KOMPETISI RAMADAN MENUJU TAKWA

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Yani, S. Pd. I, M. Ag*

RAMADAN DARING—Perjalanan ramadhan tahun 2020 M/1441 H kini sudah memasuki masa sepuluh yang ke dua, artinya sepuluh pertama sudah dilewati. Ramadhan tidak pernah sama dengan bulan yang lain. Ramadhan menjadi indikator kebaikan seseorang, baik sebelum maupun setelah bulan suci tersebut.

Orang yang mendapatkan keutamaan Ramadhan akan memperoleh kebaikan setelahnya. Sebaliknya, jika seseorang tidak mendapatkan keutamaan Ramadhan maka dia akan gagal pada kehidupan selanjutnya. Ramadhan dapat menjadi musim panen pahala bagi orang-orang yang bertakwa. Umat Islam saat ini lebih banyak yang kurang paham tentang keutamaan Ramadhan.

Akibatnya, mereka mengisi Ramadhan hanya sebatas rutinitas yang wajib dilakukan setiap tahun.
Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan amal-amal kebaikan, disyariatkan amal-amal ibadah yang agung, di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka.

Oleh karena itu, bulan ini merupakan kesempatan berharga yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan ingin meraih ridha-Nya. Dan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, Rasulullah SAW selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini. Inilah informasi awal yang sudah disampaikan bahwa umat Islam tidak boleh lengah apalagi lalai dalam melalui bulan ramadhan ini.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW pernah menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya, “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung).” (H.R. Bukhari).
Imam Ibnu Rajab, ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata,

“Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa dan ingin bertobat serta kembali kepada Allah SWT tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Dan bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira ketika para setan dibelenggu?” Masa dulu para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan Ramadhan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Alah SWT. Sebagaimana Mu’alla bin Al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah SWT selama enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya selama enam bulan berikutnya agar Dia menerima amal-amal shaleh yang mereka kerjakan.”

Hendaknya seorang muslim melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah SAW. Karena balasan kebaikan/keutamaan dari semua amal shaleh yang dikerjakan manusia, sempurna atau tidaknya, tergantung dari sempurna atau kurangnya keikhlasannya dan jauh atau dekatnya praktek amal tersebut dari petunjuk Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Terkadang orang yang berpuasa tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar dan dahaga saja.” (H.R. Ibnu Maajah).

Keutamaan Ramadhan tidak mudah diraih oleh setiap Muslim sebagaimana pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa banyak Muslim yang gagal melaksanakan ibadah pada bulan istimewa ini. Kegagalan tersebut disebabkan oleh kualitas puasa yang rendah. “Kualitas Ramadhan tidak berbanding lurus dengan kuantitas.

Sehingga belum berdampak pada ke ketakwaan. Seorang muslim seharusnya tidak lalai terhadap momen-momen untuk beribadah, bahkan seharusnya ia termasuk orang yang berlomba-lomba dan bersaing untuk mendapatkan kebaikan didalamnya, sehingga penulis menyebutnya ramadhan sebagai bulan berkompetisi, tentunya kompetisi dengan diri sendiri tanpa perlu melihat kiri dan kanan, depan serta belakang terkait dengan amalan orang lain, akan tetapi berkaca pada diri sendiri dengan semangat dan motivasi tinggi untuk meraih gelar takwa kepada Allah Swt.

Meraih Gelar Takwa
Hikmah dan tujuan utama diwajibkannya puasa adalah untuk mencapai takwa kepada Allah SWT, yang hakikatnya adalah kesucian jiwa dan kebersihan hati. Maka bulan Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk berbenah diri guna meraih takwa kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah:183).

Dalam surah Al Baqarah 183 di atas dijelaskan tujuan puasa Ramadhan adalah untuk meraih derajat Takwa. Sebuah tingkatan tertinggi dan kemuliaan yang membahagiakan yang hanya dapat direbut oleh orang pilihan. Sungguh, kemuliaan seseorang tidak dipandang dari harta yang melimpah, jabatan yang menjulang dan wajah yang rupawan.

Namun sangat ditentukan oleh nilai takwa di dalam dada. Itu sebabnya agar kita selamat mengarungi samudera dunia, kita harus memiliki bekal yang sempurna. Sebaik-baiknya bekal adalah bekal takwa begitulah Allah mengingatkan kita semua. Makanya dalam bulan Ramadhan ini terbuka lebar kesempatan untuk meraih derajat takwa tersebut.

Secara etimologi, takwa berasal dari kata waqa-yaqi–wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari, dan menjauhi. Sedangkan secara terminologi, takwa adalah takut kepada Allah SWT berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar segala larangan-Nya. Serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa. jika seseorang sudah mendapat predikat takwa, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta kenikmatan surga sebagaimana yang telah Allah janjikan di dalam salah satu ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam surga dan kenikmatan”. (QS. al-Thur, 52:17).

Lebih luas lagi, takwa sebagai hasil puasa Ramadhan bermakna menjalankan segala kewajiban dan nawafil-Nya (ibadah tambahan), serta menjauhi semua larangan dan perkara syubhat (samar-samar), mafsadat (merusak), lagha (sia-sia), dan makruh (tidak disukai). Kualitas shalatnya diperbaiki, shalat dijadikan sebagai sarana untuk menyatakan cinta pada Yang Kuasa. Maka mereka tidak hanya mengandalkan shalat fardhu semata, berbagai shalat sunat lainnya seperti shalat dhuha, tarawih, witir, tahajud, rawatib dan shalat tasbih menjadi pilihan hati dalam menambah koleksi pahala. Selama Ramadhan, mereka berusaha menambah kepahamannya terhadap agama ini dengan menghadiri majlis taklim, pengajian malam, diskusi, membaca buku-buku Islam dan mengikuti siaran Islami. Luar biasa orang yang mendambakan takwa berusaha mendapatkan malam lailatul qadar dengan I’tikaf sepuluh malam terakhir.

Mereka menunaikan zakat fitrah dan menyantuni yang papa. Pokoknya sebulan penuh selama Ramadhan dimanfaatkan dengan maksimal dalam merajut benang-benang takwa.

Setelah Ramadhan amaliyah orang yang bertakwa bukannya berkurang apalagi hilang tanpa bekas. Akan tetapi justru semakin meningkat sebagai makna syawal yang dipahaminya. Orang yang bertakwa berjuang dengan susah payah untuk membuktikan ketakwaannya ba’da Ramadhan.

Kebiasaan ibadah selama Ramadhan dilanjutkan di bulan Syawal sebagai bentuk kesuksesannya meraih derajat takwa. Puasa syawal, tilawah Quran, memakmurkan masjid dan ibadah lainnya yang dibina selama Ramadhan tetap berlanjut.
Demikianlah ulasan ringkas tentang kompetisi Ramadhan, semoga bermanfaat bagi semua orang muslim yang beriman kepada Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya, serta memberi motivasi bagi mereka untuk bersemangat mengisi bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dalam kompetisi untuk meraih pengampunan dan kemuliaan dari-Nya, dengan bersungguh-sungguh mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah-ibadah agung yang disyariatkan-Nya. Yang selanjutnya akhir dari satu bulan ramadhan akan diperoleh gelar takwa kepada Allah SWT. Akhirnya Ayo berkompetisi dalam bulan ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi dengan meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT dengan niat tulus ikhlas karena Allah SWT semata-mata. Semoga kita semua termasuk kedalam kelompok La’allakum Tattaqun. Aamiin ya rabbal’alamin.

*Penulis adalah Guru PAI SMAN 1 Peukan Bada, Ketua MGMP PAI SMA Provinsi Aceh, Sekretaris DPW AGPAII Aceh, Pengurus BKM Mesjid Al-Istiqamah Peukan Bada, Redaktur Kepala Jurnal Pendidikan Nusantara, Editor Pelaksana Jurnal Ilmiah Cendekia Pendidikan Agama Islam dan Pembina YAPERA NAD.

Related posts