadapan dengan generasi yang asing dengan Al Qur’an. Bagaimana Al Qur’an bisa menjadi panduan hidup jika membacanya saja tidak bisa. Al Qur’an adalah firman Allah swt, yang jika dibaca akan bernilai ibadah, yang jika dikaji dengan saksama, di dalamnya penuh dengan kekuatan yang sangat dahsyat.

Read More





Menamamkan cinta pada Al Quran sejak dini akan memotivasi mereka untuk menghafal dan belajar bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Mereka yang menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidup akan mendapatkan syafaat di hari akhir nanti.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim).

Salah satu keistimewaan AlQuran adalah diberikan pahala bagi orang yang membacanya. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (AlQuran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Kata “Generasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti: “Turunan, angkatan, atau sekelompok orang yang mengalami hidup dalam masa yang sama, sekelompok masyarakat yang mengalami sejarah pada zaman yang sama.”

Sedangkan kata “Qur’ani” diambil dari kitab al-Quran, yakni kumpulan wahyu Allah kepada Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril, yang disusun dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi berikutnya, dan berpahala bagi yang membacanya. Merupakan kitab suci umat Islam, berisi petunjuk-petunjuk Allah untuk mereka dan dijadikan ajaran pokok dalam hidup beragama mereka, serta diyakini akan mengahntarkan kepada kebehagiaan dunia dan akhirat.

Generasi Qur’ani adalah generasi yang menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup mereka, meyakini kebenaran Al-Quran, membaca, menghafal dan memamahinya dengan benar dan baik, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Generasi itulah yang menjadi idaman bagi umat Islam kapan dan di mana pun mereka hidup dan berada.‎ Dengan Al-Quran ini juga Rasulullah berhasil mencetak sebuah umat yang kuat aqidahnya, benar ibadahnya, dan bagus akhlaknya serta tinggi peradabannya.

Inilah generasi qur’ani. Karenanya, jatuh bangunnya atau maju mundurnya umat Islam sangat tergantung dari pada jauh dekatnya umat dengan kitab sucinya, Al-Quran. Jika umat Islam benar-benar menjadikan Qur’an sebagai pedoman hidupnya niscaya umat akan maju, cerdas, jaya dan sejahtera. Karena Al-Qur’an akan menuntunnya untuk selamat dan sukses di dunia dan akhirat.

Dunia pendidikan saat ini,cenderung stagnan, tidak lagi menjanjikan martabat kemanusiaan yang utama. Kaidah-kaidah moral cenderung diabaikan. Tingginya jenjang pendidikan seseorang tidak berbanding lurus dengan moral-spiritual yang dimilikinya.

Padahal, dalam pandangan Islam, setiap orang tidak hanya membutuhkan ilmu, tapi juga ma’rifah. “Ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar, sementara ma’rifah adalah pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin,” Lingkungan masyarakat juga memegang peranan penting dalam membentuk generasi qur’ani.

Namun sayangnya lingkungan masyarakat saat ini digoyang gelombang tsunami budaya global. Contoh paling nyata adalah budaya silaturahmi tatap muka yang mulai bergeser melalui media sosial, seperti WhatApps, Facebook, dan Twitter. Belum lagi sifat permisif masyarakat terhadap perilaku-perilaku menyimpang. “Sudah saatnya semua pihak memikul amanah besar demi generasi masa depan,

Dalam surat al-Baqarah ayat 185 dikatakan bahwa pada bulan Ramadhan di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang benar dan batil).

“Sebagaimana diketahui bahwa manusia memiliki hati, akal, dan fisik. Maka, jika ingin menjadi generasi Qurani, ketiga komponen ini harus diisi dengan bacaan ayat suci Alquran.

Pertama adalah hati. Jika ingin menjadi generasi Qurani, generasi muda harus selalu menjadikan Alquran sebagai hiasan hati dan makanan bagi hati mereka. Makanan hati adalah dzikir. Salah satu dari bentuk dzikir itu adalah Alquran yang juga disebut ad-Dzikru. Oleh sebab itu, jika ingin menjadi generasi Qurani, yang ruhnya kuat, yang kalbunya kuat, maka dekatkan hati dengan Alquran, apalagi pada bulan suci Ramadhan ini

Kedua, akal. Seorang generasi Qurani harus menjadikan Alquran sebagai pembimbing akal pikirannya. Mereka yang senantiasa ingat kepada Allah akalnya akan dibimbing Allah kepada kebaikan. Jika pikiran sudah dibimbing Allah, pikirannya akan lurus. Akalnya akan mengagungkan dan membesarkan Allah SWT. Itu makanya orang-orang yang berilmu makin tinggi ilmunya semakin mantap keimanannya karena dibimbing oleh akal yang lurus tadi,
Ketiga, fisik.

Generasi Qurani adalah generasi Islam yang menjadikan aktivitas fisiknya di bawah bimbingan Alquran. Amalan-amalannya adalah amalan kebaikan. Dari lisan dan lidah keluar kalimat-kalimat yang baik. Kemudian, seluruh anggota tubuhnya diarahkan untuk kebaikan-kebaikan.”Kakinya melangkah kepada kebaikan, tangannya digunakan untuk menolong orang-orang, dan seluruh ucapan dan tindakannya dilaksanakan dan diarahkan untuk kebaikan,”

Kondisi Umat saat ini

Bak rollercoster, umat Islam yang dulunya berada di atas puncak kejayaan, kini ternyata sedang berada dalam titik nadir. Masa-masa keemasan yang dulunya menghiasi lembaran-lembaran sejarah umat manusia, sekarang hanya menjadi nolstalgia manis pengisi kenangan umat muslim. Apa gerangan?

Boleh jadi salah satu penyebab utama persoalan di atas ialah kian menjauhnya umat dari nilai-nilai yang dikandung Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tercatat, semenjak keruntuhan Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924, musuh-musuh Islam semakin gencar mengembuskan paham-paham duniawi kepada umat muslim. Materialisme, sekularisme, liberalisme, hingga komunisme hanyalah sekelumit contoh kecil dari fenomena gunung es yang selama ini tepat terjadi di depan mata kita. Dan bukannya menangkal semua itu, mayoritas umat muslim malah dengan ‘senang hati’ menyambut ajakan tersebut. Berkedok modernitas, mereka tanpa sadar telah sengaja digiring agar menjauhi Al-Qur’an, dan perlahan membentuk pola pikir “cinta dunia dan takut mati”.

Padahal menilik sejarah permulaan Islam di atas, kejayaan umat ini tidak akan pernah tercapai kecuali dengan memahami dan mengamalkan Al-Qur’an secara totalitas dalam keseharian kita, persis sebagaimana tindak-tanduk generasi sahabat hasil didikan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dahulu. Kita tidak akan pernah menjadi bagian dari masa-masa keemasan Islam yang akan datang, kecuali bila kita menyingkirkan semua pemikiran-pemikiran non-Islam dari hati dan benak kita. Dan tentu, kita tidak akan pernah menyamai –atau setidaknya mendekati– derajat kemuliaan para sahabat kecuali bila kita melakukan hal yang sama dengan mereka: mengambil Al-Qur’an dan melupakan bisikan-bisikan musuh-musuh Islam.

Demikianlah. Telah terbentang di hadapan kita suri tauladan dari sejarah agung para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka telah membuktikan betapa metode pendidikan Al Qu’ran ala Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam telah mengubah mereka dari masyarakat jahiliyah menjadi bangsa dengan peradaban terbesar sepanjang sejrah umat manusia. Akankah kita mengikuti jejak-jejak mereka dan mengulangi prestasi mereka, atau malah sebaliknya? Pilihan ada di tangan Anda.
Wallahu ‘alam bis Shawab.

Related posts