Puasa, Tantangan Anak VS HP

  • Whatsapp

Oleh : Darwazi Dahlan S.Pd.I*

RAMADAN DARING—Ketika sampai di bulan Ramadhan semua orang bahagia, baik laki-laki, perempuan, orang tua, pemuda maupun anak-anak (remaja), kebahagiaan itu kembali kepada individu masing-masing, bahagia bagaimana…?

Ada yang bahagia karena memang bulan ramadan adalah bulan yang mulia, dimana di bulan amadan setiap amal kebaikan begitu spesial nilai ibadahnya berlipat-lipat sesuai dengan kuantitas dan kualitas dalam melaksanakan setiap perintah Allah swt dan petunjuk Rasulullah saw, dan pahala puasa Allah langsung yang memberi balasan.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya : ”Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman’ kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untukku. Aku sendiri yang membalasnya(HR.Bukhari dan MUSLIM).

Ada yang bahagia karena bulan ramadan adalah bulan keluarga, di mana di bulan ramadan frekuensi bersama keluarga sangat berbeda bila dibandingkan dengan bulan yang lain, banyak momen keluarga di bulan puasa tidak terjadi di bulan lain.

Kebersamaan dengan keluarga terasa begitu indah ketika semua berkumpul, bercanda, bermain bahkan beribadah berjama’ah.

Begitu juga anak-anak, kebahagiaan mereka juga berbeda-beda, ada yang bahagia karena bisa shalat Tarawih, tadarus bersama. Ada yang bahagia karena di bulan ramadhan banyak makanan dan minuman yang beraneka ragam, ada yang bahagia karena libur panjang ditambah lagi dengan keadaan yang menimpa di seluruh dunia dengan Covid19, ketika libur yang begitu lama mayoritas anak-anak menghabiskan waktu dengan main-main dan melakukan hal yang sia-sia.

Salah satu hal yang banyak nilai negatifnya adalah lalai dengan Hp, waktu di bulan puasa hanya diisi dengan main hp, duduk berkelompok main game bareng, bukan belajar diskusi bersama, mainnya di tempat nongkrongan tertentu bahkan mainnya di tempat ibadah yaitu meunasah.

Yang ada hp asyik dengan game masing-masing bahkan main game bareng, hanya sedikit yang tidak punya hp asyik menemani sambil nonton kasih semangat walaupun ada rasa dalam hati cemburu ingin main juga.

Fenomena yang terjadi ini wajib menjadi perhatian berbagai pihak, khususnya yang paling utama adalah pihak keluarga, di mana orang tua adalah pimpinan Negara terkecil.

Orang tua yang membuat undang-undang dan peraturan keluarga masing-masing sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Orang Tua bisa memanajemen waktu dan menCCTV setiap kegiatan Anak.

Kasih sayang orang tua kepada anak bukan dengan menuruti setiap permintaan si anak, orang tua harus bisa memilih dan memilah lebih besar manfaat atau mudharat, jangan sampai terkesan memanjakan, yang terjadi sekarang Hp anak lebih mahal dan canggih dari orang tua dan guru, bukan berarti haram membeli hp kepada anak tapi sadarilah bahwa bila hp itu bisa membuat anak lebih rajin Ibadah, shalat, mengaji, belajar dan lainnya yang bernilai positif maka itu patut kita syukuri.

Tapi bila terjadi sebaliknya, shalat malas, mengaji terbata-bata, belajar enggan, yang kita suruh tidak dikerjakan bahkan sering membantah maka siap-siap semua itu akan diminta pertanggungjawaban.

Ada istilah lebih baik menangis sekarang daripada menangis ketika anak sudah dewasa, lebih baik anak menangis sekarang karena tidak kita beli hp disebabkan kawan-kawannya semua ada hp daripada nanti.

Kita sebagai orang tua menangis tiada henti ketika melihat anak yang sudah dewasa tapi sikap dan pikirannya masih seperti anak-anak.

Silahkan beli hp tapi wajib kontrol, jangan sampai anak buat password tapi kita orang tua tidak tau membukanya, dalam sebuah pepatah aceh “bek sampe kreuh ban likot daripada ban keu (jangan sampai keras roda belakang daripada roda depan” ini bermakna jangan sampai anak yang mengatur orang tua bukan orang tua yang mengatur anak.

Bulan puasa ini hendaknya anak juga bisa menahan nafsu terhadap hp, mari Kita bimbing anak agar dibulan puasa ini lebih menguatkan Imtak(iman dan takwa) dengan melakukan berbagai macam amal shaleh dengan cara melibatkan mereka dalam setiap kegiatan keagamaan.

Anak adalah penerus generasi, semua kita mau nantinya generasi yang akan datang menjadi generasi yang lebih baik dalam segala bidang baik dunia maupun akhirat, maka dari itu sejak dini ditanamkan ilmu tauhid sehingga mahabbah (cinta) kepada ALLAH SWT adalah number satu.

Kalau perintah Allah dilaksanakan maka dengan sendirinya anak akan lebih berbakti kepada orang tua karena salah satu perintah wajib adalah berbakti kepada kedua orang ua, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.[]

*Penulis adalah Guru SMPN Ali Hasjmy dan Ketua AGPAII Aceh Besar.

Related posts