Mengapa ke India

  • Whatsapp

Oleh: Budi Azhari*

SANTERDAILY.COM | INDIA——————-Hari pertama sampai saya di New Delhi, saya belum begitu yakin benarkah India tempat salah satu yang tepat untuk belajar tentang pengelolaan hutan dan perlindungan satwa langka. Kalau belajar buat film, mungkin saya tidak ragu ke India. Apalagi banyak lagu-lagu dalam film India yang orang Aceh suka, saya sendiri hafal beberapa liriknya. Apa lagi istri saya, sambil masak saja seperti Kareena Kapoor 😊. Sehingga masak sayur lodeh, tapi perasaan lagi masak kari.

Tapi masalahnya, tujuan kami ke India yang difasilitasi oleh WWF adalah untuk belajar dan melihat langsung perlindungan hutan dan satwa, terutama berkaitan dengan manajemen hulu dan hilirnya. Hal ini sangat menggangu pikir saya, antara yakin dan tidak!.

Terlebih lagi, saat kami keluar dari Bandara New Delhi menuju kota untuk mencari hotel. Saya melihat kesemerawutan kotanya, suara klakson kendaraan saling bersahutan, semua orang tidak sabar untuk cepat sampai di jalan yang padat. Tidak hanya itu, di atas kereta api juga terlihat sangat padat dan orang-orang bergantung di kereta. Ini benar-benar seperti dalam film India “Dil Se..” hanya saja tidak ada Shahrukh Khan dan Malaika Arora di atas kereta api sambari nyanyi “Chaiya chaiya chaiya,.. | Sar ish ki chaon chal chaiya chaiya,… | Paaon jannat chale chal chaiya chaiya,..” 😊.

Dengan kondisi seperti itu, benarkah India ini adalah tempat yang tepat untuk belajar?

Sampai akhirnya, pandangan saya langsung berubah tentang India, saat saya dan tim tiba di Assam State dan melihat langsung Taman Nasional Manas dan juga Taman Nasional Kaziranga.

Bagaimana bisa negara terpadat penduduknya di dunia setelah China, dan masih banyak rakyatnya yang miskin terutama di pedesaannya. Namun pemerintah dan masyarakatnya berhasil membuat kawasan hutan sebagai tempat konservasi satwa langka. Seperti Badak, Gajah, Rusa, Burung Merak, Harimau dan hewan yang dilindungi lainnya dengan begitu baik di India.

Masyarakat disekitar hutan yang dulu hidup dari merabah hutan, saat ini hidup dari sektor wisata, karena dengan adanya taman nasional ini, orang-orang (turis) dari penjuru dunia datang ke Manas.

Sedikit saya gambarkan tentang Manas National Park. Kawasan hutan Manas ini yang terletak di kaki bukit Himalaya Timur. Manas sendiri merupakan perbatasan antara Negara India dengan Negara Buthan. Sehingga, tidak aneh jika kita lihat paras wajah penduduk Manas banyak terlihat mirip wajah masyarakat Bangsa Buthan atau Mongol dan sebagainya lagi berparas seperti orang India pada umumnya.

Awalnya, hutan Manas banyak dihuni oleh binatang langka termasuk Badak, Harimau dan Gajah. Namun seiring ledakan populasi penduduk di India mempengaruhi kerusakan hutan dan konflik hewan dan manusia, hal ini terjadi dari tahun ke tahun. Hal ini berakibat serius, sehingga punahnya hewan langka, terutama Badak. Sampai pada akhirnya tidak ada satu ekor pun Badak yang hidup di hutan Manas.

Kemudian, tahun 2008 kawasan Manas National Park mulai dibangun sebagai kawasan konservasi oleh pemerintah Assam State, setelah sekian lama dilakukan kampanye/penyadaran oleh aktivis peduli lingkungan dan satwa di India. Kemudian pemerintah State dan Distrik membuat hutan konservasi, dan juga membuat koridor untuk menyambung kawasan hutan yang telah terlanjur terputus oleh pembukaan lahan masyarakat, perkampungan, pembukaan jalan ataupun ilegal logging.

Pemerintah dan NGO juga mendatangkan Badak kembali ke Manas, secara bertahap sampai 30 ekor Badak dari Hutan Kaziranga (yang juga merupakan taman nasional perlindungan satwa), di Kaziranga masih terdapat banyak Badak dan sudah terlebih dahulu sukses dalam membangun hutan konservasi di India, dan tercatat tidak kurang dari 2.000 ekor Badak India hidup di Hutan Kaziranga.

Saat ini populasi Badak di Manas sudah tumbuh berkembang dan mencapai 56 ekor selama 10 tahun. Artinya, dalam 10 tahun sekitar 26 Badak bertambah di Manas, dan ini akan terus bertambah. Ini baru masalah badak, belum lagi gajah, harimau dan hewan-hewan lainnya.

Kondisi Manas National Park sangat mirip dengan hutan kita di Aceh, hanya saja di hutan Aceh masih tersisa Badak beberapa ekor lagi, walaupun kondisi akan sama seperti Manas dulu. Badak Sumatera di Aceh akan benar-benar punah.

India sukses membangun taman nasional dalam melindungi hutan satwa mereka, baik di Kaziranga dan Manas. Terutama perlindungan satwa di Kaziranga, mereka membuat koridor yang sangat baik dan aturan yang sangat ketat, serta dukungan masyarakat yang sangat kuat. Awalnya hal ini memang tidak mudah bagi mereka, dan perlu kerja keras semua pihak.

Malah, India yang punya masalah yang lebih rumit dari kita di Indonesia saja bisa melindungi hutan dan kawasan dengan baik. Ini yang menjadi tantangan bagi kita di Aceh. Komitmen kita bersama di Aceh untuk mewujudkannya adalah sangat penting, terutama bagi pemerintah dan anggota dewan kita (berkaitan dengan regulasinya).

Mungkin ini yang menjadi alasan kuat bagi WWF mengajak/memfasilitasi Bappeda, DLHK dan Komisi II untuk sama-sama melihat dan mempelajari tatakelola perlindungan hewan langka dan hutan kawasan (dari awal mereka membangun sampai berhasil). Dan menurut ketua komisi II sendiri, beliau berkomitmen akan segera mewujudkan Qanun tentang perlindungan satwa segera.

Banyak hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini berkaitan dengan pengelolaan Taman Nasional Manas dan juga Taman Nasional Kaziranga. Namun, karena saya menulis ini di dalam Bus India ala “BE”. Tahu sendirilah bagaimana kondisi kami, perjalan 6 jam harus naik BE 😊 dari Kaziranga ke Guwahati. Nanti sore kami akan kembali ke New Delhi.

Jika teman-teman tertarik mempelajari atau mengetahui lebih lanjut dapat berdiskusi dengan WWF Aceh, dan saya sendiri juga akan menyerahkan tulisan/laporan temuan saya selama di India pada WWF sebagai pihak penyandang dana. WWF Aceh sangat terbuka berdiskusi berkaitan dengan hal ini, dan bersama-sama stakeholder untuk melindungi satwa langka kita di Aceh.

Sebelum saya akhir tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa baru kali ini perjalanan saya ke luar negeri yang benar-benar melelahkan, namun juga menyenangkan. Keluar-masuk hutan, pertemuan/meeting yang padat (dengan pengelolaan kawasan, pemangku kebijakan, pejabat Distrik), sampai masuk ke desa-desa untuk berdialog dengan warga masyarakat disekitar kawasan hutan konservasi.

Untung saja desa-desa yang kami kunjungi seperti gampong-gampong di Aceh, dan wajah-wajah warganya juga sebagian besar mirip dengan wajah orang Aceh. Sehingga merasa pulang kampung 😁.

Kalau sebelum pulang ke tanah air nanti, tidak sempat poto di Tajmahal, maka orang-orang pikir saya tidak pergi ke India, tapi ke Tangse 😊.

*Dosen UIN Ar-Raniry

Related posts