Esensi Ramadan Wujudkan Insan Muttaqin

  • Whatsapp

Oleh : M.Sannusy, S.Pd.,M.Pd*

RAMADAN DARING-–Bulan Ramadan terbagi menjadi 3 fase utama, yaitu 10 hari pertama, 10 hari pertengahan, dan 10 hari terakhir ramadhan. Pada 10 hari pertama ramadhan telah diriwayatkan sebagai hari-hari diturunkannya rahmat dari Allah kepada manusia.

Pada 10 hari pertama ini kita akan banyak mendapatkan limpahan pahala dari berbagai amalan-amalan yang kita lakukan selama berpuasa.

Memang fase-fase awal ini akan menjadi agak berat bagi kita karena merupakan peralihan dari yang sebelumnya makan 3 kali sehari menjadi puasa yang mewajibkan kita menahan lapar dari subuh hingga magrib. Tapi biasanya setelah 2-3 hari pertama kita sudah terbiasa dengan puasa kita.

Fase 10 hari pertengahan ramadan dimana keutaman fase kedua ini adalah Allah banyak memberikan maghfirah atau ampunan. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk meminta ampun atas dosa-dosa kita dengan memperbanyak dzikir dan meminta ampunan, meminta agar semua dosa-dosa kita di maafkan dan diterima tobat kita.

Tidak ada bulan-bulan lain yang sebaik bulan ramadan, maka itu janganlah kita menyiakannya, agar kita tidak menjadi orang yang merugi.

Bulan Ramadan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah pembebasan dari api neraka.

Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:
Sebab pertama, karena sepuluh terakhir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya.

Rasulullah saw. berdo’a:
“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu kelak.”

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.

Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.

Dalam sepuluh hari terakhir Ramadan didugs turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.
“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan.”
Allah swt. juga berfirman:
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”

Dalam hadits disebutkan, yang artinya: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan.

Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”
Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan.

Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.

“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”
Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadan atau di bilangan ganjilnya saja?

Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
“التمسوها في العشر الأواخر
وفي الأوتار”

“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”
Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.

Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.

Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”

Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeda-beda.

Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.
Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?

Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.
Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadan.

Ramadan merupakan bulan suci yang mampu hanguskan berbagai dosa dan maksiat selama kurang lebih satu tahun lalu. Selain itu, Ramadhan merupakan bulan di mana diwajibkannya bagi orang-orang yang beriman untuk berpuasa. Karena itu, puasa merupakan ajang menempa diri untuk meraih gelar Muttaqin.

Seluruh muslim diberbagai penjuru dunia, dari awal hingga akhir nanti, direkomendasikan Rasulullah SAW untuk bergembira, menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan mulia karena mengandung perintah Allah SWT dan seruan Rasulullah SAW untuk berpuasa wajib selama 30 atau 29 hari.

Pada bulan tersebut, diturunkan pula wahyu Allah yang mengandung ayat-ayat Al-Quran.
Keutamaan Ramadhan lainnya adalah, Lailatul Qadar. Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka, bergembiralah dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan yang dilengkapi dengan ibadah tarawihnya.

Rasulullah selalu memberi kabar gembira pada para Sahabatnya setiap kali datang bulan suci Ramadhan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Telah datang pada Anda bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu Surga dan ditutupnya pintu-pintu Neraka.

Puasa Ramadhan merupakan perintah wajib bagi orang Muslim yang sudah dewasa (baligh) dan tidak memiliki uzur untuk menunaikannya. Puasa adalah ibadah yang cukup berat. Karena keterlibatan rohani dan jasmani secara bersinergi, tanpa perubahan tidak teknis pribadi maupun sosial. Ibadah puasa tidak seperti ibadah wajib lainnya yang dapat dilihat secara kasat mata.

Seperti ibadah Shalat, dengan sangat mudah kita dapat mengetahui seseorang yang sedang mengerjakan shalat dan yang tidak pernah shalat. Begitu juga dengan orang yang menunaikan zakat dan yang belum membayar zakat.

Hal itu, bisa dilihat dengan kasat mata, kita dapat mengetahui dan mengukur keimanan orang-orang yang pelit, kikir dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah.

Berbeda dengan puasa, ibadah puasa adalah ibadah rahasia yang hanya ditemukan oleh Allah dan orang yang melakukannya. Amal ibadah puasa akan langsung disebutkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, termasuk dalam hadis Qudsi yang menyatakan, setiap amal anak-cucu nabi Adam akan kembali pada saat mereka masing-masing, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk Allah dan Allah yang juga melahirkan pahalanya.

Akhirnya kita berharap,pada akhir ramadhan kita memperoleh titel Muttaqin sebagaimana tujuan dari ramadhan itu sendiri.marilah kita memperbanyak amal shalih kita dlam mengisi hari hari ramadhan.[]

*Penulis : Guru SMKN 1 Al-Mubarkeya, Aceh Besar.



Related posts

Paris

Paris