Buloh Blang Ara yang Terlupakan…!?

  • Whatsapp

Oleh : Baharuddin AR*

FEATURE–-Tulisan sederhana ini mencoba merekam, memotret dan melaporkan beberapa hal yang dianggap penting dan krusial sebagai bagian dari tanggung jawab moral selaku putra asli Buloh Blang Ara yang sudah melalangbuana di luar dalam jangka yang lama.

Buloh Blang Ara sebagai ibukota Kecamatan Kuta Makmur, Aceh utara, lebih kurang 15 km.dari Cunda, lhoksemawe. Di sana kita jumpai yang namanya Sp Buloh yang sering berkerumun para penunggu passenger (penumpang) semacam ojeg/gojeg (dulu sering disebut RBT).

Sedangkan ke Ibukota Kabupaten  Aceh Utara, Lhoksukon, tergolong lumayan jauh kira-kira hampir 30 km. Namun, bisa ditempuh dengan berbagai jalur ke sana, baik melalui jalan Banda Aceh-Medan, maupun jalan “Elak”, juga bisa melalui jalan saluran pipa gas PT Arun. Orang-orang sering menyebutnya “jalan LEN”.

Buloh Blang Ara punya sejarah tersendiri dalam perhelatan panjang merebut dan mempertahan kemerdekaan RI dari penjajah. Buloh Blang Ara menjadi benteng (Tanksi/Tankse) terakhir bagi para pejuang saat lhoksemawe dan Cunda dalam perebutan penjajah.

Bahkan, dengan senjata apa adanya, termasuk bambu runcing, para mujahid Indonesia (Aceh) berani menyerang penjajah yang sudah bermarkas di lhoksemawe saat itu dengan berjalan kaki dari Buloh Blang Ara tanpa pamrih…!. Namun, dalam perjalanan waktu seolah-olah Buloh Blang Ara terabaikan (termarginalkan) dalam peta republik ini…?

Saat konflik vertikal (Jakarta – Aceh) yang berakhir damai, Buloh Blang Ara ini dianggap.basis pergerakan GAM dan berwarna hitam dalam peta Daerah Operasi Militer (DOM). Kondisi ini sangat berdampak pada kehidupan warganya, terutama pada zona basis-basis sumber ekonomi, yakni pertanian dan perkebunan. Kedua potensi sumberdaya alam ini menjadi tonggak utama terhadap zona-zona lainnya, termasuk pendidikan.

Durian dan langsat, menjadi andalan dan primadona pada saat musimnya yang kemudian dikenal dengan sebutan “boh Drien dan Langsat Buloh”. Demikian “lakab” yang sangat familiar.bagi warga sekitar. Bahkan, seluruh Aceh. Termasuk Banda Aceh. Jika kelihatan durian dan langsat, langsung ditanya, apa ini dari Buloh…?. Meskipun para pedagang ada yang menipu pembelinya, bahwa ini dari Buloh. Padahal.bukan dari sana. Jika durian dari sana, satu biji pun masih sangat berbau menusuk hidung. Apalagi dalam jumlah banyak…! Maka, bagi mobil penumpang jarang yang mau membawanya, meski hanya satu.buah,karena baunya bisa mengganggu penumpang…!

Soal harga komoditas rakyat tefsebut, termaduk durian dan langsat, selalu menjadi “pengganggu” konsentrasi warga di sana. Ketika bercocok tanam harga-harganya layan melambung. Namun, saat panen semua harga anjlok. Seolah-olah pasar berjalan sendiri-sendiri dan sangat liar tidak terkontrol.

Padahal sebagian besar kebutuhan warga terhadap produk pertanian dan perkebunan. Termasuk sayur mayur dihasilkan dari Buloh Blang Ara. Bahkan, sampai ke Banda Aceh dan Medan dipasok. Namun, semangat petani di sana selalu kandas dan loyo ketika berhadapan dengan kekuatan pasar yang liar ini. Kemana eksekutif dan legislatif saat itu…???. Demikian sering terekam omongan warga di warung-warung kopi.

Kondisi di atas, diperparah lagi saat sekarang yang berhadapan dengan wabah mendunia, covid-19 ini. Dampaknya luarbiasa sampai ke Gampong-gampong (Desa). Tidak terkecuali Buloh Blang Ara…!

Jika transportasi (darat) terhenti keluar-masuk ke sana, maka dapat dipastikan barang-barang komoditi andalan warga yang dipasok ke daerah sekitat, seperti Lhoksemawe, Lhoksukon, Bireun dan bahkan ke Banda Aceh dan Medan, juga ikut terhenti total. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup dan kehidupan masyarakat di sana.

Jika datangnya musim kemarau berkepanjang (seperti tahun yang lalu). maka sangat berdampak terhadap penghasilan mereka, termasuk komoditas-komoditas andalan, seperti durian, langsat, rambutan, padi, dan sayur-sayuran. Khusus untuk tanaman padi yang berharap pada irigasi yang selalu mengalirkan air ke sawah-sawah mereka. Namun, masih ada irigasi yang dikerjakan asal jadi tidak sekuat yang diprediksi. Padahal anggarannya hampir tiap tahun digelontarkan…!?

Itulah sekelumit potret buram tentang Buloh Blang.Ara. Semoga bisa membuka mata dan telinga bagi pemangku.amanah untuk lebih memperhatikannya ke sekarang dan ke depan. Jangan dimarginal lagi, sudah cukup, stop…!

*penulis adalah Sesepuh Mssyarakat Buloh Blang Ara berdomisili di Banda Aceh dan Dosen UIN Ar-Raniry.

Email: Bahar. [email protected]

Related posts