Ramadan Media Transformasi Dimensi Sosial

  • Whatsapp

Oleh: Syarifah Musanna, S.Ag, MA*

OPINI—Bulan Ramadhan di tahun 1441 Hijriah ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Gelombang besar wabah Corona yang melanda dunia termasuk Indonesia, sedang berjuang melawan wabah virus Corona. Hal ini tentunya sangat beralasan untuk dijadikan salah satu penyebab dewasa ini. Covid 19 telah menabur rasa takut di mana-mana, hati gamang menghadirkan kerisauan dan kecemasan dalam hidup kita, seakan bumi terasa gelap dibuatnya.

Read More



Badai Corona menerjang yang menembus dunia tak berbatas. Banyak tangisan pedih pecah di malam yang hening menunggu datangnya harapan akan sebuah keniscayaan dan kepastian untuk menghapuskan duka nestapa yang telah telah

Islam adalah agama yang sempurna, tidak hanya berbicara dimensi ibadah secara vertikal atau mahdhah semata, tetapi juga ibadah secara horizontal (ghairu mahdhah). Islam menekankan pentingnya hubungan manusia (hablun minannas) dan hubungan dengan Allah Swt (hablun minallah).

Puasa di bulan Ramadhan mencerminkan keduanya, yakni ibadah vertikal atau ketaatan kepada Allah Swt sebagai wujud dari kesalehan individu serta ibadah horizontal manifestasi dari kesalehan sosial.

Puasa (shaum) dibulan Ramadhan dapat menumbuhkan nilai-nilai empati dalam orang muslim. Dalam puasa, orang-orang kaya dapat merasakan penderitaan orang-orang miskin dalam menghadapi kekurangan-kekurangan dalam hidup mereka.

Mereka dapat merasakan bagaimana orang-orang miskin harus menahan lapar disebabkan kekurangan materi dan uang untuk membeli makanan sekedar untuk membuat mereka tegak dan bertahan hidup.

Bangsa Indonesia sekarang sedang dihadapkan dengan wabah corona, dimana seluruh mata dunia memandang akan hal ini menjadi persoalan global dan pandemik. Oleh karna itu banyak hal yang dapat kita dermakan untuk membantu saudara-saudara kita.

Badai Corona dan Solidaritas Sosial Antar Sesama
Dampak penyebaran virus yang sudah menyebar di berbagai negara menyebabkan pertumbuham ekonomi di berbagai belahan dunia menjadi lemah dan lumpuh. Dampaknya dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia mulai dari pedagang besar hingga pedagang kecil. Bahkan ada yang terpaksa menutup usahanya. Para ojek online yang kehilangan konsumennya, para sopir bus dan angkot yang terpaksa berhenti, karyawan di berbagai perusahaan diputuskan hubungan kerja (PHK), buruh banyak yang dirumahkan sampai dengan profesi pemulung sampah juga terkena imbas yang kehilangan pencahariannya.

Kelangkaan kebutuhan pokok sehingga harga kebutuhan pokok melambung dan ini turut dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan.

Sikap persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) dalam konteks ibadah puasa (shaum) di tengah pandemi dapat diperlihatkan umat muslim di Indonesia dengan cara saling tolong menolong (At-ta’awun) yang dapat meringankan beban sesama saudara. Ukhuwah Islamiyah mudah diucapkan, namun sulit dalam praktik dan aplikasinya dalam berbagai situasi serta kondisi kehidupan sehari-hari. Perlu disadari bahwa mewujudkan persaudaraan Islam dalam arti yang sebenarnya merupakan kewajiban setiap setiap muslim.

Kendatipun tak ada pakta perjanjian tertulis, namun umat Islam dengan ikatan ukhuwah islamiyah haruslah memandang sesama muslim sebagai saudaranya atas dasar kesamaan pandangan hidup. Andaikan kita diminta untuk memilih antara kemudahan dan kesulitan, nyaris setiap kita lebih cenderung memilih kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan. Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada rintangan dan hambatan yang membuat perjalanan hidup tidak seperti yang diharapkan.

Kondisi bangsa yang sedang dilanda wabah covid 19 seperti sekarang ini, membutuhkan uluran tangan (sikap dermawan) dalam mensikapinya sehingga rasa persaudaraan benar-benar terpatri dilubuk hati orang muslim. Pemahaman Islam secara makro dan sempurna (kaffah) menjadikan Islam sebagai solusi bagi segala permasalahan bangsa, karena Islam adalah agama yang sempurna, Islam meliputi segala dimensi kehidupan. Dalam kontek ini Islam sebagai rahmatal lil ‘alamin, rahmat untuk alam semesta termasuk manusia didalamnya.

Ibadah puasa merupakan ibadah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita. Dan ketakwaan ini tercermin dari dua hal penting dalam kehidupan kita. Pertama adalah Kesalehan individual, yang kedua kesalehan sosial. Kesalehan individual tercermin dari perilaku keseharian kita, yang jujur, amanah, bersikap rendah hati, tawadhu’, sederhana dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari kedermawanan kita, tanggungjawab sosial kita, perhatian kita, atensi kita, empati kita, simpati kita kepada orang lain. Terutama kepada orang-orang yang berada dalam posisi sulit seperti sekarang ini.

Situasi pandemi dapat menjadi ajang pembuktian bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki rasa persaudaraan (ukhuwah) yang kuat, baik itu persaudaraan antar sesama muslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah wathaniyah), maupun persaudaraan antarsesama manusia (ukhuwah basyariyah). Dengan semangat ukhuwah diharapkan bangsa Indonesia mampu melewati ujian berat ini.

Setiap elemen masyarakat saling mendukung, saling tolong-menolong dan saling bantu-membantu dan bahu membahu dalam menghadapi berbagai persoalan. Seseorang yang diberi kekuatan agar membantu kaum yang lemah, yang kaya membantu yang miskin, maka keadaan sesulit apapun pasti dapat teratasi. Karena agama diturunkan oleh Allah Swt untuk manusia dan manusia tidak pernah lepas dari ketergantungannya sehingga dengan demikian ajaran tauhid tidak terlepas dari dimensi sosialnya.

Seorang yang memiliki sikap dermawanl rela berkorban untuk kepentingan yang lainnya, mereka rela menahan haus, lapar, bahkan juga rela mempertaruhkan nyawanya untuk kepentingan dan kemaslahatan umat. Seperti halnya para medis diberbagai rumah sakit dan puskesmas seantero negeri Indonesia yang tak kenal lelah meski maut merenggut mereka tak pernah dihiraukan. Jasa mereka dirindukan umat tak terbatas oleh waktu.

Mencintai kebaikan untuk orang lain (hubbul khair) adalah satu ciri utama orang yang memiliki sikap itsar. Bahkan tidak sekedar mencintai kebaikan, mereka juga berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kemaslahatan bagi yang lainnya. Mereka mencintai dan mengusahakan kebaikan untuk orang lainnya sebagaimana untuk dirinya sendiri. Sikap seperti inilah yang hendaknya dimiliki oleh setiap muslim.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak beriman seseorang dari sampai kalian mencintai saudaranya mencitai dirinya sendiri” (HR. Mutafaqun ‘Alaih)

Banyak kisah para salafush shalih yang dapat direnungkan dan dijadikan sebagai ‘ibrah pelajaran dalam kehidupan. Sebagaimana dinukilkan dari kitab Minhajul Muslim karya syaikh Abu Bakar Jazairiy rahimahullah yang mengisahkan kejadian luar biasa saat perang Yarmuk. Kisah yang dialami oleh sahabat rasulullah yang bernama Hudzaifah Al-Adawi yang berusaha mencari sepupu (anak pamannya) yang terluka parah di medan perang untuk memberinya minum. Akhirnya dia menemukan sepupunya tersebut. Tetapi sebelum sepupunya tersebut disuguhkan minum tiba-tiba terdengar rintihan orang yang kehausan, sepupunya pun mengisyaratkan ke Hudzaifah untuk memberi orang tersebut minum. Hudzaifah pun menuju orang tersebut dan tenyata dia adalah Hisyam bin Ash (saudara Amr bin Ash). Belum sempat Hisyam bin Ash minum ternyata terdengar suara orang lain kehausan juga, lalu Hisyam pun meminta Hudzaifah untuk memberinya minum terlebih dahulu. Saat Hudzaifah menghampiri, orang tersebut ternyata sudah meninggal. Hudzaifah pun kembali ke tempat Hisyam bin Ash dan ternyata beliau juga sudah tiada. Lalu ia menuju kembali ketempat sepupunya ternyata juga telah meninggal.

Ilustrasi dalam kisah tersebut diatas adalah kisah itsar yang luar biasa yang menggambarkan betapa pentingnya mendahulukan saudaranya meskipun dalam posisi yang sangat sulit dan tantangannya adalah nyawa mereka. Para sahabat adalah contoh generasi awal Islam yang hidup dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

Sikap ringan tangan dan berlapang dada untuk orang lain merupakan orientasi pemikiran bernilai luhur yang diajarkan oleh agama Islam. Sementara pemikiran berorientasi individu adalah semangat beramal dan berkaya yang terbatas untuk kepentingan diri sendiri (individualistik) yang disebut dengan bakhil baik secara harta, pikiran, tenaga, maupun jenis kemampuan lainnya. Oleh karena itu, ibadah puasa kita lakukan dengan penuh kesadaran dan penuh keyakinan dengan tujuan menjadi insan yang muttaqin.

Semoga Allah Swt memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua dalam menghadapi berbagai persoalan dan mengangkat wabah Covid-19 yang melanda dunia pada umumnya teruntuk Indonesia khusunya akan segera berakhir sehingga menjadi negeri yang Baldatul Thayyibatun Warabbun Ghafur. Amin Ya Mujibassaailin

Wallahu A’lam Bishhawwab.

Penulis adalah guru PAI di Sekolah SMA Negeri 1 Kuta Baro Aceh Besar

Related posts