Pengaruh Komunikasi Sosial di Tengah Wabah Covid-19

  • Whatsapp

Oleh: Hamdani S.Pd., M.Pd
(Kepala SMAN1 Bireuen, Mahasiswa Program Doktor UINSU Medan)

OPINI—Dilema yang sangat berat yang sedang di hadapi masyarakat sekarang ini adalah baik masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional secara bersekala besar merupakan tentang isu penyebaran virus corona virus desease 19 atau covid-19, sehingga dapat mempengaruhi perubahan komunikasi sosial dalam kehidupan masyarakat.

Ini terjadi karana salah satunya di pengaruhi dengan adanya kemajuan teknologi imformasi dan komunikasi yang selalu terapdate dalam kehidupan masyarakat, sehingga mansyarakat dengan mudah terapdate tentang isu tersebut melalui sebuah media, masyarakat dituntut harus terbiasa dan bisa menggunakan teknologi tersebut dalam kehidupannya.

Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akibat pengaruh komunikasi sosiaal di tengah wabah covid 19 adalah cara berkomunikasi, cara berpikir, dan cara berperilaku sesama manusia itu sendiri.
Perubahan sosial komunikasi ini terjadi sebenarnya pengaruh pandemi corona virus desease 19 atau covid-19 ini sejalan dengan perkembangan teknologi imformasi dan komunikasi melalui media digital secara tidak sadar manusia sudah merealisasikan dalam kehidupannya.

Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Theories of Human Communication (Sendjaja, 2014), mengatakan ada tiga pendekatan dalam berkomunikasi antarmanusia.

Pertama adalah Pendekatan scientific (ilmiah-empiris). Pendekatan ini umumnya berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta. Cara pandang yang menekankan unsur objektivitas dan pemisahan antara objek yang ingin diketahui dan diteliti dan subjek pelaku atau pengamat.

Kedua adalah Pendekatan Humanistic (Humaniora Interpretatif). Pendekatan Ini merupakan cara pandang yang mengasosiasikan dengan prinsip subjektivitas. Manusia dapat mengamati sikap dan perilaku seseorang di sekelilingnya, sehingga dapat membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan seseorang di lingkungan masyarakat itu sendiri.

Ketiga adalah Pendekatan Social Sciences (Ilmu Sosial). Pendekatan Ini merupakan gabungan antarai pendekatan scientific dan pendekatan humanistic yaitu di mana objek studinya adalah kehidupan manusia, termasuk di dalamnya mengatahui karakter atau tingkah laku manusia.
Jadi pengaruh corona virus desease 19 atau civid 19 jelas bahwa manusia membutuhkan kesempatan secara langsung untuk berpartisipasi lungsung dan aktif dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Secara humanis jauh dari ideal hubungan manusia di tengah wabah pandemic corona virus desease 19 atau Covid-19.
Social Distancing dalam Interaksi komunikasi sosial

Sejumlah masyarakat melakukan jaga jarak aman di area masing-masing, baik di kota maupun dipedesaan. Penerapan suatu prosedur social distancing ini perlu diterapkan kepada masyarakat karena kebanyakan masyarakat masih melakukan aktivitas di luar, guna untuk memghindari penyebaran corona virus desease 19 (Covid-19).

Social distancing atau menjaga jarak merupakan salah satu program yang terbaik yang harus di patuhi oleh segenap lapisan masyarakat, dan semua ini tidak membuat manusia tidak bergerak atau “mati gaya”. Hanya saja belum terbiasa secara penuh dalam keseharian hidup dalam keadaan yang biasanya bebas bergerak ke keadaan yang tidak bisa bergerak.

Padahal Komunikasi digital dalam kehidupan sosial sangat dekat dimana manusia yang sebenarnya berkontribusi besar terhadap lingkungan dalam interaksi sosial.

Setiap manusia masih tetap bisa berinteraksi dalam kehidupan sosial melalui berbagai media yang sedang berkembang secara global. Maka disinilah tuntutan zaman yang harus bisa di ikuti sesuai dengan kecanggihan ilmu teknologi imformasi dan komunikasi, baik komunkasi digital maupun komunikasi dalam bentuk lain, supaya interaksi sosial tetap bejalan dalam kehidupan masyarakat. Media-media yang tersedia dapat dimanfaatkan sehingga komunikasi sosial tetap bejalan tanpa ada hambatan walaupun kondisi sedang di landa dengan wabah corona virus desease 19 ( covid 19) sebagai media pembelajaran.media pemasaran, media interaksi antar sesama.

Melalui media-media tersebut tentu komunikasi dapat menjembatani sert memberikan imformasi baik berupa edukatif, informatif, dan persuasif. Media yang digunakan di sini tentu tanpa melakukan kontak fisik di antara sesama manusia dalam melakukan interaksi sosial baik perseorangan maupun secara kelompok,seperti: whatsapp, facebook, instagram, twitter dan ling lainnya.
Ini merupakan sudah menjadi sebuah gaya hidup manusia di era globalisasi dengan adanya perkembnagn teknologi imformasi dan komunikasi sekarang ini, termasuk masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat internasional pada umumnya. Salah satu contoh misalnya, kebiasaan yang sering terjadi setap individu masyrakat adalah bangun tidur langsung memegang Hp nya untuk melihat sesuatu statusnya mengecek sms masuk, dan lain sebagainya.

Sebagai mana kita ketahui sebelum terjadi wabahnya pandemi corona virus desease 19 (Covid-19), setiap manusia sering kali disibukkan dengan berbagaui aktivitas interaksinya melalui komunikasi sosial, dan komunikasi sosial tersebut dilakukan tidak dilakukan secara kontak fisik ataupun saling berhadapan seorang komunikator atau sumber imformasi dengan seorang komunikan atau penerima pesan.

Tetapi masyarakat tetap bisa melakukan interaksi sosial dengan menggunakan teknologi imformasi dan komunikasi, terutama dengan menggunakan berbagai media sosial yang sudah berkembang di kalalangan masyarakat itu sendiri.

Yang menjadi keprihatinan dan kekhawatiran bagi masyarakat adalah terhadap generasi penerus, yang tidak bisa dipisahkan dengan keakrabannya secara langsung, karena mareka sepertinya memiliki dunianya sendiri dalam pegaulan antar sesamanya, belum bisa menjaga sosial distancing di setiap daerah.

Sehingga semua kebijakan pemerintah dengan adanya regulasi pembatasan jarak sosial atau sosial distancing secara umum masyarakat mengganggap sebuah keasalahan yang besar.

Dengan adanya perkembanagan teknologi imformasi dan komunikasi sedemikian pesat saat ini, sehingga masyarakat masih bisa tetap saling terhubung tanpa harus secara tatap muka secara fisik dalam sebuah ruangan atau tempat yang sama. Sebagai mana pernah di kutip dari sebuah siaran media CTV news yang diungkapkan oleh ( Dr Maria Van Kerkhove ), Selaku Ketua Tim Teknis Tanggap corona virus desease 19 (Covid-19) WHO.

Perangi Virus Corona melalui Social Distancing
Sejumlah masyarakat wajib melakukan jaga jarak aman di area publik sepeti di kawasan umum, seperti sekolah, kantor- kantor pemerintahan dan kantor bumn lainnya. Jaga jarak atau memutuskan mata rantai, selaku prosedur social distancing memang harus diterapkan kepada masyarakat umum secara brskala besar untuk memghindari terjadinya penyebaran corona virus desease 19 (Covid-19).

Himbauan social distancing diterapkan untuk memerangi penyebaran corona virus desease 19 ( covid 19) merupakan intruksi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) . karena corona virus desease 19 (Covid19) sangat mudah menular melalui tetesan atau percikan kecil air yang dikeluarkan seseorang saat bersin ataupun batuk.
Maka social distancing atau pembatasan sosial, dalam Pedoman Penanganan Cepat Medis dan Kesehatan Masyarakat COVID-19 di Indonesia, adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah. Hal ini ditujukan pada semua orang di wilayah yang diduga terjangkit virus corona.

Penyebaran virus corona menjadi ancaman serius bagi dunia. Semakin meningkatnya pasien yang terkena virus corona, social distancing ini mengarahkan masyarakat mengurangi interaksi sosialnya dalam menghadapi pandemic Covid-19.

Pengurangan interaksi sosial melalui social distancing guna pencegahan penyebaran virus corona yang lebih meluas ini dengan cara masyarakat pembatasan penggunaan fasilitas umum dan menjaga jarak interaksi. Masyarakat diminta untuk berdiam di rumah dengan melakukan belajar dari rumah bagi pelajar, bekerja dari rumah (Work From Home/WFH), dan tidak melakukan aktvitas ke tempat-tempat keramaian guna memutuskan mata rantai penyebaran yang kian bertambah.

Jangan Terlalu Cemas
Social distancing ini lebih tepat menitikberatkan pada physical distancing. Kontak fisik secara langsung dengan jarak berdekatan dapat memberikan peluang penyebaran virus corona.

Sayang nampaknya kita mengalami kelemahan dalam memahami social distancing di hadapan publik sehingga seolah kita hilang peranannya sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi dengan sesama. Hanya pemikiran manusia yang menjadi culture (budaya).

Dengan demikian, diharapkan kita hendaknya tidak terlalu cemas dengan perubahan yang terjadi dalam sosial saat ini yang awalnya karena tuntutan kondisi.
Interaksi kita memang terbatas pada jarak, namun tidak terbatas dalam berinteraksi meskipun ada kalanya akan lebih efektif jika dilakukan secara komunikasi langsung secara tatap muka dalam satu ruang (komunikasi interpersonal).[]



Related posts

Paris

Paris