Ramadan Yang Penuh Kemenangan

  • Whatsapp

Oleh: Saifullah, S.Pd.I., MA*

RAMADAN DARING—-Beberapa langkah lagi kita menuju kemenangan, Ramadan akan berpamitan mengucapkan selamat tinggal kepada kita semua, tidak ada yang bisa memastikan dirinya untuk bisa bertemu dengan Ramadan tahun depan. Jadikanlah bulan Ramadan tahun ini seolah-olah yang terakhir supaya kita terus berkompetisi semaksimal mungkin menuju kemenangan yang hakiki di sisa waktu beberapa hari lagi ke depan.

Diibaratkan sebuah kompetisi dalam permainan sepak bola, tentunya kesebelasan yang akan bertanding beberapa hari lagi, ia akan melakukan berbagai macam persiapan yang maksimal. Bahkan persiapannya melebihi hari-hari sebelumnya. Demikianlah seharusnya seseorang yang menghadapi sepuluh akhir bulan Ramadan, ia akan mempersiapkan segala sesuatunya dengan berkonsentrasi penuh untuk menghidupkan sepuluh akhir Ramadan.

Kesebelasan atau peserta yang berhasil mencapai akhir atau babak final, relatif tidak banyak. Di manapun dan kapanpun, babak final sebuah pertandingan pasti pesertanya sedikit, karena telah melalui proses seleksi dan kualifikasi di babak-babak penyisihan sebelumnya.

Sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan babak final menuju hari kemenangan dan menjadi sangat spesial karena di dalamnya terdapat satu malam yakni Lailatul Qadar yang nilainya lebih tinggi berbanding 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun, sebuah jangka waktu yang melampaui umur manusia pada umumnya.

Babak final sepuluh hari terakhir Ramadan mesti lebih baik dari sebelumnya. Calon pemenang atau juara tentu persiapannya sangat maksimal dan bertambah baik amalan kebaikannya. Oleh karenanya semakin hari kita harus semakin baik, termasuk semakin baik pula pola dan strategi kita dalam menghadapi akhir Ramadan dan 1 Syawal 1441 Hijriah.

Kita harus mengubah cara pandang dalam menyikapi akhir Ramadan dan hari raya Idul Fitri, jangan seperti kebiasaan-kebiasaan sebagian orang ketika akhir Ramadan menjelang lebaran, mesjid semakin sepi, shaf salat tinggal 1 shaf lagi, pasar semakin meriah dan ramai dikunjungi untuk membeli peralatan, pakaian, dan kebutuhan lainnya.

Apakah kita sudah siap untuk mengubahnya? Marilah kita ubah sedikit demi sedikit pola kebiasaan yang tidak baik menuju kepada yang lebih baik menurut tuntunan agama. Jangan sampai kita terus menerus dalam kerugian dengan kebiasaan yang kurang baik. Mari kita dahulukan yang mana kebutuhan prioritas yang bisa menghantarkan kita menjadi orang-orang yang Muttaqin.

Hari raya Idul Fitri adalah ekspresi kemenangan. Kemenangan itu diawali dari proses ibadah di bulan Ramadan. Kemenangan Ramadan diraih lewat perjuangan awal, pertengahan dan akhir Ramadan. Jika babak penyisian kita tangguh dan hebat, maka dibabak final ini akan mampu kita lalui dengan baik. Dan babak inilah yang menentukan kesuksesan final (akhir) bulan Ramadan menuju kemenangan.

Sebagai umat Islam, tentunya setiap hari 5 kali sehari semalam kita dimotivasi meraih kemenangan atau kesuksesan oleh Allah Swt., melalui lafaz azan Hayya ‘alal Falaah! (marilah menuju kemenangan). Orang yang beriman tentunya harus sukses meraih kemenangan, jangan kalah, harus menang dalam meraih keberuntungan yang besar momen terakhir Ramadan tahun ini.

Akhir Ramadan merupakan saat di mana semakin banyak karunia Allah tercurah kepada umat Muhammad Saw., termasuk malam Lailatul Qadar. Sebagaimana yang telah penulis sampaikan pada tulisan sebelumnya, Rasulullah Saw., sangat menganjurkan umatnya untuk semakin aktif menghidupkan akhir Ramadan dengan memperbanyak melakukan amalan-amalan ibadah di dalamnya. Banyak sekali keutamaan-keutamaan dan kenikmatan yang di dapatkan dalam bulan Ramadan, apalagi di penghujung sepuluh terakhir Ramadan.

Sering kita mendengar hadits Rasulullah Saw., “Seandainya umatku tahu keutamaan bulan Ramadan, tentu mereka akan meminta sepanjang tahun adalah bulan Ramadan.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits di atas menggambarkan sebuah kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman di bulan Ramadan, dan sebaliknya bila kita tidak merasakan apa-apa dengan adanya bulan Ramadan tersebut, berarti karunia Allah yang dicurahkan dalam bulan suci Ramadan ini jauh dari harapan menuju kemenangan. Persentase kenikmatan yang dirasakan tergantung dari keimanan dan kesungguhan (mujahadah) kita dalam mengisinya dengan berbagai ibadah di dalamnya.

Keuntungan atau keutamaan Ramadan semakin akhir adalah semakin besar. Rasulullah Saw., di akhir-akhir Ramadan mengikatkan dirinya di masjid. Rasulullah bersama para sahabat semakin istiqamah ke masjid. Anehnya, kita semakin akhir Ramadan semakin sepi masjid dan semakin ramai dan meriahnya tempat berbelanjaan. Apakah pasar, supermarket atau mall-mall dan sejenisnya.

Kita mesti mengevaluasi diri dan keluarga kita dalam menjalankan ibadah Ramadan selama ini. Sejauh mana nilai ibadah puasa, shalat, tahajud, baca al-Quran, zikir dapat mengubah pola hidup kita dalam kehidupan sehari-hari. Apakah panca indera dan hati kita selama ini ketika puasa terjaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah? Hal itu semua sejatinya menjadi catatan amal pribadi kita masing-masing, dan tentunya akan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal sebagai pemenangnya, tentu kita perlu mengatur strategi atau pola permainan yang jitu. Demikian pula halnya dalam meraih karunia Allah di sepuluh hari terakhir Ramadan, kita perlu mengatur pola dan strategi yang jitu pula agar kita mendapatkan kemenangan yang besar di akhir Ramadan ini dengan predikat menjadi orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana perintah Allah Swt., dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
Menjadi orang-orang yang bertakwa merupakan harapan kita semua setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Tentunya dengan ibadah puasa saja kiranya belum sempurna ibadah kita, karena setelah kewajiban perintah puasa, seorang muslim juga diwajibkan menunaikan pembayaran zakat, khususnya zakat fitrah.

Pembayaran zakat fitrah yang tidak terlalu berarti jika dinilai dari harganya sangat menentukan diterima dan tidaknya amalan puasa seorang muslim. Karena itu, zakat fitrah menjadi kunci bagi amalan puasa Ramadan seseorang. Waktu membayar zakat fitrah adalah sejak awal Ramadan dan berakhir menjelang khatib naik mimbar pada pelaksanaan Idul Fitri, meskipun kebanyakan pembayaran zakat fitrah dilakukan di malam takbir di hari akhir pelaksanaan puasa atau bahkan sebelum itu. Tujuannya adalah untuk memudahkan distribusi hasil zakat fitrah ke para mustahiq untuk dapat dimanfaatkan menjelang Idul Fitri nantinya oleh yang menerimanya.

Nabi Saw., sangat mencela orang-orang muslim yang membiarkan saudara muslim lainnya menangis di pagi Idul Fitri karena tidak mempunyai makanan sedikit pun. Apalagi dengan kondisi wabah pandemi Covid 19 saat ini, juga kondisi musibah yang menimpa saudara-saudara kita dibeberapa daerah baru-baru ini.

Mereka kehilangan harta bendanya, rumah mereka terbakar di Aceh Barat Daya (Abdya), banjir bandang yang memporak-porandakan rumah dan harta benda mereka, bahkan hanyut dibawa derasnya air banjir bandang yang terjadi di Aceh Tengah dan beberapa daerah lainnya di Aceh maupun di Indonesia. Tentunya mereka sangat membutuhkan makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya. Karenanya, uluran tangan dari kita sangat berarti bagi mereka yang kehilangan segala-galanya, apalagi menjelang Idul Fitri ke depan.

Membayar zakat fitrah sangat dianjurkan menjelang Idul Fitri sesuai dengan makanan pokok penduduk setempat berdasarkan ketentuan yang telah berlaku dalam hukum Islam tentang pembayaran zakat fitrah.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi Saw., bersabda:
“Rasulullah shallallahu ala’ihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas orang muslim baik budak dan orang biasa, laki-laki dan wanita, anak-anak dan orang dewasa, beliau memberitahukan membayar zakat fitrah sebelum berangkat (ke masjid) ‘Idul Fitri.” (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984).

Hikmah zakat fitrah tidak sekedar untuk menyempurnakan puasa seorang muslim, namun lebih dari itu diharapkan mampu menyucikan hatinya. Zakat fitrah yang bermakna zakat pembersih diri tentu saja diharapkan menjadikan hati seseorang yang berpuasa itu menjadi bersih sehingga ia dapat melaksanakan semua tugasnya dengan benar dan dibarengi dengan keikhlasan dan kesucian hatinya.

Berdasarkan hadits Rasulullah Saw.,
“Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah Saw., mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji, dan sebagai sarana memberikan makanan bagi orang miskin. Siapa saja yang membayarnya sebelum shalat ‘Id, maka ia adalah zakat yang diterima. Tetapi siapa saja yang membayarnya setelah shalat ‘Id, maka ia terhitung sedekah sunnah biasa,” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Harapan besar kita semua, semoga di sisa akhir bulan Ramadan ini kita bisa memanfaatkan sebaik-baiknya dan memaksimalkan seluruh aktivitas menuju kesempurnaan ibadah Ramadan yang penuh kemenangan. Semoga kita semua termasuk pemenang dan benar-benar sukses menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

Penulis : Guru PAI SMAN Unggul Pidie Jaya, Pengurus DPW AGPAII Propinsi Aceh.

Related posts