Pengaruh Teater Kontemporer Terhadap Kualitas Awak Awam

  • Whatsapp

Oleh : Popi Juana*

SANTERDAILY.COM | ACEH BESAR——Bukan rahasia lagi bila orang pedalaman sangat sulit mendapatkan pengetahuan yang layak seperti orang-orang pada umumnya.

Mereka kesulitan mendapatkan informasi khususnya teater, yang sudah lama berkembang sejak zaman yunani kuno. Bahkan sampai sekarang pun ada yang belum mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan teater.

Saya akan membahas sedikit tentang pengertian teater kontemporer.
Kehadiran seni pertunjukan teater kontemporer di Indonesia tidak terlepas dari sejarah kehadiran seni pertunjukan teater di daerah-daerah Indonesia.

Istilah “kontemporer” merujuk pada situasi dalam ruang dan waktu masa kini dan merupakan cara untuk menunjuk adanya perkembangan dan perubahan teater di daerah-daerah menjadi bentuk teater kontemporer yang bercita rasa indoesia.

Membicarakan tentang identifikasi teater indonesia memiliki arti, pertama, kehendak untuk membaca bentuk-bentuk pewarisan dan pelestarian seni teater daerah di indonesia.

Kedua kehendak untuk membaca perkembangan kreativitas seniman di tengah pergulatan konsep dan ide ranah internasional. Ketiga, kehedak untuk membaca partisipasi aktif penonton dalam rangka membentuk konvensi pertunujukan teater.

Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu etnik tergambar dalam sebuah perjalanan panjang kehadiran pertunjukan terater indonesia.

Salah satu nya teater kontemporer yang sudah ditampilkan beberapa waktu silam di gedung Taman Seni Budaya (kota Banda Aceh) dengan ajang dan tujuan agar masyaraat aceh khususnya tau apa itu sebenarnya yang dimaksud dengan teater kontemporer, dengan itu kita harus berbangga dengan salah satu dosen dari ISBI Aceh yang bernama Fani Dila Sari, M.Sn, beliau merupakan orang yang berperan dalam pementasan teater kontemporer tersebut yaitu berperan sebagai sutradara.

Naskah yang beliau garap ialah “Nomophobia”. Sinopsis tentang Nomophobia yaitu sebagai berikut:
Dunia tak lagi risaukan jarak Nomophobia merajarela dan marak. Menggema antara tawa, amarah dan isak, realita pun telah rusak.

Kini, kepedulian sedang di uji. Berdasarkan rasa empati yang tak lagi dihati. Namun pada jari-jari yang latah bergaya selfie, manusia kouta telah tercipta. Terindividu pada khayalan kelabu, terhadap dunia yang telah menjadi maya. Bisu dalam pikiran membatu.

*Mahasiswi Institut Seni Budaya indonesia (ISBI Aceh).

Related posts