399 Taruna BP2IP Malahayati Diwisuda

  • Whatsapp

SANTERDAILY.COM | ACEH BESAR – Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Malahayati Aceh kembali menggelar wisuda 399 taruna pelayaran besar tahun 2018.

Acara wisuda tersebut dipusatkan di halaman kampus setempat, di Jalan Laksanama Malahayati KM. 19 Gampong Durung, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Senin (19/11/2018).

Read More





399 perwira yang diwisuda itu merupakan para taruna yang telah menempuh atau menyelesaikan study ilmu pelayaran atau diklat di BP2IP Malahayati.

Prosesi wisuda ini dirangkai dengan sejumlah atraksi seperti penampilan tarian kolosal, drum band, dan lain-lain. Meski diguyur hujan, prosesi wisuda berlangsung khidmat hingga selesai.

Selain itu, dalam wisuda ini juga diserahkan hadiah kepada pemenang lomba Malahayati English Council yang digelar 15-17 November 2018 lalu.

Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Laut, Ir. I Nyoman Sukayadnya, MM dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada para taruna yang telah menyelesaikan pendidikan.

Kata Nyoman, sikap tangguh yang sudah ditanamkan di dalam sanubari para wisudawan merupakan salah satu bagian dalam pembangunan karakter, yang terdapat dalam pedoman pola pengasuhan di bagian softskill competency.

Softskill competency adalah keterampilan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri dan dalam berhubungan dengan orang lain.

“Keterampilan ini sudah saudara terapkan dan terbukti dengan selesainya masa praktek laut tanpa mengalami masalah yang berarti,” kata Nyoman.

Ia juga mengaku sangat bangga kepada seluruh wisudawan yang telah berhasil menaklukkan ganasnya ombak dan berjuang di tengah lautan menjaga nama baik pribadi mereka dan instansi BP2IP Malahayati Aceh.

“Sebagai wisudawan, besar harapan kami agar saudara dapat menjadi role model, dapat berperan sebagai teladan bagi junior atau adik kelas kalian semua sehingga dapat menjadi cerminan dari kesuksesan usaha saudara dalam merenda masa depan,” kata Nyoman.

Ia menambahkan, BP2IP Malahayati Aceh merupakan sekolah pelayaran pertama yang dibangun di Pulau Sumatera. Dipilihnya Aceh bukan tanpa alasan.

Menurutnya, sejarah Aceh menunjukkan dengan jelas tokoh-tokoh Aceh masa dulu adalah pelaut dan pejuang yang berperang mengorbankan jiwa raga tanpa rasa takut dan gentar.

“Adalah Laksamana Malahayati yang merupakan laksamana wanita pertama di dunia sehingga kami memilih nama beliau sebagai nama sekolah ini yang dapat menjadi kebanggaan kita semua,” ujar Nyoman.

Ia berharap agar taruna-taruni dapat mencontoh dan menjadikan perjuangan Laksamana Malahayati sebagai pemicu semangat ketika harus berjuang di tengah lautan.

“Bagi saudara tidak ada alasan untuk menjadi lemah, selama dua tahun menempuh pendidikan di kampus ini saudara telah dididik dengan simulasi kehidupan seperti di atas kapal dan kemudian melaksanakan praktek laut selama satu tahun dengan bekal ilmu yang telah dipelajari dengan baik,” pungkasnya. [Rel].

Related posts