Pesta Ulang Tahun

  • Whatsapp
  • Oleh : Ida Ayu Komang

Aku terbangun oleh suara getaran HP. Dengan mata setengah terbuka kulihat layar ponsel. Ibu. Langsung kuterima panggilan itu dan mengucap assalamu’alaykum dan bertanya beliau sedang apa.

“Ini, lagi masak-masak untuk acara Cinta.” Cinta adalah keponakanku. Dia memutuskan tinggal bersama ibuku-neneknya-setelah ibunya menikah lagi sepeninggal kematian sang ayah.

“Acara apa, Bu?”

“Cinta minta dibuatin pesta ulang tahun ke-17. Kan, tanggal 20 ini dia ultah.”

“Kenapa harus pake acara pesta? Buang-buang uang. Kan, ada kebutuhan yang lebih mendesak. Kenapa Ibu mau, sih?”

“Katanya sekali-sekali. Terus, dia pun sering diundang ke pesta ultah kawannya. Ibunya juga udah kirim uang untuk pesta.”

“Berapa?”

“Lima ratus ribu.”

“Lah, emang lima ratus ribu cukup untuk pesta? Daripada untuk pesta, kenapa nggak untuk bayar uang sekolah aja? Toh, kondisi keuangan dia lagi sulit, kan, Bu?”

“Ibu nggak berani bantah, Nok. Kamu kan, tau sifat mbakyumu. Tukang ngamuk. Ibu udah tua. Males dimarahi anak apalagi cucu. Ya, udah. Ibu tambahin pake duit Ibu. Terus, Cinta juga punya tabungan.” Namaku adalah Denok, putri bungsu Ibu. Anak sulung adalah Mbak Gendis, ibunya Cinta. Ayahku sudah lama meninggal.

Mbak Gendis setahun lalu pindah ke Surabaya mengikuti suami barunya bersama dua anaknya. Sementara Cinta, memilih tinggal bersama ibu di Pekanbaru karena, dia tak menyukai sang ayah tiri.

Penyakit Mbak Gendis yang tak kusuka adalah suka berfoya-foya padahal hidup pas-pasan bahkan susah. Dia menempatkan gengsi di atas segalanya. Untuk memenuhi gaya hidup yang sok berkelas itu, dia seringkali utang sana sini.

Aku tak setuju dengan pesta ulang tahun itu. Tetapi, ibu terlanjur belanja dan menyiapkan tetek bengek ulang tahun Cinta.

Sebagai bulek, aku berharap Cinta tak mewarisi sifat buruk sang ibu. Bagaimanapun, aku sangat sayang ke Cinta. Dia sosok remaja yang cerdas dan berprestasi. Dan, menurutku pemikirannya jauh lebih dewasa dari Mbak Gendis.

Aku pun memutus pembicaraan dan akan menelepon Cinta di saat yang tepat.

Seminggu setelah acara ulang tahun itu, aku menelepon Cinta lewat video WA. Setelah sedikit cerita basa basi, aku pun menanyakan perihal ulang tahun. Aku tinggal di Lampung, jadi hanya bisa berkomunikasi lewat smartphone.

“Bulek mau tanya ke Cinta. Adakah urgensi pesta ulang tahun itu, Nak?”

“Nggak ada, Bulek.”

“Good. Bulek tau Cinta cerdas dan bisa menilai mana yang perlu dan tak perlu. Nah, secara syari’at, perlukah itu?”

“Nggak, Bulek.”

“Oke. Jawaban bijak. Terus, kenapa harus buat acara pesta segala?”

“Sekali-kali, loh, Bulek.”

“Cinta, ketika kita melakukan hal tak berfaedah dengan dalih sekali-sekali, percayalah Nak. Akan ada yang ke dua kali dan seterusnya.”

Cinta diam. Dia menunduk.

“Sekarang Bulek tanya. Repotin Nenek, nggak?” Aku melanjutkan pertanyaan.

“Iya, Bulek. Cinta juga capek abis acara beres-beres.”

“Oke, berarti poinnya udah dapet. Acara ultah kemarin nggak ada guna. Buang-buang uang juga. Nak, kita bukan orang kaya. Uang nenek, ibu, dan Cinta harusnya bisa dipake untuk biaya sekolah. Bulek, kan, udah bilang. Belajarlah untuk memilah dan memilih mana prioritas, mana yang bukan. Mana yang penting, mana yang nggak penting. Jangan ikut sesuatu yang salah, Nak.

Adekmu di sini aja nggak Bulek ajarin ultah. Palingan, dia minta kue tart. Udah. Kami makan aja di rumah. Adek, Bulek, paklek. Nggak pake lilin-lilinan juga. Bulek juga nggak ada ucapin ultah.

Lilin itu api. Api itu sembahan Majusi. Eh, kita ikut. Pasang lilin, tiup, berdo’a. Geblek!
Cinta marah Bulek nasihatin begini?”

“Nggak, Bulek. Yang Bulek bilang benar.”

“Kata nenek, Cinta malu karna sering diundang ke pesta ultah kawan.

Nak, ngapain malu dan harus ikut mereka? Cinta itu cantik, cerdas, berprestasi. Tanpa pesta ultah pun, Cinta itu dikenal orang. Dipuji orang. Disukai orang. Cukup pertahankan itu. Dan, tetap jadi baik. Nggak perlu berlagak sok kaya dengan ngadain pesta ultah.

Apakah ketika kita diundang ke kematian kawan, kita ikut mati juga?”

“Nggak, Bulek.” Lagi-lagi, dia tak membantah.

“Cinta tau sejarah pertama ulang tahun dari mana?”

“Nggak, Bulek.”

“Bulek pernah baca, perayaan ulang tahun itu awalnya berasal dari orang Mesir Kuno. Untuk menghormati Fir’aun. Jadi, setiap tahun, hari penobatannya sebagai raja dan tuhan dirayakan dengan pesta.

Sumber lain menulis, perayaan ulang tahun itu berasal dari orang Yunani. Mereka merayakan ulang tahun bagi dewa dewi mereka dengan menambahkan lilin.

Ada juga yang menyatakan, perayaan ultah itu berasal dari orang Kristen yang merayakan kelahiran Yesus mereka.

Yang pasti, nggak ada satu pun referensi yang menyebutkan ultah itu ada dalam syari’at Islam.

Terlepas dari itu semua, Bulek sedari muda selalu melakukan sesuatu berdasarkan faedahnya. Kalo nggak berfaedah, buat apa kita lakukan.

Jangan ditiru yang salah, Nak. Jangan mewarisi yang nggak bener. Bulek sayang ma Cinta, karna itu Bulek nasihati.”

“Iya, Bulek. Makasih.” Cinta tersenyum.

“Ya, udah. Besok-besok jangan melakukan hal konyol tak ada guna dan buang-buang uang. Jika kita mulai sesuatu yang nggak ada guna, selanjutnya pasti jadi terbiasa. Kelak, saat Cinta sukses, tak perlu juga buat pesta ultah. Lebih baik sedekah ke orang yang membutuhkan. Itu jauh lebih bermanfaat dan pahalanya jelas.”

Lalu, pembicaraan aku dan Cinta pun berakhir. Dia berjanji untuk lebih bijak dalam bersikap dan bertindak. Dan, tak akan lagi mengadakan pesta ulang tahun, sekecil apa pun itu.

Akh … aku hanya tak ingin Cinta seperti Mbak Gendis. Hidup susah karena ingin dianggap kaya.

END

  • Whatsapp

Related posts