Corona: Ayam, Udang, dan Manusia

  • Whatsapp

OPINI—Melihat kondisi orang yang mengindap corona, yang pening dan jatuh secara tiba-tiba, juga berakhir dengan tutup usia. Saya teringat kondisi yang kerap terjadi pada dua jenis hewan, yakni ayam dan udang.

Dahulu, ada penyakit yang sering terjadi pada ayam. Orang Aceh menyebutnya penyakit “ta’eun”. Ta’eun merupakan penyakit menular, namun hanya sesama ayam. Bila satu ayam terinfeksi ta’eun, besar kemungkinan satu kandang ayam akan musnah secara pelan-pelan.

Read More

Responsive image Responsive image Responsive image

Ketika terinfeksi ta’eun, ayam akan hoyong, alias pening. Ayam akan berputar-putar, melingkar, persis orang mabuk. Di mulutnya biasa keluar liur, lendir, pertanda ayam itu positif ta’eun. Juga fisiknya terligat lesu dan malas bergerak. Bahkan cenderung bengong.

Nah! Ketika pemilik tak segera menyembelih, lambat laun ayam akan mati. Dan akan menyusul ayam berikutnya, bahkan ayam tetangga, sebab virus telah menyebar. Sering kita dengar cerita orang kampung bahwa ayamnya mati perlahan-lahan hingga kosong kandang.

Itu lah penyakit ta’eun yang telah lama dikenal masyarakat Aceh.

Selain ayam, hal yang sama juga terjadi pada udang. Pada kasus udang, tidak disebut penyakit ta’eun, bahkan saya tidak pernah mendengar istilah penyakit yang terinfeksi pada udang. Tetapi para petani tambak hanya sering berkata bahwa udangnya telah kenak penyakit, artinya positif berpenyakit.

Jika diperhatikan, penyakit pada udang sama dengan ta’eun yang menimpa ayam. Udang akan pening, berenang sambil berputar-putar, dan akan berakhir dengan mati.

Saat satu udang telah terinfeksi penyakit, makan udang lain dalam satu tambak akan mati satu per satu.

Karenanya, bila kondisi sudah demikian, petani tambak akan memanen semua udang yan dibudidayakan. Meskipun usia udang baru satu bulan. Biasa budidaya udang butuh waktu hingga tiga bulan. Jika tidak dipanen saat mulai menyebar penyakit, dalam waktu singkat tambak akan kosong, alias udang mati semua. Jadi mereka memanennya, agar ada sedikit hasil, walau tidak sesuai harapan.

Penyakit udang ini terjadi hampir pada setiap tambak yang ada udangnya. Karena penyakit terlalu meresahkan, petani tambak tidak tertarik lagi membudidayakan udang, sebab selalu berujung dengan infeksi penyakit udang.

Jadi bila Anda pernah melihat banyak tambak yang terbengkalai, rusak, dan tidak dimanfaatkan, itu bukan karena pemiliknya telah kaya atau malas membudidaya udang, tetapi sebab udang sering terinfeksi penyakit hingga kerap gagal panen.

Dalam pandangan petani tambak, penyakit ini akan berlalu sekitar 10 tahun. Saat zat asam pada tanah telah hilang dan tidak lagi menyimpan penyakit.

Di tempat saya, di Manyak Payed, Aceh Tamiang, petani tambak tahun 1990-an sangat jaya, sebab tiap membudidaya udang selalu panen melimpah. Namun, kurun tahun 2000 hingga 2010, petani mulai lesu, budidaya udang jarang yang berhasil. Tambak-tambak mulai terbengkalai.

Kini, sejak 2012 lalu, petani tambak di tempat saya mulai bangkit. Tambak-tambak yang rusak mulai diperbaiki. Setiap membudidayakan udang kerap membuahkan hasil maksimal. Penyakit udang yang 10 tahun silam pernah ada, kini sudah jarang terjadi, bahkan hampir tidak pernah lagi terdengar udang berpenyakit.

Nah, kini penyakit yang pernah menimpa ayam dan udang mulai terjangkit pada manusia, mereka menyebutnya corona. Kasusnya hampir sama, orang yang terinfeksi corona sering jatuh tiba-tiba. Yang paling menakutkan adalah penyebarannya amat cepat.

Kita berharap mata rantai corona juga cepat berakhir. Tidak mesti menunggu waktu sepuluh tahun, seperti kasus udang.

Toh manusia punya akal, mampu mencegah dan bisa menjaga diri. Berbeda dengan ayam dan udang, yang tak punya akal, dan tak punya tim medis yang mengobati.

Semoga corona cepat berlalu. Seperti berlalunya kilat.

*Abu Teuming

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image

Related posts