Senandung Daun di Ujung Waktu

  • Whatsapp

Oleh: Muklis Puna

PUISI

Seingatku baru kemarin pagi kau tampak muka, mengurai kepopong penuh serat yang dianyam rembulan
Kaki kecilmu masih tergores, ketika kau tendang mulut rahim milik ibu pertiwi
Kini kulihat kau tersesat di keramaian
Menggigau di siang bolong, lalu melolong mencari tuanmu

Putikmu belum kuncup benar, namun kau sudah meloncat- loncat mengutuk dahan dan daun
Coba senyapkan kupingmu pada batang- batang menua,
Tatap lekuk tubuh penuh luka, karena tombak orang iseng yang kesemsem pada tangisan getah

Angin begitu kuat menghepas setiap dahan,
Menerbangkan apa saja yang rapuh
Di hulu subuh, daun- daun bersimpuh dalam pelukan embun
Ada sesal pada angin yang menjemput suka
Ada marah yang menggumpal dada, kenapa ia dipinang angin
Padahal getah masih merekat dahan
Burung- burung masih bersenandung lagu

Entahlah…
Entah pagi terlalu cepat membangunkan matahari
Entah malam sudah bosan melihat bulan

Lhokseumawe, 9 Desember 2019

Related posts