Ba’da Ramadan Tetap Istiqamah dalam Keta’atan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya

  • Whatsapp

Oleh: Marsono, S.Pd.I *

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1441 H/2020 M, disampaikan di halaman Masjid Baitul Hakim, Desa Sumber Jaya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah

Khutbah I
الله أَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ الله أَكْبَر
الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِياَفَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّالله ُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االداَّعِيْ إِلىَ الصِّراَطِ المُسْتَقِيْمِ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَماَّ بَعْدُ فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّوَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Alhamdulillah, Segala puji dan Syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, karena Pada hari yang mulia ini, kita masih diberikan nikmat kesehatan dan keimanan oleh Allah. Nikmat yang besar dan banyak yang kita rasakan ini merupakan bukti bahwa Allah tiada pernah melupakan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Udara yang kita hirup, darah yang mengalir di dalam tubuh kita, bahkan Jantung yang selalu berdenyut yang kita sendiri tak bisa menghitung berapa banyak jumlah denyut jantung tersebut, Semuanya itu tidak luput dari perhatian dan kasih sayang Allah SWT. “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.S. Al-Kahfi: 109 ).

Sedangkan tugas kita sebagai makhlukNya ialah dengan tidak lupa mengucapkan rasa syukur dan ber’ubudiyah kepada Allah sebagai tanda bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan sangat menyadari betapa butuhnya kita akan perhatian dan kasih sayang Allah. “Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim: 7)
Sholawat beserta Salam tidak bosan-bosannya kita bermohon kepada Allah agar disampaikan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan Sahabat-sahabat beliau.

Karena berkat perjuangan yang gigih dan penuh sabar yang telah beliau lakukan, telah berhasil membawa umat manusia dari zaman Jahiliyah kepada zaman Islamiyah, dari zaman yang tidak berperikemanusiaan ke zaman yang penuh dengan perikemanusiaan dan akhlaqul karimah, “Akhrajannasa minaz- Zulumati Ilan- Nur”.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْد اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah

Allahu Akbar kalimat simpel dan sederhana, akan tetapi kalaulah kita mau mengkaji maknanya, maka lebih dalam dari lautan atlantik yang kita kenal bahkan lebih luas dari bumi yang kita huni ini.

Allah, lafzhu Jalaalah. Akbar ismu tafdhil.
Allahu Akbar, Ketinggian- Mu ya Allah merendahkan segala status yang disandang makhluk-Mu

Allahu Akbar Kekayaan- Mu ya Allah membuat manusia hina-dina dihadapan-Mu

Allahu Akbar, Pengetahuan- Mu ya Allah Menembus segala lipatan hati dan sanubari manusia, semut keci yang hitam, bertenggar di atas batu yang hitam, dalam gua yang gelap-gulita, tetap dalam pengetahuan-Mu, serbuk sari yang jatuh ke bumi atau daun layu yang hanyut di sungai atau jatuh di samping kita yang kita tidak peduli, tetap dalam pedulinya Allah, sekali pun laut dan darat dibrender, langit dan bumi bungkam “ Wallahu Ya’lamu Maa Tusirruna Wamaa Tu’linuun”. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang dilakukan terang – terangan maupupun sembunyi-sembunyi.
Allahu akbar, Allah Al-Qadir, Allah Maha Kuasa, Allah titipkan kekuasaan pada makhluk-Nya sehingga hambanya, makhluknya berkuasa, minimal menguasai dirinya sendiri.

Allahu Akbar, Allah Maha Berkehendak Al-Murid, Allah titipkan kehendak pada makhluk-Nya sehingga beragam macam kehendak makhluk-Nya.

Allahu Akbar, Allah Maha Hidup. Al-hayyu, Allah titipkan kehidupan pada kita semua, sekarang kita hidup, amanah dari Maha Hidup, Al-Hayyu, Al-Muhyi.

Allahu Akbar, Allah Al-‘Aliim, Allah titipkan pengetahuan kepada kita, sehingga ragam tingkat pengetahuan kita.

Allahu Akbar, Allah Maha Mendengar As-Sami’ . Allah titipkan kemampuan mendengar bagi kita.

Allahu Akbar Allah Maha Melihat, Al-Bashir, Allah titipkan kemampuan bisa melihat kepada kita, ada yang sanggup melihat dengan mata kepalanya, ada yang tajam mata hatinya. “Fainnaha Laa ta’mal Abshar, walaakin Ta’mal Quluubullatii Fis-shuduur”. Yang disebut buta bukanlah buta mata kepala, tapi buta mata hati.

Banyak manusia yang mata kepalanya terbuka, terbelalak tapi justru membutakan mata hatinya, jauh lebih baik mata kepalanya buta tapi mata hatinya terbuka sehingga ia merasakan Lazzatur-Ruhiyyah, lezatnya beriman kepada Allah, lezatnya mencintai Allah Jalla-Jalaaluh.
Allahu Akbar, Alla Maha Al-Mutakallim, Berkata-kata, sehingga kita mampu berkata-kata, dan ini adalah amanh maha Al-Mutakallim.

Maka saat kita takbir dalam sholat, Allahu Akbar, saad ied Allahu Akbar, dalam setiap aktifitas kekuasaan, kehendak, pengetahuan, kehidupan, pendengaran, penglihatan, kemampuan kalam, mutlak milik semuanya Allah Jalla-Jalaaluh.

Lalu apa yang kita miliki sebagi makhluk-Nya? “ We have, but nothing”. “Laa Mulkiyyatan” seakan kita berkuasa, seakan kita hidup, seakan kita melihat, seakan kita berpengetahuan, seakan kita mendengar, seakan kita berkata-kata, sebenarnya seakannya saja. Semua milik-Nya. Allah ada, sebelum kata ada itu ada, Allah tetap ada sekalipun kata ada itu sudah tidak ada ‘’ Kullu Man ‘Alaiha Faan Wa Yabqaa Wajhu Rabbika Dzul jalaali Wal Ikraam”. (Q.S. Ar-Rahman: 26)
Hari ini kalimat takbir dari mulut umat Islam bergema di mana-mana. Hal ini dilakukan sebagai ungkapan syukur yang bercampur gembira, lantaran mereka telah ber-idul fitri atau kembali kepada kesucian (fitrah).

Kalimat di atas terdiri dari dua kata, yaitu kata id yang berarti kembali atau hari raya, dan kata fitr yang berarti kesucian. Dengan demikian, Idul Fitri dapat diartikan dengan hari perayaan umat Islam atas keberhasilannya kembali pada kesucian diri layaknya seperti bayi yang baru dilahirkan.

Orang yang berhasil melaksanakan puasa sebulan penuh dengan penuh keimanan dan keikhlasan pada Allah Swt. dianggap sebagai orang yang kembali suci. Untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt., umat Islam dianjurkan untuk menutup ibadah Ramadhan dengan melaksanakan shalat sunat dua rakaat yang disebut dengan shalat hari raya Idul Fitri.

Di tengah-tengah suasana kekhawatiran akan wabah Corona Virus Deseases (COVID-19) yang melanda negeri kita, ditambah lagi dengan duka atas musibah yang terjadi yang dialami oleh saudara-saudara kita di berbagai belahan negeri ini, marilah kita terus bermunajat kepada Allah yang Maha Kuasa seraya berharap kiranya Allah SWT cepat mengangkat wabah corona dan juga berbagai musibah yang melanda negeri kita ini, sembari kita laksanakan himbauan Pemerintah untuk menjaga kesehatan dengan membudayakan hidup bersih dan sehat serta menjaga keseimbangan gizi, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan tetap beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT, belajar dan bekerja di rumah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْد اللهُ أَكْبَرُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah

Adapun landasan hukum pelaksanaan shalat Idul Fitri adalah sebuah riwayat dari Anas ibn Malik yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah Saw. pertama kali hijrah ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari khusus yang merupakan hari raya bagi mereka. Lalu Rasulullah Saw. bertanya: “Kedua hari ini hari apa?” Penduduk Madinah menjawab: “Pada dua hari ini kami mengadakan perayaan, bergembira dan bermain-main sejak zaman Jahiliyah”.

Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. telah mengganti kedua harimu ini dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad ibn Hanbal). Dalam riwayat ibnu Abbas disebutkan bahwa ia bersama-sama Rasulullah Saw., Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab memulai shalat Idul Fitri.

Shalat ini diadakan sebelum khutbah, tanpa azan dan iqamah (H.R. Bukhari dan Muslim).
Namun di sisi lain perasaan haru dan sedih juga dialami oleh umat Islam, karena bulan Ramadhan yang amat mulia telah berlalu. Kemuliaan Ramadhan dapat dilihat dari banyaknya julukan lain dari bulan ke-9 tersebut selain julukan Ramadhan. Bulan ini dijuluki juga dengan Syahr al-Qur’an (bulan al-Qur’an), Syahr al-Shiyam (bulan puasa), Syahr an-Najah (bulan keselamatan), Syahr al-Juud (bulan kemurahan), Syahr al-Tilawah (bulan membaca), Syahr al-Shabr (bulan kesabaran), Syahr al-Rahmah (bulan curahan kasih sayang dari Allah). Ramadhan menjadi bulan yang mulia, karena banyaknya kitab suci dan shuhuf diturunkan pada bulan tersebut. Shuhuf Ibrahim, diturunkan Allah SWT. pada malam pertama Ramadhan; Kitab Taurat, diturunkan Allah SWT. pada malam keenam Ramadhan; Kitab Zabur, diturunkan Allah SWT. pada malam ke-12 Ramadhan, Kitab Injil, diturunkan Allah SWT. pada malam ke- 18 Ramadhan, dan Kitab al-Qur’an, diturunkan Allah SWT. pada malam ke- 17 Ramadhan. Ramadhan semakin terbukti kemuliaannya bila dilihat peristiwa- peristiwa penting yang mengukir lembaran sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan.

Peristiwa-peristiwa itu antara lain: (1). Kemenangan Rasul dan pasukannya dalam perang Badr, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-2 H; (2). Persiapan perang Uhud dilakukan pada bulan Ramadhan tahun ke-3 H; (3).

Persiapan perang Khandak dilakukan pada bulan Ramadhan tahun ke-5 H; (4). Pembebasan kota Mekah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 H; (5). Kemenangan umat Islam dalam perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H; (6). Pengiriman pasukan khusu yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib ke Yaman terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H. Setahun kemudian penduduk Yaman berbondong-bondong masuk Islam; (7). Penaklukan Afrika oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Uthbah ibn Nafi’, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-53 H; (8). Islam menjajakkan kaki ke Eropa bawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad, terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke- 91 H; dan (9). Indonesia merdeka terjadi juga pada bulan Ramadhan.

Jasa Pembuatan Website SEO Personal / Instansi / Kantor / Sekolah
+6252 1150 5391