Meraih Lailatul Qadar di Penghujung Ramadan

  • Whatsapp

Oleh: Saifullah, S.Pd.I., MA*

RAMADAN DARING—–Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung bulan Ramadhan 1441 H, artinya sebentar lagi bulan yang penuh berkah ini akan meninggalkan kita semua. Begitu cepat waktu berlalu, ibarat kita semua adalah penumpang kapal, yang sibuk duduk terlena di dalamnya. Kapal akan bersiap-siap untuk berangkat. Bagaimana dengan kita? Sudah cukupkah amal kita selama ini. Jangan sampai waktu kita habis selama ini hanya untuk perkara tidak berguna, karena kita belum tentu bisa ketemu dengan Ramadhan berikutnya.

Sebelum Ramadhan pergi, marilah kita bersungguh-sungguh mempersiapkan diri dengan persiapan yang optimal disisa penghujung Ramadhan ini dengan berbagai amalan ibadah, walaupun tersisa hanya beberapa hari lagi kedepan, jangan biarkan Ramadhan pergi begitu saja sedangkan kita menjadi bagian orang yang tidak menikmati keutamaan Ramadhan dan kelak kita akan menyesal, padahal Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan dan menjadi ladang amal bagi kita.

Ada beberapa kebiasaan yang menarik perhatian di tengah-tengah masyarakat kita saat ini, kebanyakan di hari-hari akhir Ramadhan, sudah mulai meninggalkan ibadah dan sibuk dengan mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk lebaran, seperti halnya sebagian orang yang terlalu sibuk dengan membuat kue lebaran di malam hari (lailatul bakar), sibuk dengan baju lebaran, sibuk dengan mudik dan bahkan ada yang sibuk memikirkan tentang hari lebaran itu sendiri.

Para sahabat Rasulullah Saw., atau para ulama dahulu menangis tersedu karena berpisah dengan Ramadhan, hari-hari mereka begitu fokus dan khusyuk memanfaatkan setiap detik waktu Ramadhan apalagi di sepuluh terakhir, mereka fokus, i’tikaf, mengurangi tidur, semakin rajin dalam ketaatan, mereka biarkan kelelahan dalam ketaatan, bagi mereka, waktu Ramadhan itu sangat terbatas, jadi mereka tidak sia-siakan. Sementara kita, masih jauh dan sangat jauh, kadang seakan menjalani rutinitas Ramadhan hanya sebatas kewajiban, baca al-Qur’an juga kurang, amaliah-amaliah lainnya juga seperti biasa.

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini adalah kesempatan yang baik bagi kita untuk banyak beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perhatian khusus di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Beliau memaksimalkan segala bentuk ibadah dan amal shaleh di dalamnya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim sebagai umatnya mencontohkan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam kesungguhan beliau menjalankan ibadah terlebih di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Dari Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:
“Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim, no. 1175)

Hadits ini menunjukkan semangat dan keutamaan beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hadits ini menceritakan sosok baginda Nabi Muhammad Saw., sebagai manusia yang paling giat dalam meraih ridha Allah Swt., dengan bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu-waktu penuh untuk meningkatkan kualitas ketaatan, beribadah, bertaqarrub, dan beri’tikaf. Kesungguhan beliau beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beribadah di waktu selainnya.

Pada penghujung bulan Ramadhan, tepatnya di sepuluh malam yang terakhir terdapat satu malam yang disebut dengan malam Lailatul Qadar, yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan yang mana pahala ibadah seorang hamba akan dilipat gandakan. Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Allah Swt., berfirman dalam al-Quran surah al-Qadr ayat 1-3, yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”

Seperti yang dijelaskan Rasulullah Saw., dalam banyak hadits bahwa, sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan terdapat begitu banyak keutamaan, kebaikan, serta pahala yang Allah sediakan bagi hamba-hamba-Nya. Karena di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, Allah telah mempersiapkan satu malam yang sungguh istimewa, dimana malam tersebut lebih baik dari seribu bulan lainnya serta malam saat malaikat turun membawa rahmat dari-Nya.

Maka dari itu, setiap muslim hendaknya bersungguh-sungguh untuk bisa meraih Lailatul Qadar, terutama di 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw., sangat memberikan perhatian penuh pada malam-malam yang diharapkan turunnya Lailatul Qadar dengan memperbanyak amalan di dalamnya. Apa saja amalan yang dianjurkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan tersebut. Berikut beberapa amalan utama yang bisa dihidupkan kaum muslimin di penghujung Ramadhan, antara lain:

1. Salat Malam (Qiyamul Lail).

Qiyamul Lail adalah salat malam yang dikerjakan setelah shalat fardhu Isya hingga terbit fajar. Di bulan Ramadhan, shalat malam ini disebut dengan istilah Qaiyam Ramadhan di antaranya ada shalat Tarawih, Witir, Tahajjud dan shalat sunnah lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di ceritakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa, pada sepuluh malam terakhir, Rasulullah Saw., tidak tidur, lambung beliau dan para sahabat amat jauh dari tempat tidur. Beliau menghidupkan malam-malam tersebut untuk beribadah, shalat, zikir, dan lain-lain hingga waktu fajar. Kebiasaan beribadah di sepuluh malam terakhir juga dilakukan oleh seluruh anggota keluarga beliau untuk sama-sama menikmati beribadah sepanjang malam. Sebagaimana Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.”

Berdasarkan keterangan dari hadits di atas, idealnya semakin menuju akhir Ramadhan, semakin kencang pula umat Islam beribadah, terutama di malam hari. Semakin kuat semangatnya dalam taqarrub dan tentu saja semakin bergairah mengisi malam yang tersisa di bulan Ramadhan dengan beragam ibadah di dalamnya seperti shalat Tarawih, Witir, Tahajjud dan shalat sunnah lainnya. Betapa rugi orang yang bertemu akhir Ramadhan, tetapi ia enggan dan tidak bersungguh-sungguh menikmati malam dengan memperbanyak sujud dan rukuk kepada-Nya.

2. I’tikaf
I’tikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. I’tikaf bisa dilakukan di setiap waktu, namun di bulan Ramadan ini sebaiknya lebih ditekankan lagi, apalagi menjelang sepuluh hari bulan Ramadhan. I’tikaf memiliki kekhususan tempat dan aktivitas yaitu masjid dengan aktivitas ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir, berdo’a, membaca al-Quran, shalat sunnah, bershalawat, bertaubat, beristigfar, dan lainnya.

Sebagaimana hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan iktikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau melakukan iktikaf setelahnya.” (HR. al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).
Di masa pandemi Covid-19 ini, kemungkinan sebagian umat Islam di Indonesia tidak dapat beri’tikaf di masjid, akan tetapi seluruh aktivitas i’tikaf dapat dilakukan di rumah. Jika ingin tetap melakukan i’tikaf secara individu di masjid, maka hendaklah dilakukan dengan memenui protokol kesehatan seperti berbadan sehat, membawa sajadah sendiri, memakai masker, berwudhu kembali di masjid, dan tidak bersalaman.
Melansir unggahan Instagram Ustadz Abdul Shomad yang dipublikasi pada Rabu (13/5/2020), Ustadz Abdul Shomad menjelaskan hukum dan tata cara beri’tikaf di rumah saat masa pandemi covid 19.

“Seminim-minim i’tikaf, lama dikit dari ruku’. Sementara untuk waktu maksimalnya, seperti yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, beliau pernah 20 hari tidak keluar masjid.”

Sedangkan mengenai tempat ber’itikaf Ustadz Abdul Shomad menjelaskan beberapa tempat beri’tikaf, pertama, Masjid Jami’ (ada shalat jumatnya), kedua, Masjid saja (Mushalla, Surau), dan ketiga, Mushalla al-Bait (tempat shalat dalam rumah). “Nah di masa pandemi corona ini, karena darurat bisa ambil yang nomor 3.” Jelas Ustadz Abdul Shomad.

3. Membaca al-Qur’an

Ramadhan merupakan bulan al-Qur’an karena di bulan inilah Allah Swt., menurunkan al-Qur’an al-Karim. Sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (QS. Al-Baqarah: 185).

Meningkatkan membaca al-Qur’an menjadi salah satu ibadah utama di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tidak sedikit umat Islam yang larut dalam tilawah al-Qur’an sepanjang malam baik di masjid maupun di rumah. Tilawah al-Qur’an adalah ibadah ringan dan memiliki keutamaan yang besar. Tradisi mengejar khataman al-Qur’an di akhir Ramadhan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pribadi muslim, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan aktivitas pekerjaan, sehingga khataman al-Qur’an 1 kali menjadi target realistis. Apapun bentuk motivasinya, tilawah al-Qur’an harus lebih digiatkan di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan sangat ditekankan Rasulullah Saw., Salah satu keutamaan membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan adalah dilipatgandakan pahalanya. Jika 1 huruf diganjar 10 kebaikan (rahmat) dari Allah, maka pada bulan Ramadhan, ganjarannya bisa sampai 700 kali lipat.

4. Memperbanyak Sedekah

Allah Swt., berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS. al-Hadid ayat 18).

Sedekah merupakan sebuah amalan yang utama. Karena keutamaan ini tidak hanya didapatkan bagi orang yang sedang bersedekah saja. Melainkan juga dinikmati oleh orang yang menerimanya. Jelas, hal ini menggambarkan bahwa sedekah tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, namun juga mendekatkan hubungan antar sesama (sosial).

Meningkatkan sedekah menjadi salah satu amalan utama di sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai ungkapan syukur atas nikmat dipertemukan Ramadhan, serta sebagai penyempurna ibadah puasa dan ibadah-ibadah individu lainnya. Karena tidaklah sempurna keimanan dan kualitas ibadah seseorang kecuali jika adanya keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial.

Sebagaimana firman Allah Swt.,: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).

Bersedekah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sangat dianjurkan dalam rangka berbagi kebahagiaan dan memberikan bekal makanan di hari raya Idul Fitri bagi dhuafa dan fakir miskin. Bersedekah dapat berbentuk harta, pangan, pakaian, paket sedekah untuk anak yatim dan dhuafa, dan lain sebagainya. Apalagi dalam kondisi musibah banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh Tengah, kebakaran di Aceh Barat Daya (Abdya) dan dibeberapa daerah lainnya di Aceh maupun di Indonesia.

Banyak atau sedikitnya dalam kita bersedekah, ternyata berpengaruh dalam menjauhkan diri kita dari api neraka. Semakin banyak sedekah, semakin jauh kita darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Aksi cepat tanggap mengajak kita semua untuk senantiasa bersedekah di penghujung terakhir Ramadhan untuk melengkapi ibadah-ibadah kita. Barangkali, di saat kita bersedekah itu adalah tepat di saat malam Lailatul Qadar. Semoga kita menjadi hamba-hamba yang meraih malam Laitul Qadar dengan berbagai amalan ibadah yang kita lakukan.

Itulah beberapa amalan di sepuluh terakhi bulan Ramadhan. Masih banyak amal ibadah lainnya yang bisa kita lakukan untuk meraih keutamaan, keberkahan serta pahala di sisi Allah Swt., terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadhan yang mulia ini. Marilah kita manfaatkan, karena detik-detik sepuluh malam terakhir amatlah mahal, janganlah disibukkan dengan kelalaian.

Ya Allah, mudahkanlah kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar dengan bisa mengisi hari-hari terakhir kami di bulan Ramadhan ini dengan memperbanyak amalan shalih. Amin Ya Rabbal ‘Alamin

Penulis : Guru PAI SMAN Unggul Pidie Jaya, Pengurus DPW AGPAII Propinsi Aceh.

Related posts