Ibu Madrasah Pertama dan Utama Bagi Anak

  • Whatsapp

Oleh : Maghfirah Zainal Abidin, S.Pd.I.,MA*

OPINI—Ibu adalah rumah bagi anak sebelum anak itu dilahirkan. Sembilan bulan ibu mengandung, kemudian melahirkan, mengasuh serta merawat anaknya. Perjuangan seorang ibu untuk anaknya memang bukanlah hal yang mudah, bahkan nyawapun menjadi taruhannya. Ibu selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, memberikan kasih sayang yang tak terhingga untuk anaknya.

Read More



Ibu begitu tulus, ikhlas sepenuh jiwa dan raga memberikan kasih sayang dan perhatiannya. Tanpa pamrih dan mengharap imbalan apapun dari anaknya.
Dari ibulah seorang anak banyak belajar hal-hal baru dalam hidupnya.

Belajar berbicara, belajar memakai pakaian sendiri, belajar cara makan, melatih motorik kasar dan halus. Hal- hal tersebut dimulai dari guru yang hebat bernama ibu. Ibu adalah pengajar, pembimbing serta penasehat terbaik bagi anaknya. Ketika seorang anak tengah bingung tak tau arah, ketika seorang anak tengah dalam masalah, ketika seorang anak tengah gundah dan gelisah. Ibu adalah tempat ternyaman untuk mencurahkan isi hati.

Seorang anak senantiasa mendambakan ibu yang baik dan juga sholehah. Ibu yang ideal secara Islam adalah seorang ibu yang memiliki budi pekerti luhur, ta’at dalam beribadah menjalankan syari’at agama Islam dan juga ibu yang memberikan manfaat bagi anaknya. Seorang ibu yang ideal menurut pandangan Islam juga, ibu yang mengerti, bagaimana mengajarkan nilai-nilai ketauhidan kepada anaknya ketika masih didalam kandungan, sampai anak itu lahir seorang ibu harus mengerti bagaimana mendidik anak dengan nilai-nilai ke-Islaman, mengajarkan hal-hal mengenai permasalahan agama.

Dengan cara mengajarkan dan membiasakan anak sedari kecil sholat, membaca Al-Qur’an, mengenalkan anak dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, sejarah-sejarah Nabi dan Rasul, meneladani kepribadian Rasulullah SAW dan memberikan contoh akhlak dan adab Islam yang baik pada anak.

Mendidik anak sedari kecil dapat memberikan dampak yang luar biasa nantinya. Pola pembiasaan sejak kecil memberikan dampak kepada anak yaitu memiliki keterampilan serta kepribadian yang baik dan berkualitas, berakhlak mulia, kuat secara fisik dan juga mental. Ibu yang baik tentunya ibu yang selalu mendo’akan anak-anak nya. Ibu yang senantiasa memberikan kasih sayang yang tulus, yang tak pernah lupa akan tanggung jawabnya dalam mengasuh anak.

Membentuk kepribadian anak adalah tanggung jawab ibu. Dalam hal ini ibulah yang lebih besar perannya dari pada ayah.
Tak hanya mendidik anak ketika masih kecil saja, peran ibu juga sangat dibutuhkan ketika anak memasuki masa remaja. Sudah selayaknya sebagai ibu yang baik, ibu senantiasa memberikan pendampingan dan pengarahan kepada anak ketika memasuki masa remaja. Masa remaja yaitu masa dimana anak mencari jati dirinya.

Usaha yang dilakukan ibu hendaknya memberikan pengarahan dalam ranah pendidikan yang baik untuk anaknya, memberikan pengertian terhadap perubahan yang terjadi pada anaknya, serta tetap terbuka terhadap anak.

Ketika anak memasuki masa baligh mereka telah memasuki fase yang mana taklif mereka sebagai muslim/muslimah telah diperhitungkan. Ibu harus memberikan pengertian bahwa pada masa ini anak telah wajib menjalankan kewajiban beragama, menjelaskan tentang batas-batas aurat bagi mereka, menjaga adab Islam terlebih kepada lawan jenis. Ibu hendaknya tetap menjadi sosok yang terbuka dan friendly kepada anak, mendengarkan ceritanya, membantu dan mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal yang tidak diinginkan.

Tidak diragukan lagi betapa pentingnya peran ibu dalam mendidik anaknya. Terbukti sejak masih gadis ibu telah mempersiapkannya membekali diri dengan nilai-nilai kebaikan, supaya menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Secara emosionil ibu adalah orang terdekat bagi anaknya, dengan kasih sayang dan kelembutan sang ibu mampu membangkitkan mental anak menjadi pribadi yang kuat, percaya diri dan juga lembut. Ibu menjadi sosok yang selalu siap siaga dan serba bisa, ketika anaknya serta keluarga membutuhkan.

Mengenai hal ini ada seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut: “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”.
Artinya: Ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Jelaslah dari syair tersebut bahwa ibu adalah madrasah pertama yang nantinya akan memberikan keteladanan bagi sikap, perilaku dan keprbadian anak. Jika seorang ibu itu baik maka baik pula anaknya. Secara tidak langsung semua tindak tanduk ibu akan menjadi panutan atau sebagai suri tauladan bagi anaknya. Ketika seorang ibu menjalankan kewajiban dan fungsinya dengan baik dalam rumah tangga, bukan tidak mungkin akan melahirkan anak-anak yang sholih-sholihah yang kelak menjadi tunas berdirinya masyarakat yang berbakti kepada kedua orang tua, berkualitas, berbudi pekerti luhur dan Islami

Ibu adalah sosok hebat di dalam keluarga. Ia bisa menjadi apa saja di dalam sebuah keluarga. Peran ibu di dalam keluarga memang sangat besar. Ia dapat mengayomi, mendidik, dan mengajarkan berbagai hal kepada anak-anaknya. Bahkan, ibu juga bisa menjadi seseorang yang menjembatani komunikasi keluarga, misalnya komunikasi antara ayah dan anaknya.

Seperti yang kita ketahui, ibu memiliki peran keluarga yang cukup besar. Nah, apa saja sih sebenarnya yang bisa dilakukan oleh seorang ibu dalam sebuah keluarga?

1. Manager untuk mengatur urusan rumah tangga
Sebuah keluarga tentu membutuhkan seseorang yang dapat mengatur segala kebutuhan rumah tangga. Jika ayah memiliki peran keluarga sebagai pencari nafkah, ibu bertugas mengelola keuangan keluarga. Dengan kata lain, ibu bisa menjadi manajer yang handal untuk mengatur segala kebutuhan anak-anak, suami, maupun dirinya sendiri.

2. Guru yang mendidik anak-anak
Terlepas seorang ibu memiliki profesi sebagai eksekutif atau ibu rumah tangga, sosok ibu dapat menjadi guru yang terampil dalam mendidik anak-anaknya. Bukan sekedar mengajarkan materi pelajaran di sekolah saja, ibu juga berperan penting dalam membentuk karakter dan perilaku anak. Ibu juga dapat menjadi guru yang mengajarkan hal-hal yang baik atau hal buruk yang harus dihindari.

3. Koki yang menyediakan makanan keluarga
Tidak ada koki yang lebih hebat dari seorang ibu. Beliau dapat menyiapkan teh celup dan sarapan lengkap di pagi hari sampai memasak makan malam yang bergizi untuk keluarganya. Memikirkan menu makanan setiap hari ternyata tidak mudah, lho. Ibu merupakan seorang koki terbaik yang berusaha menyajikan makanan enak dan bergizi tetapi juga variatif agar keluarganya tidak bosan saat menyantap masakannya.

4. Motivator dalam keluarga
Bukan hanya sekedar menyiapkan teh berkualitas saat sedang duduk santai bersama keluarga, ibu juga bisa menjadi motivator terbaik yang menyemangati anggota keluarganya. Beliau juga menjadi supporter setia untuk mendukung suami dan anak-anaknya dalam mewujudkan impian. Ketika ada salah satu anggota keluarga yang menyerah, ibu adalah orang yang pertama membangkitkan semangat dan memotivasi keluarganya agar tidak gampang menyerah.

5. Perawat sekaligus dokter
Ketika sedang sakit, ibu bisa menjadi perawat yang menyediakan keluarganya secangkir teh celup hangat dan sup. Bahkan, sekalipun anak-anaknya sedang sakit, ibu juga mampu memilihkan obat terbaik atau membuat obat tradisional sendiri. Jadi, boleh dibilang peran ibu dalam keluarga bisa menjadi perawat sekaligus dokter

Dengan sentuhan ibu, timbul rasa nyaman dan membantu perkembangan otak pada anak.

“Ketika anak sedih atau sedang bermasalah, jangan dibentak atau dipaksa menceritakan apa yang terjadi. Tapi peluklah agar anak bisa merasakan kehangatan seorang ibu.

Sekolah yang baik tentu harus dikomandani oleh kepala sekolah yang baik, yang teruji kualitasnya. Maka, ketika masih ada yang kurang baik, maka kita mengikhtiarkan yang terbaik sambil bermohon hidayah dari Allah. Sebab Allah adalah pemilik hak hidayah atas hamba. Lantas, mengapa kecantikan jangan dijadikan acuan dalam memilih calon istri? Sebab kecantikan adalah sumber fitnah yang paling besar. Lalu, mengapa kekayaan jangan dijadikan patokan? Sebab, dengan begitu kita telah menganggap diri kita miskin, sehingga terkesan ingin dikasihani.

Tugas suami atau ayah adalah memberi nama yang baik bagi anaknya. Tidak hanya nama, tetapi juga panggilan yang baik, perkataan yang baik. Sebab nama dan panggilan ini akan berpengaruh pada anak. Maka, biasakan untuk memanggil istri, teman, dan seterusnya dengan namanya yang baik. Bukan dengan nama julukan misal si kriwul, di jenggotan, dan seterusnya. Sebab, hal ini akan tertanam kuat dalam benak anak

Tugas awal ibu adalah menggantikan Allah. Ingat bahwa Allah mengajarkan Adam seluruh nama benda. Maka, tugas ibu adalah mengajarkan nama-nama dan kosakata kepada anaknya. Maka, cerewet terkadang perlu. Tentu saja cerewet dalam berkata baik.

Contohnya seperti ini: Nak, sebelum pakai baju, baca bismillah dulu. Terus doa Alhamdulillahil ladzii kasaanii haadzaa wa razaqaniihi min ghairi haulin minnii wala quwwatin. Kita harus bersyukur sama Allah. Allah itu Maka Kuasa. Coba perhatikan, Allah menyuruh para petani kapas untuk menanam kapas. Lantas kapas itu dipintal menjadi benang. Benang itu dijahit menjadi baju. Baju dijual oleh penjual di pasar, terus ibu beli. Terima kasih ya Allah sudah memberi Adik pakaian yang baik. Adik bisa menutup aurat. Alhamdulillah.

Nah, itu sedikit contoh. Mungkin bisa diperpanjang lagi. Supaya apa? Supaya anak terbiasa menghubungkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan keberadaan Allah.
Namun dibalik itu, tak semua anak mendapat pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. Masih banyak diluar sana yang terjadi malah sangat memprihatinkan. Anak yang masih kecil dipaksa oleh ibunya meminta-minta di jalanan. Tak sepantasnya anak diajarkan hal demikian. Seharusnya walaupun orang tua nya mempunyai masalah di bidang ekonomi, sang anak harus diajarkan dengan yang namanya berusaha. Sehingga pepatah yang menyebutkan bahwa “buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya” bisa di bantah dengan kehebatan orang tua dalam mendidik anak. Jika ibu mempunyai perilaku baik hendaknya sang anak harus lebih baik dari ibunya. Namun jika sang ibu mempunyai perilaku yang kurang baik hendaknya sang anak mampu menutupi kekurangan ibunya dengan memiliki karakter yang dapat menyenangkan orang lain
Jadi dibalik kebaikan dan kejahatan yang dilakukan seseorang semua itu tak luput dari peran ibu yang mendidik mereka. Ibu yang dapat membuat anaknya selalu berbuat kebajikan, sopan santun serta ramah kepada orang lain adalah ibu yang dikatakan berhasil. Berhasil dalam mendidik dan mengasuh sang anak. Ibu yang berhasil memberi pendidikan karakter dan mencontohkan perbuatan baik kepada sang anak. Semua ibu pasti menginginkan anaknya berhasil dalam karir dan berhasil dalam kategori karakter. Pintar dari segi intelektual dan hebat dalam segi emosional. Semoga kita semua menjadi anak yang diharapkan oleh sang ibu tercinta
Semoga kita semua dapat menjadi ibu yang terbaik untuk mencetak generasi unggul pelanjut estafet dan putra putri kita menjadi insan yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

*Penulis : Guru Pendidikan Agama Islam Pada SMP Negeri 18 Banda Aceh/Ibu Dari 5 Orang Anak

Related posts