Ketua ISORI Pijay Berharap Sekolah Kembali Belajar Tatap Muka di Daerah Hijau

  • Whatsapp

PIDIE JAYA – Merespon situasi dan kondisi terakhir terkait pandemi Covid-19 di Aceh, Ketua Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI) Kabupaten Pidie Jaya, Teuku Mukhlish, MPd, mengharapkan agar siswa bisa kembali belajar tatap muka di sekolah. Demikian pernyataan Ketua ISORI melalui relis yang diterima media, Senin (01/06/2020).

Kata Mukhlish, hal ini tidak bertentangan karena pemerintah pusat sendiri melalui gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 memberikan kewenangan kepada 102 kabupaten/kota di Indonesia dan 14 diantaranya adalah kabupayen/kota di Provinsi Aceh pada saat ini berada atau dinyatakan dalam zona hijau untuk melaksanakan kegiatan masyarakat produktif dan aman Covid-19.

“Justru 14 kabupaten/kota di Aceh sudah ada surat edaran dari bupati tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran saat satuan pendidikan beroperasi. Surat edaran ini menjadi kekuatan hukum bagi sekolah untuk melaksanakan kembali proses belajar tatap muka di sekolah apalagi sudah diperkuat oleh kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada 102 pemerintah kabupaten/kota yang saat ini berada dalam zona hijau,” kata Mukhlish.

Dikatakannya, untuk melaksanakan kegiatan masyarakat produktif dan aman Covid-19. Kami mengharapkan kepada satuan pendidikan untuk dapat mengeksekusi surat edaran bupati seperti yang dilakukan oleh satuan satuan pendidikan di Kota Subulussalam.

“Tinggal saja satuan satuan pendidikan menerapkan protokol penanganan dan pencegahan covid-19 di skolah, seperti menyediakan dan melengkapi alat-alat pencegahan sesuai protokol kesehatan,” ujarnya.

Mukhlish menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor. 21 Tahun 2020 satuan pendidikn bisa mengaggarkan dana BOS untuk pencegahan Covid-19 di sekolah, sehingga tidak ada alasan bagi satuan pendidikan untuk tidak membeli atau sewa sarana/perlengkapan/peralatan atau pelaksanaan kegiatan yang diperlukan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Satuan-satuan pendidikan juga bisa menerapkan banyak skenario dalam penerapan New Normal di sekolah, diantaranya seperti penerapan shift sesuai dengan jumlah kelas. Ini ikhtiar yang sangat maksimal yang bisa dilakukan dimasa darurat Covid-19 ini. Kebijkan ini akan mngembalikan kualitas belajar siswa,” ucapnya.

Disamping sistem shift tadi satuan satuan pendidikan mensiasati dengan diberi jeda masuk, jadi masuk dan pulang siswa tidak bersamaan sehingga siswa tidak tertumpu atau terkonsentrasi dalam jumlah banyak di sekolah dalam waktu yang bersamaan.

Dalam proses belajar mengajar diatur tempat duduk dengan menjaga jarak. Minimal berjarak 1 meter, siswa memakai kursi dan meja yang tetap dan dikasih merek atau nomor untuk menghindari pertukaran. Siswa tidak dibenarkan saling pinjam alat pembelajaran secara bergantian. Mereka tidak boleh saling pinjam dan harus menggunakan peralatannya sendiri.

“Karena waktu belajar yang terbatas, tidak ada waktu keluar main, kegiatan ekstrakurikuler juga tidak ada untuk sementara waktu. Fungsi UKS nantinya harus lebih ditingkatkan terutama dalam pencegahan Covid 19,” sambung Mukhlish.

Begitu juga dengan skenario lain, satuan- satuan pendidikan bisa bekerja sama dengan perangkat gampong untuk membentuk kelompok-kelompok belajar di gampong gampong dengan memanfaatkan fasilitas- fasilitas umum seperti mesjid atau meunasah- meunasah, kepala satuan pendidikan tinggal menugaskan guru guru.

Ia menambahkan, kondisi sekarang ini melahirkan kejenuhan bagi siswa dan persoalan besar bagi orang tua dan permasalahan ini dapat dikategorikan tragedi bagi dunia pendidikan. Jadi kami fikir tidak bijak rasa nya ketika persoalan ini kita abaikan.

“Mari kita lihat permasalahan ini secara holistik atau menyeluruh apalagi berkaitan dengan psikologis siswa, kita dianggap tidak peka dengan kondisi dan kebutuhan mereka,” sahut guru berprestasi dari Pijay ini.

Proses pembelajaran dimasa Pandemi Covid- 19 ini Kita juga tidak bisa menjeneralisasi kondisi kondisi dikota besar dengan kabupaten kabupaten yang ada di Aceh, selama pembelajaran Daring siswa justru banyak ditemukan berkeluyuran diluar seperti di warkop yang memiliki fasilitas wifi, kendala yang paling banyak ditemukan ada pada siswa dan orang tua siswa, tidak semua wali siswa mampu memenuhi kuota internet. Sehingga pembelajaran daring tidak efektif, pungkas Mukhlish. (Bay)



Related posts