SAYANGI dan MULIAKAN PEREMPUAN

  • Whatsapp

SAYANGI DAN MULIAKAN PEREMPUAN
Perempuan pertama, Hawa. Dalam tardisi disebutkan terciptanya hawa dari tulang rusuk Adam.

Doerthe penyair terbesar dari jerman memproduksi syairnya dari hadis ini menasehatkan pria agar memperlakukan perempuan dengan ramah dan sabar. Karena Allah mengambil tulang rusuk yang bengkok untuk menciptakannya, bentuk yang dihasilkan tidak bisa lurus sepenuhnya.

Read More

Maka jika pria berusaha untuk menekuknya dia akan patah, dan jika dia membiarkannya tanpa diganggu, dia akan semakin bengkok. Perlakukanlah perempuan dengan sabar dan hati-hati sebab tak seorangpun menginginkan tulang rusuk yang patah.

Diantara stigma negative yang dialamatkan oleh barat terhadap ajaran islam adalah, bahwa islam tidak menghargai kedudukan perempuan, memasung kebebasannya, tidak adil dan menjadikannya sebagai manusia kelas dua yang terkungkung dalam penguasaan kaum laki-laki serta hidup dalam kehinaan. Perempuan islam pun dicitrakan sebagai perempuan terbelakang dan tersisihkan dari dinamika kehidupan tanpa peran nyata di masyarakat, bahwa islam adalah hambatan utama bagi perjuangan kesetaraan gender.

Perempuan Pra-Islam
Sebelum datang islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum Perempuan.

Jangankan memuliakannya, bahkan menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Orang yunani menganggap Perempuan sebagai sarana saja.orang-rang arab ketika itupun biasa menguburkan anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang Perempuan.

Perempuan Pasca Islam
Cahaya islam pun terbit menerangi kegelapan itu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, memerangi segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak manusia tanpa terkecuali. Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum Perempuan, diantara sabdanya :
اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para Perempuan.” (HR Muslim: 3729)
Dalam kehidupan bermasyarakat Perempuan tidak bisa lepas dari berbagai kegiatan social, agama dan kemasyarakatan, sebagai contoh dalam pesta perkawinan disuatu desa maka tenaga, pikiran dan ide para Perempuan sangat di butuhkan. Tapa peran Perempuan maka pekerjaan tersebut terasa hambar ibarat rujak kurang bumbunya.

Mutiara Yang Harus Dijaga
Selain menjamin hak-hak Perempuan, Islam pun menjaga kaum Perempuan dari segala hal yang dapat menodai kehormatannya, menjatuhkan wibawa dan merendahkan martabatnya. Bagai mutiara yang mahal harganya, Islam menempatkannya sebagai makhluk yang mulia yang harus dijaga. Atas dasar inilah kemudian sejumlah aturan ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan agar berikutnya, kaum Perempuan dapat menjalankan peran strategisnya sebagai pendidik umat generasi mendatang.

Perempuan pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)
Peran Orang Tua Terhadap Anak Perempuan

Kewajiban ayah terhadap anak perempuan yang berikutnya adalah memberinya perlindungan dari bahaya. Anak perempuan diciptakan lebih lemah dan lebih membutuhkan perlindungan dari pada anak laki-laki. Oleh karena itu, seorang ayah wajib melindungi anak perempuannya dari segala bahaya yang mungkin terjadi.

Contoh dari perlindungan ayah kepada anak perempuannya, misalnya, ayah memberi batasan jam keluar malam, karena malam hari lebih rentan penjahat. Selain itu, ayah wajib untuk meluangkan waktu mengantarkan anak perempuannya saat keluar rumah demi menjaganya dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tidak hanya menjaga dari hal-hal yang berbahaya, seorang ayah juga wajib melindungi anak perempuan dari hal-hal yang melanggar agama. Misalnya, mendampingi jika ada teman lawan jenis yang berkunjung atau bahkan menasehati anak untuk menjaga jarak dari teman-teman yang tampaknya tidak baik.

Mungkin ayah juga bisa mengenalkan bahwa mungkin untuk menikah tanpa pacaran dalam Islam. Begitu mulianya seorang Perempuan dalam hidup dan kehidupan ini.

Perempuan itu ibarat cermin bagi lelaki, karakter seorang suami sangat dipengaruhi oleh seorang isteri, status kehidupan social, nafkah suami juga dipengaruhi oleh doa melalui kedua telapak tangan istri.

Cermin yang bagus dan bercahaya dapat memancarkan gambar ysng sesuai dengan aslinya, namun bila cermin tersebut kusam dan retak dipastikan tidak menghasilkan gambar dan cahaya yang bagus pula.

Begitulah seorang Perempuan di dalam keluarganya dapat menghasilkan ciri khas dan karakter seluruh anak dan keluarganya, bila Perempuan ( ibu ) baik maka baiklah seluruh isi keluarga tersebut yang sering dinobatkan sebagai SAMAWA. Amin.
Penulis : Kepala SD 1 Pagar Air Aceh Besar

Related posts