Aku, Malaikatku, dan Bidadariku

  • Whatsapp

Oleh : Muklis Puna 

SANTERDAILY.COM | BANDA ACEH—-Perjalanan menuju Koetaraja berlangsung di hulu subuh. Malam perlahan merambat menuju pagi. Nyanyian jangkrik riuh merebut waktu mengusir keheningan. Udara di ujung malam semakin dingin menggigit kulit. Aku dan dua malaikat kecilku melawan arus pagi menuju kota sejarah peninggalan Belanda. Perjalanan ku dan dua malaikat kecilku adalah menjemput bidadari yang sedang mengikuti pelatihan dari tugas yang diembannya.

Bacaan Lainnya

Kemarin… Ketika malaikat kecilku yang bungsu kujemput dari pondok pesantren terkenal di kotaku, kubisiikan satu untaian kalimat ajakan di telinganya yang suci” Dek..? Mau gak kita berangkat ke Banda Aceh untuk menjemput bidadari sambil melihat – lihat kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh ( PKA) ke- 7 yang sedang berlangsung? Seperti tanah kerontang dihujam air dari langit, jawaban membusur bagai panah melesat dari induknya, Mau yah!, Mau sangaaat…” Emang Bunda dimana Yah? Karena sudah tiga hari yang lalu Sang bidadari ku berangkat, kami sengaja tidak memberitahukan dia.

Dengan menumpangi mobil pribadi Aku dan dua malaikat kecilku berangkat menuju tujuan berharap jumpa dengan bidadari di ujung perjalanan. Malaikat kecilku yang sering kusebut ratu jalanan tampak begitu sumringah. Pukul 4 dini hari dia sudah membangunkanku. Bangun tidur jam 4 dinihari sudah jadi kebiasaan baginya selama ia berada di pesantren. Lalu ia begitu gesit dan lincah mengaruk- ngaruk pintu kamar abangnya agar bersiap -siap untuk berangkat.

Jarum jam menunjukkan arah pukul 4.30. Kamipun berangkat penuh harap. Pikiran dan rasa sudah duluan dikirim lewat angin dalam balutan pesan kepada bidadari. Semua perlengkapan perjalanan sudah disiapkan dari sore hari. Pagi begitu dingin perasaan ngantuk menyerang bola mata . Malaikat kecilku yang pertama adalah cowok , dia adalah calon insiyurku masa depan. Tidur adalah segala galanya baginya. Tanpa basa-basi ia langsung mengambil posisi di samping Aku untuk menenami sang supir. Dua puluh menit mobil merayap di atas aspal ia langsung menyambung mimpi yang tersisa. Tinggal lah aku dan malaikat kecilku yang punya kegemaran jalan- jalan dan cita cita kuliah di negeri Istambul ini menemaniku dalam perjalanan.

Untuk menghindari kebuntuan dalam perjalanan panjang berliku, malaikat kecilku yang lagi belajar di kelas VIII MTs. Ia berceloteh panjang lebar tentang novel- novel islami yang telah dibaca sekitar 14 novel. Hobinya membaca telah mengekor pada sejak dia masih belajar di TK. Novel Novel milik Tere Liye dan Andrea Hirata yang mengulas kisah kisah anak brilian telah dia lahap hingga otaknya begitu lancar ketika mengulang kaji. Sesekali kupancing dengan guyonan agar sarafnya merangsang menghidari kekakuan isi cerita yang disampaikan.

Mobilku terus saja bergulat dengan jalan berkelok dan berliku. Matahari tampak samar samar diufuk timur. Sorotan cahaya bening menyoroti dari arah belakang.Kota kota bersejarah sudah kami taklukkan. Mata semakin berat, ngantuk datang lagi melambai mesra, malakat kecilku tampak pulas di kursi belakang. Entah kapan ceritanya terputus akupun tidak begitu paham.. Kuputuskan berhenti di kota milik sang pahlawan nasional T.Chik Di Tiro di sebuah SPBU untuk merajang matahari pagi dan meluruskan kaki yang kelelahan mencium kloping, pedal rem dan dan pedal gas .

TOKO CCTV
Melayani Penjualan & Pemasangan CCTV / Security System Wilayah Aceh
+62812 6461 7339

Jasa Pembuatan Website SEO Personal / Instansi / Kantor / Sekolah
+6252 1150 5391

Pos terkait