Dalam Perspektif Islam perlu Etika Komunikasi

  • Whatsapp

Penulis: Hamdani, S.Pd., M.Pd*

OPINI  –  Dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara mempuyanyai berbagai macam mulai pergaulan hidup tingkat daerah sampai internasional diperlukan suatu sistem yang dapat mengatur pola kehidupannya, bagaimana seharusnya manusia bisa beriteraksi dengan menggunakan sebuah sarana komunikasi yang baik atau yang ber-etika.

Sistem pengaturan pergaulan dengan etika komunikasi tersebut menjadi saling menghormati antar sesama dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama dalam berkomunikasi, protokoler dan lain-lain yang bisa membawa hidup manusia penuh dengan kasih sayang antar sesama. Dan Maksud dari pergaulan dengan etika komunikasi tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang sedang dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dalam setiap kehidupan masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai –nilai agama serta hak-hak asasi pada umumnya.

Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya seuatu etika komunikasi dalam kehidupan masyarakat. Secara etimologis, kata “Etika”berasal dari bahasa Yunani “ethos”. Kata yang berbentuk tunggal ini berarti “adat atau kebiasaan”. Bentuk jamaknya “ ta etha” atau “ta ethe” artinya adat kebiasaan, berdasarkan Research yang dilakukan oleh Fair Unisri 2019 P- ISSN: 2550-0171 Vol 3, Number 1, Januari 2019 E- ISSN: 2580-5819 143 tentang etika.

Sebuah teori tentang perbuatan manusia, yang ditimbang menurut baik dan buruknya atau sebuah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupam masyarakat banyak, yang memperhatikan akal pikiran (Setiyani, 2013).

Dengan demikian etika komunikasi merupakan ilmu yang memperhatikan baik buruknya cara seseorang berkomunikasi. Karena dalam Etika komunikasi selalu memperhatikan kejujuran dan terus terang, keharmonisan hubungan, sebagai mana sebuah pesan yang di sampaikan oleh komunikator yang sesuai dengan Etika komunikasi tersebut sehingga dapat menghindai kecurangan yang di sampaikan, dan konsistensi antara pesan verbal maupun non-verbal serta memperhatikan apakah para komikator dalam komunikasi utuh atau tidak maksudnya tidak terpotong suatu apapun yang sedang di bicarakan.

Komunikasi juga berasal dari bahasa Inggris yaitu “communication” yang berarti : perhubungan, kabar, atau perkabaran (S. Wojowarsito dan W.J.S. Poerwadarminta, 1974:25).

Istilah tersebut, menurut pakar seorang komunikasi Anwar Arifin, (1984:14) komunikasi juga berasal dari bahasa latin yaitu “communicatio” artinya pemberitahuan, memberi bahagian, pertukaran dimana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Kata sifatnya yaitu communis yang berarti “bersifat umum dan terbuka, bersama-sama”. Sedangkan kata kerjanya adalah “communicara” yang berarti “bermusya-warah”, berunding dan berdialog”. Komunikasi pada hakekatnya adalah kesamaan makna terhadap Sosial Budaya. Dimana kesamaan bahasa yang digunakan dalam sebuah percakapan belum tentu menimbulkan kesamaan makna.

Dengan kata lain mengerti bahasanya saja belum tentu mengerti makna yang dibawakan oleh bahasa itu. Artinya komunikasi efektif itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yaitui pengirim pesan atau komunikator dan penerima pesan atau komunikan, dan orang lain bersedia menerima paham atau keyakinan, melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan lain dari hasil sebuah komunikasi yang terjadi kedua belah pihak komunikator dan komunikan tersebut. Menurut istilah, yang di kemukakan oleh para ahli, dalam komuniikasi memberikan batasan-batasan antara lain adalah:

Pertama, James A.F. Stones (dalam H.A.W. Widjaja, 1997:8) menyatakan bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. Kedua, John R. Schemerhorn Cs, (dalam H.A.W. Widjaja, 1997:9) mengatakan bahwa komunikasi dapat diartikan sebagai proses antar pribadi dalam mengirim dan menerima simbol-simbol yang berarti bagi kepentingan mereka. Menurut Onong Uchjana Effendi (1992:4- 5) komunikasi merupakan suatu proses penyampaian sebuah pesan oleh seseorang kepada orang lain atau dari komunikator kepada komunikan untuk memberitahu supaya dapat mengubah perilaku atau sikap sesorang, baik langsung secara lisan, ataupun tidak langsung secara media. karena setiap manusia primitif maupun modern sama-sama berkeinginan mempertahankan suatu aturan sosial melalui sarana komunikasi, karena setiap manusia memiliki kompetensi untuk berinteraksi melalui komunikasi dengan manusia lainnya. yang dapat menetapkan kredibilitasnya dalam kehidupannya sebagai makluk social.

Komunikasi Islam merupakan suatu proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam seperti cara dan tutur kata serta etikanya dalam berkomunikasi antar sesama, maka komunikasi Islam menitik beratkan pada unsur pesan, yaitu seperti risalah atau nilai-nilai yang berhubungan dengan norma-norma Islam, oleh karena itu penggunaan bahasa, gaya bicara sangat penting dalam komunikasi untuk mudah dimengerti orang. Pesan-pesan keislaman yang disampaikan tersebut merupakan sebagai dakwah.

Dakwah merupakan pekerjaan atau ucapan untuk mempengaruhi manusia mengikuti Islam (Ahmad Ghulusy, 1987:9). Dalam konteks komunikasi di masyarakat, ada dua kata yang dirasa perlu untuk dibicarakan disini yaitu etika dan komunikasi. Etika merupakan dapat memberikan suatu landasan moral dalam membangun tata susila terhadap semua sikap dan perilaku yang di miliki seseorang dalam komunikasi. Dengan demikian, komunikasi yang baik perlu adanya etika.

Dalam perspektif islam Etika komunikasi menjadi sangat penting ketika berkomunikasi dalam sebuah komunitas baik dalam menyampaikan pesan yang behubungan dengan agama maupun dalam suatu komunitas lainya. menurut pendapat Wengner sebagaimana yang telah dibahaskan oleh Setiyani (2013) merupakan sekelompok orang yang saling berbagi lingkungan, perhatian, masalah, serta memiliki keterkaitan atau kegemaran yang sama terhadap suatu topik dalam menyampaikan pesan tertentu. Jadi Etika komunikasi tidak hanya berkaitan dengan tutur kata yang baik tetapi juga berangkat dari niat yang tulus dalam berbicara yang diekspresikan dari ketenangan, kesabaran dan empati kita dalam berkomunikasi (Corry, 2009). Sehingga bentuk komunikasi yang demikian akan menciptakan suatu komunikasi dua arah yang mencirikan penghargaan, perhatian dan dukungan timbal balik antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

Sehingga sebuah Komunikasi yang baik menurut pandangan Islam adalah komunikasi yang sesuai dengan kaidah agama islam itu sendiri, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Quran dan Hadits.

Berkaitan antara nilai etis dengan norma yang berlaku sangat erat. Selain agama sebagai asas kepercayaan atau keyakinan masyarakat, ideologi juga menjadi tolok ukur norma yang berlaku dalam sebuah Negara. Dalam Pancasila, sebagai ideologi dalam bernegara, berbangsa dan bermasyarakat di Indonesia, terdapat tolok ukur komunikasi (Amir,1999).

Pada prinsipnya, komunikasi Islam tidak hanya sekedar menyampaikan pesan dari seorang komunikator, namun dapat merubah sikap dan perilaku komunikan atau penerima pesan.

Tidak hanya itu, dalam komunikasi Islam selalu menyampaikan kemaslahatan dan kemuliaan antara penyampai pesan atau komunikator dan penerima pesan atau komunikan. Oleh karena itu, komunikasi Islam menjadi lebih unggul apabila dibandingkan dengan komunikasi yang non islam atau di sebut komunikasi Barat.

Sebuah Komunikasi sangat berpengaruh terhadap kelanjutan hidup manusia di suatu Negara, komunikasi juga berpengaruh terhadap kualitas berhubungan dengan sesama.

Komunikasi yang dimaksud merupakan komunikasi yang islami, yaitu komunikasi yang berakhlakul karimah atau beretika (Musyafak,2015). Karena sebuah Etika mendukung keberadaan agama, di mana etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk memecahkan bebagai permasalahan dalam kehidupan manusia sebagai makluk sosial.

Perbedaan antara etika dan ajaran moral agama yaitu etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional yang dapat di teriama akal pikiran manusia. Sedangkan agama menuntut seseorang untuk mendasarkan diri pada wahyu Allah dan ajaran agama. Ada etika dalam agama dan sebaliknya agama merupakan salah satu norma dalam etika. Keduanya saling keterkaitan, namun terdapat suatu perbedaan secara teoritis.

Pelanggaran terhadap etika yang berlaku, bukan hanya akan merugikan seseorang yang melakukan perbuatan, tetapi juga akan membahayakan atau merugikan orang lain dalam setiap kehidupan manusia sebagai makluk sosial, baik secra pribadi maupun secara kelompok.

Dalam sebuah komunikasi, pelakunya harus juga tunduk terhadap norma atau etika yang berlaku di masyarakat sesuai dengan lingkungannya.

Selaku warga negara Indonesia, setiap manusia harus berdasarkan kepada nilai-nilai Pancasila sebagai sumber nilai utama yang dijadikan acuan etis.

Sebagai penganut agama Islam, tentu juga harus berdasarkan kepada norma etika yang terdapat dalam ajaran Islam (Amir,1999).

Media Komunikasi, Media Sosial, dan Perkembangannya Media merupakan pusat kendali, tidak hanya kemampuan teknologinya yang melampaui ruang dan waktu, melainkan juga karena saling berhubungan yang melekat dengan komunikasi dalam setiap kehidupan manusia di permukaan bumi ini sebagai makluk Allah yang selalu harus mengabdi kepadanya,agar kehidupan di akhiratpun bisa terjamin nantinya.

*Penulis: Hamdani, S.Pd.,M.Pd Kepala SMAN 1 Bireuen ( Mahasiswa program Doktor UINSU Medan).

Related posts