Ba’da Ramadan Tetap Istiqamah dalam Keta’atan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya

  • Whatsapp

Oleh: Marsono, S.Pd.I *

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1441 H/2020 M, disampaikan di halaman Masjid Baitul Hakim, Desa Sumber Jaya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah

Read More

Responsive image Responsive image Responsive image

Khutbah I
الله أَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ الله أَكْبَر
الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِياَفَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّالله ُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االداَّعِيْ إِلىَ الصِّراَطِ المُسْتَقِيْمِ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَماَّ بَعْدُ فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Alhamdulillah, Segala puji dan Syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, karena Pada hari yang mulia ini, kita masih diberikan nikmat kesehatan dan keimanan oleh Allah. Nikmat yang besar dan banyak yang kita rasakan ini merupakan bukti bahwa Allah tiada pernah melupakan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Udara yang kita hirup, darah yang mengalir di dalam tubuh kita, bahkan Jantung yang selalu berdenyut yang kita sendiri tak bisa menghitung berapa banyak jumlah denyut jantung tersebut, Semuanya itu tidak luput dari perhatian dan kasih sayang Allah SWT. “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.S. Al-Kahfi: 109 ).

Sedangkan tugas kita sebagai makhlukNya ialah dengan tidak lupa mengucapkan rasa syukur dan ber’ubudiyah kepada Allah sebagai tanda bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan sangat menyadari betapa butuhnya kita akan perhatian dan kasih sayang Allah. “Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim: 7)
Sholawat beserta Salam tidak bosan-bosannya kita bermohon kepada Allah agar disampaikan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan Sahabat-sahabat beliau.

Karena berkat perjuangan yang gigih dan penuh sabar yang telah beliau lakukan, telah berhasil membawa umat manusia dari zaman Jahiliyah kepada zaman Islamiyah, dari zaman yang tidak berperikemanusiaan ke zaman yang penuh dengan perikemanusiaan dan akhlaqul karimah, “Akhrajannasa minaz- Zulumati Ilan- Nur”.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْد اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah

Allahu Akbar kalimat simpel dan sederhana, akan tetapi kalaulah kita mau mengkaji maknanya, maka lebih dalam dari lautan atlantik yang kita kenal bahkan lebih luas dari bumi yang kita huni ini.

Allah, lafzhu Jalaalah. Akbar ismu tafdhil.
Allahu Akbar, Ketinggian- Mu ya Allah merendahkan segala status yang disandang makhluk-Mu

Allahu Akbar Kekayaan- Mu ya Allah membuat manusia hina-dina dihadapan-Mu

Allahu Akbar, Pengetahuan- Mu ya Allah Menembus segala lipatan hati dan sanubari manusia, semut keci yang hitam, bertenggar di atas batu yang hitam, dalam gua yang gelap-gulita, tetap dalam pengetahuan-Mu, serbuk sari yang jatuh ke bumi atau daun layu yang hanyut di sungai atau jatuh di samping kita yang kita tidak peduli, tetap dalam pedulinya Allah, sekali pun laut dan darat dibrender, langit dan bumi bungkam “ Wallahu Ya’lamu Maa Tusirruna Wamaa Tu’linuun”. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang dilakukan terang – terangan maupupun sembunyi-sembunyi.
Allahu akbar, Allah Al-Qadir, Allah Maha Kuasa, Allah titipkan kekuasaan pada makhluk-Nya sehingga hambanya, makhluknya berkuasa, minimal menguasai dirinya sendiri.

Allahu Akbar, Allah Maha Berkehendak Al-Murid, Allah titipkan kehendak pada makhluk-Nya sehingga beragam macam kehendak makhluk-Nya.

Allahu Akbar, Allah Maha Hidup. Al-hayyu, Allah titipkan kehidupan pada kita semua, sekarang kita hidup, amanah dari Maha Hidup, Al-Hayyu, Al-Muhyi.

Allahu Akbar, Allah Al-‘Aliim, Allah titipkan pengetahuan kepada kita, sehingga ragam tingkat pengetahuan kita.

Allahu Akbar, Allah Maha Mendengar As-Sami’ . Allah titipkan kemampuan mendengar bagi kita.

Allahu Akbar Allah Maha Melihat, Al-Bashir, Allah titipkan kemampuan bisa melihat kepada kita, ada yang sanggup melihat dengan mata kepalanya, ada yang tajam mata hatinya. “Fainnaha Laa ta’mal Abshar, walaakin Ta’mal Quluubullatii Fis-shuduur”. Yang disebut buta bukanlah buta mata kepala, tapi buta mata hati.

Banyak manusia yang mata kepalanya terbuka, terbelalak tapi justru membutakan mata hatinya, jauh lebih baik mata kepalanya buta tapi mata hatinya terbuka sehingga ia merasakan Lazzatur-Ruhiyyah, lezatnya beriman kepada Allah, lezatnya mencintai Allah Jalla-Jalaaluh.
Allahu Akbar, Alla Maha Al-Mutakallim, Berkata-kata, sehingga kita mampu berkata-kata, dan ini adalah amanh maha Al-Mutakallim.

Maka saat kita takbir dalam sholat, Allahu Akbar, saad ied Allahu Akbar, dalam setiap aktifitas kekuasaan, kehendak, pengetahuan, kehidupan, pendengaran, penglihatan, kemampuan kalam, mutlak milik semuanya Allah Jalla-Jalaaluh.

Lalu apa yang kita miliki sebagi makhluk-Nya? “ We have, but nothing”. “Laa Mulkiyyatan” seakan kita berkuasa, seakan kita hidup, seakan kita melihat, seakan kita berpengetahuan, seakan kita mendengar, seakan kita berkata-kata, sebenarnya seakannya saja. Semua milik-Nya. Allah ada, sebelum kata ada itu ada, Allah tetap ada sekalipun kata ada itu sudah tidak ada ‘’ Kullu Man ‘Alaiha Faan Wa Yabqaa Wajhu Rabbika Dzul jalaali Wal Ikraam”. (Q.S. Ar-Rahman: 26)
Hari ini kalimat takbir dari mulut umat Islam bergema di mana-mana. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan syukur yang bercampur gembira, lantaran mereka telah ber-idul fitri atau kembali kepada kesucian (fitrah).

Kalimat di atas terdiri dari dua kata, yaitu kata id yang berarti kembali atau hari raya, dan kata fitr yang berarti kesucian. Dengan demikian, Idul Fitri dapat diartikan dengan hari perayaan umat Islam atas keberhasilannya kembali pada kesucian diri layaknya seperti bayi yang baru dilahirkan.

Orang yang berhasil melaksanakan puasa sebulan penuh dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada Allah Swt. dianggap sebagai orang yang kembali suci. Untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt., umat Islam dianjurkan untuk menutup ibadah Ramadhan dengan melaksanakan shalat sunat dua rakaat yang disebut dengan shalat hari raya Idul Fitri.

Di tengah-tengah suasana kekhawatiran akan wabah Corona Virus Deseases (COVID-19) yang melanda negeri kita, ditambah lagi dengan duka atas musibah yang terjadi yang dialami oleh saudara-saudara kita di berbagai belahan negeri ini, marilah kita terus bermunajat kepada Allah yang Maha Kuasa seraya berharap kiranya Allah SWT cepat mengangkat wabah corona dan juga berbagai musibah yang melanda negeri kita ini, sembari kita laksanakan himbauan Pemerintah untuk menjaga kesehatan dengan membudayakan hidup bersih dan sehat serta menjaga keseimbangan gizi, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan tetap beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, belajar dan bekerja di rumah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْد اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah

Adapun landasan hukum pelaksanaan shalat Idul Fitri adalah sebuah riwayat dari Anas ibn Malik yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah Saw. pertama kali hijrah ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari khusus yang merupakan hari raya bagi mereka. Lalu Rasulullah Saw. bertanya: “Kedua hari ini hari apa?” Penduduk Madinah menjawab: “Pada dua hari ini kami mengadakan perayaan, bergembira dan bermain-main sejak zaman Jahiliyah”.

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. telah mengganti kedua harimu ini dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad ibn Hanbal). Dalam riwayat ibnu Abbas disebutkan bahwa ia bersama-sama Rasulullah Saw., Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab memulai shalat Idul Fitri.

Shalat ini diadakan sebelum khutbah, tanpa azan dan iqamah (H.R. Bukhari dan Muslim).
Namun di sisi lain perasaan haru dan sedih juga dialami oleh umat Islam, karena bulan Ramadhan yang amat mulia telah berlalu. Kemuliaan Ramadhan dapat dilihat dari banyaknya julukan lain dari bulan ke-9 tersebut selain julukan Ramadhan. Bulan ini dijuluki juga dengan Syahr al-Qur’an (bulan al-Qur’an), Syahr al-Shiyam (bulan puasa), Syahr an-Najah (bulan keselamatan), Syahr al-Juud (bulan kemurahan), Syahr al-Tilawah (bulan membaca), Syahr al-Shabr (bulan kesabaran), Syahr al-Rahmah (bulan curahan kasih sayang dari Allah). Ramadhan menjadi bulan yang mulia, karena banyaknya kitab suci dan shuhuf diturunkan pada bulan tersebut. Shuhuf Ibrahim, diturunkan Allah SWT. pada malam pertama Ramadhan; Kitab Taurat, diturunkan Allah SWT. pada malam keenam Ramadhan; Kitab Zabur, diturunkan Allah SWT. pada malam ke-12 Ramadhan, Kitab Injil, diturunkan Allah SWT. pada malam ke- 18 Ramadhan, dan Kitab al-Qur’an, diturunkan Allah SWT. pada malam ke- 17 Ramadhan. Ramadhan semakin terbukti kemuliaannya bila dilihat peristiwa- peristiwa penting yang mengukir lembaran sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan.

Peristiwa-peristiwa itu antara lain: (1). Kemenangan Rasul dan pasukannya dalam perang Badr, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-2 H; (2). Persiapan perang Uhud dilakukan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 H; (3).

Persiapan perang Khandak dilakukan pada bulan Ramadhan tahun ke-5 H; (4). Pembebasan kota Mekah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 H; (5). Kemenangan umat Islam dalam perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H; (6). Pengiriman pasukan khusu yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib ke Yaman terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H. Setahun kemudian penduduk Yaman berbondong-bondong masuk Islam; (7). Penaklukan Afrika oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Uthbah ibn Nafi’, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-53 H; (8). Islam menjajakkan kaki ke Eropa bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke- 91 H; dan (9). Indonesia merdeka terjadi juga pada bulan Ramadhan.

Kemuliaan Ramadhan semakin jelas, bila dilihat dari khutbah Nabi SAW.: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu dianugerahi bulan yang besar lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul Qadr); bulan yang diwajibkan di dalamnya berpuasa; shalat malam di malam harinya dipandang sebagai ibadah sunat. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan satu perbuatan sunat di dalamnya, pahalanya sama dengan melakukan satu perbuatan fardhu di bulan lain. Siapa saja yang menunaikan satu perbuatan fardhu di dalamnya, pahalanya sama dengan orang yang mengerjakan 70 fardhu di bulan lain. Ramadhan adalah bulan sabar, dan pahala untuk sabar adalah surga. Ramadhan adalah bulan untuk memberikan pertolongan dan bulan ketika Allah menambah rezki bagi mereka yang beriman.

Siapa saja yang memberikan makanan kepada orang yang berbuka, maka dosa-dosanya akan diampuni dan dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana dengan kami yang tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa?”

Rasulullah bersabda: “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, seteguk air atau sedikit susu di bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh keampunan, dan akhirnya terbebas dari api neraka. Siapa saja yang meringankan beban seorang hamba, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan dimerdekakannya dari api neraka. Karena itu, perbanyaklah yang empat di bulan Ramadhan; dua perkara untuk menyenangkan Allah dan dua lagi kamu yang membutuhkannya.

Dua perkara yang kamu lakukan untuk menyenangkan Allah ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Dua perkara lagi yang sangat kamu butuhkan adalah memohon surga dan berlindung dari api neraka. Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberinya minum yang jika diminum seteguk saja maka ia tidak akan merasa haus untuk selama-lamanya”. Dari khutbah Rasul di atas tergambar jelas oleh kita betapa mulianya bulan Ramadhan, yang tidak akan pernah dijumpai pada bulan-bulan lain. Sehingga wajar bila Nabi SAW selalu sedih dan menangis ketika akan berakhirnya bulan Ramadhan.

Atas dasar ini pulalah, wajar bila Nabi SAW mengatakan bahwa andaikan umatku tahu betapa besarnya keutamaan Ramadhan, pastilah mereka meminta supaya semua bulan dalam satu tahun itu dijadikan Ramadhan.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْد اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Bulan Ramadhan adalah bulan beramal dan beribadah. Semua umat Islam berlomba-lomba untuk beramal. Namun bukan berarti, dengan berakhirnya Ramadhan berakhir pula kita beramal. Seharusnya kita dapat mempertahankan ibadahibadah yang telah kita lakukan selama satu bulan tersebut. Ibadah-ibadah yang harus kita pertahankan dan lestarikan tersebut antara adalah:

Pertama, Puasa. Bila pada bulan Ramadhan, puasa adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan selama satu bulan penuh, maka di luar Ramadhan disunatkan kepada kita melakukan puasa pada hari-hari tertentu, seperti puasa enam hari di bulan syawal, puasa senin dan kamis, puasa pertengahan bulan hijriyah (tanggal 13, 14, dan 15), dll.

Puasa merupakan ibdah yang memiliki banyak manfaat. Selain untuk kesehatan, dia juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengendalikan nafsu. Manfaat besar dari puasa, juga akan dapat dilihat dari dialog yang terjadi antara Abu Umamah dengan Nabi SAW. Abu Umamah bertanya kepada Nabi SAW.: “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal apa yang dapat menjamin diriku memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dan masuk surga kelak? Rasul menjawab: Puasa! Abu Umamah bertanya dengan pertanyaan yang serupa, tetapi tetap saja jawaban Rasul sama, yaitu puasa.

Puasa yang dimaksud oleh Nabi SAW tersebut tentunya buka sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih dari itu, puasa yang dilakukan dengan keimanan dan penuh perhitungan. Bila hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, inilah puasa yang disinyalir oleh Nabi dalam hadisnya:
“ Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga”

Mereka yang benar-benar puasa akan senantiasa mempuasakan totalitas dirinya, tidak saja dari makan, minum dan syahwat; tetapi juga mempuasakannya dari segala yang membatalkan pahala puasa.

Adapun yang membatalkan pahala tersebut –sebagaimana yang disebutkan Nabi SAW-adalah berdusta atau berkata bohong, memfitnah, bersumpah palsu, membicarakan orang lain, dan melepaskan pandangan kepada sesuatu yang diharamkan Allah. Puasa seperti inilah yang dapat menghapuskan dosa-dosa masa silam, sebagaimana yang disebutkan Nabi:
Artinya, “barang siapa yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka semua dosanya yang lalu akan diampuni”.
Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir pula ibadah puasa kita. Puasa tetap dapat dilakukan pada waktuwaktu tertentu, yang biasa disebut dengan puasa sunat. Puasa-puasa ini tidak kalah pentingnya dan banyak pula manfaatnya.

Kedua, Shalat berjamaah. Pada bulan Ramadhan, semua umat Islam berupaya melakukan shalat secara berjamaah, terlebih lagi terhadap shalat sunat tarawih dan witir. Sehingga seluruh masjid dan mushallah penuh sesak dengan jamaah.

Dengan berakhirnya bulan Ramadhan, hendaknya jangan sampai masjid dan mushalallah menjadi sunyi dari shalat berjamaah. Bila kita lakukan analisa, banyaknya orang tidak mau shalat berjamaah ke masjid, lantaran menganggap sepele shalat berjamaah yang humnya sunat tersebut. Padahal bila kita rujuk kehidupan Nabi dan para sahabat dahulu, mereka tidak pernah sengaja meninggalkan shalat berjamaah. Kalaupun shalat berjamaan tinggal, itu lantaran ketidak sengajaan. Meskipun tidak sengaja meninggalkannya, tetapi banyak para sahabat justru memberikan sanksi pada dirinya atas kelalaian yang mengakibatkan tertinggalnya shalat berjamaah. Umar bin Khattab, misalnya, di sutau siang dia sedang asyik bekerja di kebunnya yang terletak di kota madinah. Seusai bekerja, dia duduk beristirahat di bawah sepokok pohon hingga akhirnya tertidur.

Ketika terbangun, dia terkejut karena waktu ashar telah masuk. Dia pun berlari ke masjid Nabi untuk mengejar shalat berjamaah, tetapi sesampai di masjid dia menemukan Nabi dan sahabat yang lain baru saja selesai melakukan shalat berjamaah.

Tertinggalnya shalat ashar berjamaah tersebut dianggap Umar sebagai keteledoran besar, sehingga dia pun memberikan sanksi dengan cara memberikan kebunnya yang rindang tersebut untuk dipergunakan sebagai modal perjuangan umat Islam. Padahal kebunnya tersebut bernilai 600.000 dinar (sekitar Rp. 45.000.000.000,-
Ketiga, Zakat dan shadaqah. Ibadah sosial ini banyak dilakukan oleh umat Islam di bulan Ramadhan. Ibadah ini dapat menjadikan manusia memeliki sifat kepedulian sosial (dermawan).

Meskipun harta diperoleh melalui jerih payah kita, tetapi di dalam harta tersebut terdapat hak orang lain, seperti hak fakir-miskin, hak masjid, hak anak yatim, dan lain-lain. Ini sejalan dengan firman Allah SWT.: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian” (Q.S. adz-Dzariyat (51): 19) Zakat merupakan ibadah yang sangat banyak dibicarakan Allah dalam al-Qur’an. Paling tidak ada 82 kali pengulangan pembicaraan zakat di dalam al-Qur’an. Jumlah ini jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan pembicaraan tentang puasa –yang hanya sekitar 13 kali- dan haji –yang hanya terulang sebanyak 10 kali. Bahkan perintah zakat seringkali digandengkan dengan perintah mendirikan shalat di dalam al-Qur’an.

Paling tidak penggandengan tersebut ditemukan sebanyak 26 kali. Hal ini menunjukkan bahwa zakat tidak kalah pentingnya dengan shalat. Bila shalat adalah lambang keharmonisan huibungan vertikal dengan Allah SWT, maka zakat merupakan lambang keharmonisan hubungan horizontal sesama manusia. Oleh sebab itu, tidak dapat disalahkan, bila ada ulama yang mengatakan bahwa kalau shalat dilakukan sementara zakat tidak dibayarkan, maka keimanan orang tersebut masih dipertanyakan. Abu Bakar ash-Shiddiq, yang melihat antara shalat dan zakat tidak dapat dipisahkan, sehingga dia memerangi orang yang tidak mau membayar zakat. Sikap ini sesuai dengan hadis Nabi SAW. Atas dasar itulah zakat tidak boleh dipandang remeh.

Bila zakat ini telah dibayarkan oleh seluruh umat Islam, ditambah lagi kesadaran yang tinggi untuk bersedekah, berinfak dan berwakaf, insyaallah segala problem sosial ekonomi umat dapat diatasi dengan baik.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْد اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Bulan syawal adalah bulan peningkatan. Oleh sebab itu, di samping melestarikan nilai-nilai Ramadhan, kita berupaya melakukan peningkatan dalam bidang amal. Untuk dapat melakukan peningkatan amal tersebut, dapat diupayakan melalui enam cara, yaitu:

Pertama, musyaratah (komitmen dan tekat yang bulat. Artinya, mengawali bulan Syawal (bulan peningkatan) ini hendaknya kita memiliki komitmen dan tekat yang bulat bahwa kita betul-betul akan berupaya meningkatkan amal.

Kedua, muraqabah, yaitu memantau diri kita atau merasakan bahwa Allah memantau diri kita. Jika sikap ini dimiliki, tentu kita tidak akan main-main dalam pelaksanaan tekad tersebut. Sebab, Allah akan senantiuasa melihat keseriusan tekad.

Ketiga, muhasabah, yaitu melakukan introspeksi sejauh mana pelaksanaan tekad yang diikrarkan tersebut. Apakah terlaksana dengan baik, atau terlaksana tetapi dipenuhi dengan kelalaian, atau tidak terlaksana sama sekali.

Keempat, mu’aqabah, yaitu memberikan sanksi yang bernilai jera terhadap kelalaian dalam pelaksanaan tekad. Sebab, bila kelalaian tersebut tidak diberikan sanksi, dikhawatirkan kelalaian serupa akan terulang kembali.

Kelima, mujahadah, yaitu mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada diri untuk memperbaiki kelalaian dari pelaksanaan tekad yang pernah terjadi. Bila seluruh kemampuan telah dikerahkan untuk melaksanakan tekad dalam peningkatan amal tersebut, insyaallah peningkatan amal itu dapat terwujud.

Keenam, taubikh wa mu’atabah, yaitu senantiasa mengkritik diri. Sebab dengan cara inilah kita menyadari bahwa amal – amal kita penuh dengan kekurangan sehingga ke depan kita akan berupaya meningkatkannya.

Demikianlah khutbah Idul Fitri kita hari ini, semoga dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selamat merayakan Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin.
بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah II
الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ المحشر. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيِنَ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيِنَ فيا عباد الله ان الله يأمر بالعدل والاحسان وايتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر
Wallahu A’lam bish-shawab, semoga bermanfaat.

*Penulis adalah: Guru PAI SMAN 1 Syiah Utama – Samar Kilang, Kab. Bener Meriah &
Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia
(DPD – AGPAII ) Kab. Bener Meriah

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image

Related posts