Hukum  Merayakan Hari Natal Bagi  Ummat Islam

  • Whatsapp
  • Oleh: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)

SANTERDAILY.COM  |   OPINI—-

Muqaddimah

Setiap ujung tahun masehi tepatnya dalam bulan Desember ummat Islam dihebohkan oleh perayaan orang lain yang secara ‘aqidah tidak ada hubungan lagi dengan muslim. Namun karena ada pembesar negeri mayoritas muslim seperti Indonesia yang membuat pernyataan boleh merayakan natal bagi ummat Islam maka menjadi riuhlah kondisi kehidupan ummat Islam di sini. Yang menjadi lucu, heran, aneh, ajaib, dan aib besar adalah orang tersebut sebelum mendapatkan jabatan tertentu dalam pemerintah sudah menyatakan natal dan ucapan selamat natal haram hukumnya diperingati dan diucapkan oleh setiap ummat Islam.

Akibat ulah seorang linglung seperti itu berefek kepada terpecah belahnya ukhuwwah Islamiyah ummat Islam di negeri ini. Sebagian penganut Islam yang istiqamah dan komit dengan ‘aqidah Islamiyah sudah tentu merasa sakit hati dengan pernyataan orang linglung tersebut. Sebaliknya bagi kerabat keluarga dan kawan-kawan orang linglung yang cenderung sekuler, liberal, plural, dan nasional merasa pernyataan linglung tersebut sebagai sebuah sikap toleran sehingga mereka bangga dengan sifat linglung tersebut.

Padahal karakter Islam sangat beda dengan karakter agama lain selain Islam, Islam sangat ketat menjaga komitmen ‘aqidah sehingga agama yang sudah ditolak oleh Allah seperti Kristen sama sekali tidak boleh diakui sebagai agama benar dalam ketentuan Allah karena mereka meyakini tuhan ada tiga, Isa putera tuhan, dan lainnya yang sangat dibenci oleh Allah yang Maha Esa.

Kenyataan Sejarah

Sejarah telah membuktikan kalau Islam datang pada hujung segala agama samawi untuk memensohkan dan menafikan semua agama lain seraya membenar tunggalkan Islam sebagai agama Allah yang diakui Allah, yang benar di sisi Allah, yang Allah perintahkan semua ummat manusia masuk dalam agama Islam (Al-Qur’an surah Ali Imran; 19, 85). Bani Israil baik kaum Yahudi maupun kaum Nashrani diperintahkan Allah untuk masuk dalam Islam secara sempurna (Al-Qur’an surah Al-Baqarah; 208) dan manakala mereka ingkar tidak mau bergabung dengan Islam, Allah mengcap mereka sebagai kafir yang Allah siapkan neraka di hari kemudian (Al-Baqarah; 39, Al-Bayyinah; 6).

Kaum Bani Israil yang bernenek moyang kepada Ibrahim AS dan Ibrahim memiliki dua putera; Ismail dan Ishak, dari Ishak lahir Ya’kub dan ya’kub memiliki dua belas orang anak yang kemudian keduabelas anak Ya’kub beserta keturunannya tersebut dilabelkan sebagai kaum Bani Israil karena Ya’kub mempunyai dua nama yakni Ya’kub sendiri dan Israil. Kaum Bani Israil tersebut ada yang masuk Islam bersama nabi Muhammad SAW, ada yang tidak masuk Islam dan tetap berpegang kepada kitab orisinalnya (Taurat, Zabur, dan Injil).

Ada pula yang tidak mau masuk Islam dan tidak lagi berpegang kepada kitab keyakinan awal mereka melainkan mereka melepaskan diri dari semua kitab baik kitab lama (Taurat, Zabur, dan Injil), maupun kitab terakhir (Al-Qur’an). Bagi kaum Bani Israil versi berpegang kepada kitab lama disebut kafir Ahlul Kitab karena mereka komit dengan pegangan lama dan tidak mau mengikuti Allah bergabung dengan Islam, dan bagi kaum Bani Israil yang melepaskan semua kitab dipanggil kafir musyrik karena mereka sebelumnya beriman tetapi ketika Islam datang untuk menggantikan semua agama sebelumnya mereka tidak mau beriman kepada Allah, Rasul Allah, kitab Allah terakhir dan tidak mau bersaudara dengan ummat Islam.

Keturunan Ya’kub dari putera pertamanya; Ismail, menghadirkan sosok Muhammad bin Abdullah dari suku Quraisy yang kemudian Allah mengangkatnya sebagai Rasul Allah yang terakhir untuk semua ummat manusia di bumi ini. Namun sebahagian kaum Bani Israil seperti bangsa Yahudi dan bangsa Nashrani bukan hanya tidak mau mengikuti Rasul Allah tersebut melainkan mereka memusuhinya dan memusuhi pengikut-pengikutnya sampai ke hari ini. Persoalannya sedikit saja yang membuat mereka tidak mau mengikuti nabi Muhammad walau sebelumnya mereka meminta kepada Allah agar segera mengutuskan rasul (Muhammad) yang dijanjikan dalam kitab mereka. Karena Muhammad diutuskan Allah dari keturunan Quraisy bukan dari kaum Bani Israil.

Ketentuan Dalil

Terkait dengan latarbelakang kehadiran agama samawi tersebut di atas Allah telah mendeklarasikan kepada RasulNya dan pengikut RasulNya ketegasan komitmen beragama selaras dengan firmanNya: Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (Al-Kafirun; 1-6).

Jasa Pembuatan Website SEO Personal / Instansi / Kantor / Sekolah
+6252 1150 5391