Memaknai Semangat Kemenangan Idul Fitri

  • Whatsapp

Oleh: Riri Isthafa Najmi (Koordinator Forum Aceh Menulis dan Ketua Pemuda Relawan Anti Narkoba)

OPINI—Idul Fitri adalah hari istimewa bagi umat muslim sedunia. Di dalamnya terkandung dua peristiwa moralitas manusia yakni dimensi spiritual dan sosial.

Read More



Secara spiritual, Idulfitri kerap diartikan sebagai momen kemenangan bagi umat Islam seusai melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Ketika berpuasa, seseorang menahan lapar dan haus sepanjang hari dan tidak melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

Orang kaya bisa ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang hari-harinya penuh lapar dan haus. Sementara si miskin bisa meningkatkan daya sabarnya di tengah kemiskinan dan kemelaratan yang melilitnya.

Tatkala puasa dijalankan, setiap orang diminta mengendalikan diri, baik jasad maupun hati dan pikiran. Agar tak terjatuh pada dosa, baik dosa privat maupun dosa publik, sehingga bisa mengantar yang bersangkutan kepada “fitrah”nya yang murni.

Minggu terakhir Ramadhan, munajat malam intensif dipanjatkan dengan rendah hati dan suara lirih, tanpa sorotan kamera, pengeras suara, apalagi beduk bertalu-talu. Kaum Muslim giat bertobat karena tak satu orang pun bisa menghindar dari dosa.

Makluk Tuhan Berlumur Dosa

Kemustahilan menghindari dosa menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang daif. Sebuah hadis menyebutkan, An-nas kulluhum khaththa’un wa khair al-khaththa’in al-tawwabun (Semua manusia bersalah dan orang terbaik saat bersalah adalah mereka yang bertobat).

Pengakuan dosa adalah penegasan sebuah kesalahan. Dengan mengakui dosa dan kekhilafan masa lalu, manusia sadar akan kedaifan dirinya. Di saat itulah ia perlu merenungkan kesempurnaan sifat-sifat Tuhan dan terus menanamkannya dalam diri. Penubuhan (embodiment) sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia adalah proses yang tanpa akhir, karena manusia tak akan pernah bisa menjadi Dia, yaitu Allah Swt.

Dengan demikian, tak ada alasan bagi seseorang untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain. Pada hari Idulfitri, secara simbolik orang saling bermaafan, satu dengan yang lain. Di kampung, orang saling berkunjung, dari pintu ke pintu, meminta maaf atas kekeliruan yang pernah dilakukan.

Di lingkungan masyarakat kota dan kosmopolitan, saat silaturahmi fisikal makin tidak mungkin dilakukan, orang melakukan permintaan maaf melalui media teknologi komunikasi seperti SMS (layanan pesan singkat) atau melalui internet dengan mengirimkan e-mail. Bahkan, umat non-Muslim pun ikut ambil bagian dari perayaan Lebaran itu.

Ucapan selamat Idul Fitri dari umat agama lain hilir mudik masuk ke dalam HP umat Islam. Pada hari raya Idulfitri ini, relasi-relasi kemanusiaan yang melintasi batas-batas agama muncul secara tak terkendali. Lebaran akhirnya tak mudah diberi tapal batas ras, kelas, bahkan agama.

Lebaran sebagai Peristiwa Sosial

Dalam konteks masyarakat Indonesia, lebaran tak hanya merupakan “properti” atau hak milik umat Islam. Ia telah menjadi peristiwa sosial yang melibatkan umat agama lain.

Idulfitri tak lagi menjadi kegembiraan eksklusif mereka yang berpuasa, tetapi juga milik mereka yang sepanjang hidupnya tak pernah menjalankan ibadah puasa. Idulfitri tak hanya dirayakan para ulama dan kaum santri, tetapi juga kaum abangan. Kegembiraan Lebaran juga dirasakan semua warga bangsa tanpa mengenal suku, ras, dan agama.

Idulfitri adalah permulaan hari baru, di mana masyarakat telah mengalami perubahan atau transformasi dalam dirinya. Idulfitri bukan hari dengan mobil baru dan pakaian baru (liman labisa al-jadid), tetapi hari di mana individu-individu dengan kesadaran baru (liman tha’athuhu tazidu) akan datang mengisi ruang-ruang publik Aceh dan Indonesia.

Memang bukan manusia sempurna yang tak pernah melakukan kesalahan dan kekhilafan. Tetapi manusia terbaik itu adalah makhluk yang sadar akan keterbatasannya dan belajar dari beberapa kekeliruan yang pernah dibuatnya.

Harapannya, dari tangan manusia-manusia baru ini akan lahir para generasi semangat yang baru yang menciptakan mindset yang rabbani dan berserah diri.
Manusia yang mandiri, tanpa pengkhultusan, dan diridai Allah Swt. Selamat hari raya Idulfitri, 1 Syawal 1441 Hijriah. Minal aidhin walfaizin. Mohon maaf lahir dan batin.

Related posts