FUAS Selenggarakan Bedah Buku Sayed Mudhahar Akhmad

  • Whatsapp

Aceh Selatan – Forum Ukhuwah Aceh Selatan (FUAS) menyelenggarakan Bedah Buku dan Diskusi Pemikiran Sayed Mudhahar Akhmad pada Rabu, 27 Mei 2020 di Berkah Coffee, Jambo Mayang, Kota Fajar, Aceh Selatan.

Dua penulis Aceh yang membedah buku, “Ketika Pala Mulai Berbunga, Seraut Wajah Aceh Selatan,” karya Sayed Mudhahar Akhmad adalah Muhammad Ridho Ag (Penulis Strategi Marketing Ideologi Islam Transnasional) dan Zulfata (Penulis Agapolisme).

Buku bersampul hijau yang terbit pertama kali pada 1992 itu diberi judul yang begitu menggoda, “Ketika Pala Mulai Berbunga.” Sejauh ini buku tersebut adalah buku yang sangat komprehensif menceritakan kehidupan sosial, budaya, agama, ekonomi, demografi hingga geografi Aceh Selatan kala itu.

Mulai sejarah dan kontribusi rakyat Aceh Selatan pada masa perjuangan kemerdekaan melawan kolonial Belanda dan setelah kemerdekaan. Buku ini juga berbicara tentang jumlah demografi masyarakat kecamatan dan gampong, (saat itu Aceh Barat Daya, Kota Subulussalam, dan Kabupaten Aceh Singkil masih masuk wilayah Aceh Selatan), hingga membicarakan kemajemukan etnis, serta beragam potensi sumber daya alam di Aceh Selatan.

Zulfata salah seorang pembedah mengatakan, sangat mengapresiasi terhadap kontribusi Sayed Mudhahar yang telah menulis tentang sejarah Aceh Selatan prakolonial Belanda, saat memperjuangkan kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan.

“Wilayah Aceh Selatan pada masa prakolonial Belanda pada tahun 1883 adalah salah satu wilayah eksportir terbesar di Sumatera di bidang perkebunan dan pertanian,” katanya.

Zulfata menambahkan, pada masa itu Belanda mengeksploitasi komoditi perkebunan dan perikanan seperti pala, cengkeh, padi, kelapa, cabe, kayu manis, pinang, dll.

Sementara Muhammad Ridho Ag yang membedah terkait ideologi Keislaman dan Kebudayaan Aceh Selatan yang menjadi tumpuan dasar jiwa kepemimpinan Sayed Mudhahar Ahmad.

“Pada awal kepemimpinannya pada tahun 1989, beliau sukses menyelenggarakan Seminar Kebudayaan di Aceh Selatan yang diprakarsai oleh Ali Hasjmy (Ketua Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA).

“Pada tahun 1990, sebanyak 184 tokoh nasional dan internasional hadir pada Muzakarah Pembangunan Pertanian di Aceh Selatan,” ujar Ridho.

Ridho menambahkan, Sayed Mudhahar membuat kebijakan berdasarkan analisis data dan hasil riset untuk merumuskan konsep pembangunan.

“Itu terbukti beliau mendapatkan penghargaan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) sebagai Bapak Lingkungan Hidup,” katanya.

Aktivis Lingkungan Hidup, Fachrur Razi menanggapi pemimpin Aceh Selatan perlu meniru keteladanan Sayed Mudhahar yang berhasil memimpin Aceh Selatan.

Pemerintah Aceh Selatan harus berani menegaskan batas wilayah tambang dan eksploitasi kayu hutan. Alih-alih mencabut izin operasionalnya yang telah meresahkan masyarakat. Bahkan berpotensi memunculkan konflik antara masyarakat, perusahaan, dan pemerintah.

“Mengingat konflik agraria yang menyangkut lahan dan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia sudah sangat sering terjadi di Indonesia bahkan berujung pada konflik terbuka.”

Jika pemerintah tidak berani tegas, hanya menunggu masanya, maka bom waktu bencana ekologi akan melanda.

“Pemerintah Aceh Selatan baik yang sedang menjabat maupun pemerintahan yang akan datang harus punya komitmen nyata untuk benar-benar menyelamatkan masyarakat Aceh Selatan lepas dari jerat kemiskinan dan bencana alam,” katanya.

Ada pun diskusi dan bedah buku tersebut diiringi oleh banyaknya tukar pikiran dan saling sumbang pijakan sejarah pada masa Sayed Mudhahar. Banyak harapan yang disematkan baik kepada Pemerintah Aceh Selatan yang saat ini menjabat maupun kepada siapa pun yang akan memegang tampuk kepemimpinan Aceh Selatan nantinya.

“Pemerintah perlu kembali menggalakan perekonomian rakyat melalui revitalisasi perkebunan dan pertanian masyarakat untuk mencapai swasembada nasional.”

Jika dicari akar permasalahan dewasa ini, maka kita akan sampai pada kesimpulan yaitu perilaku masyarakat Aceh Selatan sekarang yang lebih tertarik dengan tanaman sawit yang lebih menjanjikan.

Kedua, tidak lagi produktifnya tumbuhan pala di Aceh Selatan akibat hama, seperti mati meranggas. Ketiga, harga biji pala yang semakin jatuh di pasaran. Keempat, minimnya dukungan pemerintah daerah bagi perkebunan Pala melalui pembukaan lahan baru, penyediaan bibit, pupuk, dan dukungan pascapanen.

Jangan jadikan pala hanya sebagai ikon pada tugu selamat datang. Jangan pula sampai kejayaan pala Aceh Selatan hanya menjadi dongeng pengantar tidur anak cucu kita nanti. Tanpa mereka tahu bagaimana bentuk pohon dan buah pala kebanggaan daerahnya.

Namun, kiasan yang dipakai pada sampul buku itu hanya menyebutkan Pala berbunga, belum tumbuh menjadi buah. Belum pula dapat dipakai sebagai komoditi masyarakat.

Maka, munculah jargon satire Aceh Selatan menjadi “Aceh ketelatan.” Telat dari pembangunan dan jauh dari kesejahteraan. Anggapan bahwa Aceh Selatan adalah “Aceh ketelatan” tidak perlu ditanggapi dengan reaktif dan berlebihan.

Itu hanyalah pemicu agar siapa pun yang memimpin Aceh Selatan agar mampu visioner. Barangkali sindiran ini akan memerahkan telinga dan membuat amarah di dada.

Namun, lebih arif jika “cubitan” itu dijadikan bahan refleksi agar Aceh Selatan dapat berbenah menuju kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat sekitar.

Jika kita lihat fakta di lapangan, sindirian itu memang tidak sepenuhnya keliru. Sampai saat ini Aceh Selatan memiliki permasalahan yang kompleks, seperti kemiskinan, program yang tidak pro rakyat, kerusakan lingkungan, serta bencana alam yang selalu mengintai akibat perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan.

Semua permasalahan ini menyeret Aceh Selatan semakin jauh tertinggal. Seharusnya, sebagai satu kabupaten “tertua” di Aceh, Kabupaten Aceh Selatan sudah berada jauh di depan dalam segi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Ini adalah nukilan sajak-sajak di buku Ketika Pala Mulai Berbunga;

Ketika pala mulai berbunga;
Burung-burung syairkan kerinduan;
Tentang air yang mengalir dari Hutan;
Tentang jalan setapak yang panjang;
Ketika pala mulai berbunga.

Ada angin nyanyikan;
Cinta Embun Berkilau di daunannya;
Pelangi menari di tangkainya;
Tiba saatnya memetik rembulan dan matahari;
Musim panen ladang sendiri, dari ladang sendiri.

Zamrud yang hijaukan hutan-hutan adalah bias masa depan;
Ketika pala mulai berbunga;
Wanginya mekarkan cita-cita;
Ketika pala mulai berbunga;
Ada cahaya di raut wajah Bunda.

Adapun kegiatan Bedah Buku dan Diskusi Pemikiran Sayed Mudhahar untuk Masa Depan Pembangunan Aceh Selatan itu dipandu oleh Riri Isthafa Najmi.

*Penulis: Riri Isthafa Najmi*

Related posts