Ayahanda A.Rahman Kaoy di Mata Kader

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Syarif*

FEATURE—Matahari pagi baru saja menyinari bumi, saya bersama Khairul Laweung menyapa Ayahanda A. Rahman Kaoy di kawasan Lamprit. Tempat bermukim seorang umara Aceh yang juga tokoh sentral dalam memajukan Iskada di tanah rencong. Kedatangan kami berdua disambut hangat oleh Ayahanda walau kondisi fisiknya sudah mulai layu bergemulai. Walau kondisinya sudah tidak setegar masa muda, akan tetapi saat anak-anaknya (kader Iskada) menyapanya, energi positif terus membara, bagaikan daya listrik bertegangan tinggi, hehe.

Read More



Rahman kaoy dilahirkan di Geulumpang Minyeuk, Kabupaten Pidie, 20 Juli 1942. Pemuda Tiro ini semasa mudanya dikenal singa podium. Beberapa jabatan strategis diemban kala mudanya antara lain, Dekan Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Anggota MUI/MPU Aceh, Pengurus Masjid Al Makmur Lampriet, Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Meniti karier kepemimpinan beliau dibawah binaan Daud Bereuh, Tgk. Abdullah Ujong Rimba dan A. Hali Hasyimi, tiga tokoh ini menjadi guru kepemimpinannya sekaligus guru, ungkap beliau saat saya ajak ngobrol santai. Saya pun dicerita soal pergerakan dakwahnya, hingga keberaniaanya bicara soal Aceh dipanggun Nasional saat diundang ke Markas Besar TNI. Jangan pernah kasih mikropon pada Ayahanda.

Diksi dan narasi yang dibangunya cukup tajam dan menukik. Semangat membara, usia boleh senja tapi sel-sel endrokrin ayah sungguh bergelora. Rahman Kaoy menjadi asisten Ali Hasymy pada tahun 1975 karena kepandaian beliau menghargai waktu. Saat itu Ali Hasymi menjabat dekan Fakultas Dakwah yang pertama. Atas dasar saran belaiu juga Rahman Kaoy masuk Fakultas Dakwah bersama beberapa temannya.

Rahman, apabila kamu tidak selesai kuliah di Fakultas Ushuluddin masuk aja di Fakultas Dakwah” ujarnya meniru ucapan Ali Hasymi. Kedua temannya yaitu : Jakfar Muhammad dari Fakultas Syari’ah, Azhari Hasan dari Fakultas Tarbiyah. Mereka bertiga mendapat hak istimewa, ketiganya tidak lagi masuk kuliah seperti mahasiswa pada umumnya, dosen-dosen memberi tes lisan untuk mereka selama tiga hari.

Ketiganya dites membaca hadist dan tafsir.
Kecerdasan mereka membawa kelulusan dan hasil yang cemerlang. Rahman dan tiga temannya dinyatakan lulus test memperoleh gelar doktorandus (Drs).

Tahun 1963, beberapa tahun setelah beliau menuntut ilmu di IAIN Rahman pun diangkat menjadi seorang ketua seksi penerangan masyarakat di dewan mahasiswa yang dikenal sekarang dengan sebutan biro dakwah. Kemudian dia juga pernah membuat musyawarah mahasiswa dakwah (musada) atau juga dikenal dengan aksi jual beras terhadap dosen. Hal itu dilakukan masih untuk kepentingan dakwah. Masa itu peranan mahasiswa sangat penting dalam pengembangan dakwah. Khususnya dalam mempromosikan IAIN kepada publik, sehingga pada tahun-tahun 60-an mahasiswa di IAIN membludak. Tahun 1966 beliau juga membuat pelatihan dakwah yang lebih dikenal dengan Latihan Pidato Darussalam (LAPIDA) yang diikuti oleh 400 orang peserta. Peserta tersebut berasal dari kalangan mahasiswa.

Kader binaan beliau menjadi orang-orang penting dikalangan IAIN sendiri. Diantaranya Dr. Arbiyah Lubis, Dr. Muslim Ibrahim, Prof. Dr. Rosmitumanggu. Tahun 1986 beliau diundang oleh orang kedua Negara Brunei Darussalam untuk memberikan dakwah Islam. Disana ia diberi fasilitas lengkap dan ditawarkan menjadi pengurus masjid di Brunai, tawaran ini pun ia tolak. Beliau lebih memilih untuk mengabdi di Kampus IAIN yang kini dikenal UIN Ar-Raniry.

Sebelum menjabat sebagai dekan Fakultas Dakwah, beliau terlebih dulu menjabat sebagai pembantu Dekan Tiga Fakultas Dakwah. Kepemimpinan beliau menggantikan Prof. DR. H. Rusjdi Ali Muhammad, SH sebagai Dekan.

Rusjdi sendiri naik jabatan menggantikan rektor sebelumnya, Prof. DR. Alyasa Abubakar, MA pada tahun 2001. Ia pun menggagas agar di Fakultas Dakwah lahir Radio Kampus, gagasannya pada waktu itu banyak penolakan. Lompatan pikirannya maju, sulit ditebak, walau gagasannya kini dilanjutkan oleh generasi pewarisnya.
Satu hal yang membuat masyarakat bangga kini. Selama kepengurusan di mesjid Al Makmur, Lampriet memperjuangkan bantuan pada Kedutaan Kerajan Oman di Jakarta, usahanya berhasil dan Masjid Lamprietpun dibantu Kerajaan Oman.

Kepiawaian komunikasi Ayahanda tak dapat dinapikan, dimasa muda beliau sangat lincah, orator ulung, kutu buku. Beliau pun banyak menulis hikayat, bunga rampai pemikiran dakwah. Walau Ayahanda tidak punya generasi pewaris (anak kandung) akan tetapi beliau banyak mencetak kader militan. Trimakasih Ayahanda, karna jasamu anak-anak didikanmu kini telah berhasil dan siap melanjutkan tradisi gerakan dakwah dengan cara yang berbeda.

*Penulis adalah Sekjend DPP ISKADA Aceh, Kader Binaan Ayahanda A.Rahman Kaoy Angkatan ke-27.

Related posts