Kurikulum Yang Fleksibel Sangat Dibutuhkan dalam Pembelajaran di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp

Oleh : Hamdani S.Pd.,M.Pd
Kepala SMAN 1 Bireuen dan Ketua Ikatan Guru kabupaten Bireuen(IGI)

OPINI—Demi keberlangsungan pendidikan yang berguna dan bermakna akan ditentukan oleh kemampuan serta fleksibelitas seseorang dalam menamggapi suatu masalah akan muncul. Salah satunya adalah wabah Pandemi Covid-19. Dalam sebuah Kurikulum yang telah di cetuskan beberapa tahun yang lalu yakni kurikulum 2013 contohnya tak pernah terbayang sehingga tidak dirumuskan dalam kurikulum untuk untuk menghadapi pandemi Covid-19 di tahun 2020.sejhingga banayak orang yang berimajinasi mengenai generasi emas yang di canangkan pemerintah tahun 2045.

Read More



Kadang sering kita dengar dari kalangan orang merupakan imajinasi sebuah prediksi dasar. Keakurasi sebuah prediksi ini adalah ditentukan oleh suatu data awal yang diterima dengan suatu ramallan naik atau turun. Sdemua ini diprediksi akan naik, membaik, meningka dan membaik.

Semua ilmu termasuk manajemen modern,ilmu manajemen pendidikan di sekolah memegang sebuah harapan ini.Nah apa yang terjadi di kala bencana yang tak terduga terjadi sehingga harapan dari imajinasi 2045 bisa bubar dan pendidikan indonesia belum siap dan tdak fleksibel untuk itu.

Justru larena itu indonesia sangat membutuhkan sebuah kurikulum yang fleksibel, sehingga kita butuh sebuah skenario pembelajaran atau Silabus serta RPP yang fleksibel, dengan berbagai macam skenario dalam pembelajaran, tentu di sini perlu kopetensi pedagogi yang fleksibel bagi pendidik, tidak hanya itu kita butuh penilaian atau assessment yang fleksibel juga dengan tidak mengurangi kualitas pendidikan itu sendiri, sehingga pada suatu tertentu datang masalah yang tidak klita duga yang tak terprediksi seperti komflik, bencana yang tak mungkin bisa di atasi dalam waktu yang dekat, seperti yang terjadi sekarang ini wabah pandemi 19, pendidikan anak bangsa tidak akan menjadi korban tetapi akan tetap berlangsung seperti biasanya.

Tetapi tetap harus mengutamakan manusia dari pada kurikulum, metode dan media dan teknis assessment apapun yang digunakan itu. Pendidikan merupakan sebuah birokrasi dengan sebuah mata rantai komunikasi dan koordinasi yang sanagat lama dan tidak efektif. Contohnya sekarang ini , banyak sekolah,guru, dan ikut di dalamnya pergurun tuinggi hanya bisa menjalankan pembelajaran dengan cara daring.

Dan banyak masih lembaga pendidikan apalagi di daerah terpencil yang lamban bergerak karena harus menunggu instruksi dari pusat, serta menunggu datangnya surat dari Dinas. Dalam hal ini masih punya hal yang positi tentang embrio pembelajaran daring dan personal sudah diperkenalkan beberapa tahun terakhir.

Sistem Pembelajaran daring ini tujuannya adalah untuk memudahkan aktivitas belajar. dengan cara menyediakan sumber belajar yang mudah diakses oleh guru dan peserta didik. Metode Pembelajaran yang fleksibel merupakan tersedianya tempat, dan waktu yang bisa sepenuhnya dilaksanakan secara daring, bisa kombinasi daring dan luar jaringan serta tatap muka fisik konvensional.

Pada prinsipnya pembelajaran daring ini tidak menambah beban guru dan siswa, karena tujuannya untuk memudahkan belajar, seandainya beban guru dan siswa bertambah, kalau ini pun terjadi maka semua fasilitas harus disiapkan pemerintah tetapi di sesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing,jangan paksa untuk belajar daring, yang kedua beri tugas belajar sewajarnya dengan instruksi yang jelas dan sesuai tujuan belajar.

Di sini perlu ada upaya untuk selalu berkomunikasi dengan orangtua siswa dengan cara memberi stimulus yang baik serta respons yang positif, dan buka ruang dialog secara demokratis yang bisa membangkitkan motivasi dan instruksi yang jelas. Dan tak kalah penting memberikan bimbingan jika siswa masih belum memahami tentang pembelajaran daring, perlu penjelaskan ulang secara dialogis-Humanis.

Pada waktu yang mendesak perlu memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia di dunia maya yang bisa di akses melalui jaringan internet, oleh karena itu disekolah atau kampus perlu ada tim khusus yang bisa mendukung program ini.

Metode fleksibel dalam pembelajaran artinya menyesuaikan karakteristik konten dan siswa, fleksibel tempat artinya dapat berlangsung dimana saja bukan harus dikelas konvensional atau fisik, boleh dirumah kost dan lainya, flesibel waktu artinya tidak harus tepat waktu seperti pertemuan tatap muka dikelas biasanya pembelajaran daring waktunya lebih lama dan tidak harus saat itu juga bisa melalui google meet video confren, webinar, teleconference, zoom, forum diskusi, email, dll.

Pembelajaran daring juga bentuk pembelajaran perseorangan, untuk itu perlu memiliki kesadaran yang serius dari siswa dan perlu diimbangi dengan guru untuk bisa mengontrol pembelajaran secara berkala caranya dengan memberikan anstimulus – respon kepada siswa.

Secara akal sehat tidak ada yang bisa memprediksi kejadian yang terjadi di masa yang akan datang, terutama ketika faktor-faktor adi-manusia muncul. Ada sebuah Buku yang berjudul “Pendidikan Antisipatoris”, yang di tulis oleh Mochtar Buchori sekitar tahun 2002”, namun perspektif antisipatoris yang dibawa untuk dapat mengantisipasi kejadian masa depan kelihatannya belum bisa memperhitungkan masalah yang tak terprediksi dan bagaimana dengan Dunia pendidikan mesti harus bersikap terhadap problema seperti sekarang ini yaitu wabah covid19.

Dari tahun 2010 sampai 2019 kemarin, ketika zaman revolusi industri 4.0 muncul, pemerintah mengeluarkan statemen dengan mengarahkan dunia pendidikan untuk dapat membekali diri dengan pengembangan budaya literasi di setiap satuan pemndidikan terutama literasi teknologi dan literasi lainnya yang bisa meningkat kompetensi pendidik dan peserta didik dalam mengembangkan Teknologi Informasi di setiap satuan pendidikan. Tetapi semua itu masih didasarkan pada data dan fakta yang ada dan tampak.

Munculnya Covid-19 tak ada dalam perhitungan, yang hanya dalam hitungan hari mampu mengarakkan seluruh siswa dan guru, mahasiswa dan dosen, untuk menjalankan pembelajarannya dengan berbasis internet dengan menggunakan berbagai aplikasi yang tersedia.

Mungkin masalah ini, tidak ada jalan lain untuk menompang pendidikan pasca-pandemi Covid-19 harusl dengan pendidikan yang fleksibel, seperti responsif dan kontekstual. Harapan kepada para pemikir tentang teknologi pendidikan, terutama harusmengupdate berbagai teori dan perspektif pendidikan postmodern, karena kata-kata itu sudah sejak lama menjamur.

Namun sampai tahun 2019 saja terutama lembaga pendidikan formal tidak ada yang berani menggunakan kurikulum yang fleksibel dalam pembelajarannya. Karena semua harus terencana, terukur, tersistem, terstandar, dari awal proses hingga akhir sebagai mana pembelajaran sebelum Covid 19 terjadi.

Dan bagaimana cara untuk bisa mengubah agar pembelajaran di kelas dan kampus yang sifatnya forma, tidak lagi membebani siswa/mahasisw karena semua harus beradaptasi dengan pandemi Covid-19, namun tetap mengutamkan tujuan pembelajaran yang aktif dan efien sehingga , kualitas pembelajaran membawa hasil sebagai mana yang diharapkan.

Pemerintah telah menganjurkan agar pembelajaran di satuan pendidikan dari setiap jenjang dilaksanakan secara online atau daring untuk menghambat penyebaran Covid -19. untuk memahami ringkasan pembelajaran daring ini, media atau platform yang dimaksud lebih cenderung kepada bentuk Learning Management System atau Virtual Learning Environment seperti Moodle, Edmodo, dan lain sebagainya
Beberapa masalah penting yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini antar lain.

a . masa pengerjaan tugas di perpanjang. mengingat siswa harus beradaptasi dengan sebuah sistem pembelajar baru, dengan cara belajar siswa lebih menekankan pada kemandirian dalam belajar. Karena kondisi wabah pandemi Covid 19, setiap orang di wajibkan melakukan physical distance, tentu inimmenjadi bosan bagi yang melakukan, dan gaya hidup baru.

Namun, pembelajaran jarak daring juga tidak mungkin tidak memberi tugas kepada siswa sama sekali. Karena dengan tugas yang diberikan guru tahu hasil pencapaian belajar siswa.
b. fokus pada unjuk kerja (kinerja) atau produk yang menjadi ukuran dari keberhasilan capaian belajar siswa.

Tidak perlu mengontrol ketat pemahaman per sub-bahasan, karena akan cenderung memberi tugas berlebihan dan ini yang rata-rata terjadi di satuan pendidikan sekarang. Kalau tujuan pembelajarannya berupa pemahaman, cukup diberikan 1 atau 2 tugas terkait dengan tujuan tersebut.

Tujuan pembelaran di sini maksudnya tujuan pembelajaran dalam 1 semester, bukan 1 pertemuan/topik. Tidak perlu rinci. Tinggal guru memastikan pemahamannya tepat dengan eksplorasi tugas tersebut saja.
c, pedoman pada kompetensi inti saja, tidak perlu berpedoman kompetensi dasar.

Di setiap satuan pendidikan yang sedang menjalankan Kurikulum 2013, sekarang pedomannya adalah pada Kompetensi Dasar. Sedangkan Kompetensi Dasar merupakan penjabaran dari Kompetensi Dasar. Bila berpedoman pada Kompetensi Dadas kemungkinan cenderung memaksa guru untuk memberikan pelajaran secara detail keada peserta didik, tetapi betapa bagusnya jika Kompetensi Inti yang gunakan cukup ringkas.

Kalau Kompetensi Inti saja yang menjadi pedoman dalam pembelajarannya, sebagaimana sekarang berpedoman pada Kompetensi Dasar., pembelajaran dapat dirancang kemabli lebih sederhana tetapi tetap sesuai Kompetensi Inti. Akhirnya semua tugas yang di berikan juga ringkas dan penilaian fokus saja pada kinerja dan produk yang di hailkan.

Beberapa langkah ringkas yang harus dilakukan di masa Wabah pandemi Covid-19 tersebut, maka pembelajaran hanya berpedoman langsung pada intinya saja, tidak terlalu bertele-tele dan harus mengerjakan tugas yang begitu banyak. Sedangkan penilaian langsung fokus pada kompetensi apa yang ingin dicapai. Karena pembelajaran yang singkas, langsung pada intinya,dan akan memudahkan guru, siswa, dan orang tua di saat-saat darurat pandemi Covid 19 seperti sekarang ini.
Jadi arah pembelajaran yang fleksibel langsung pada pokok permaslahan tidak bertele-tele sehingga banyak waktu yang tidak berguna bagi kebelangsungnya pembelajaran bagi siswa, guru, dan orang tua, menghadapi pandemi Covid-19, merupakan sebuah mengingat pada masalah yang paling fundamental dalam pendidikan, yakni: tujuan pendidikan, tujuan belajar. Dengan hadirnya era digital sekarang tampaknya mulai disadari dan banyak yang berani melakukan. Contohnya mau bisa masak, seandainya bisa daring ya ikut daring saja, lebih ringkas, mudah, murah begitulah keingina manusia selalu memerlukan yang mudah dalam kehidupan sehari- hari. Ini merupakan sebuah tantangan bagi sekolah dan kampus formal kita sekarang. Bisakah bertahan di tengah lahirnya pusat-pusat belajar baru dalam komunitas belajar, homeschooling, atau bahkan channel-channel YouTube, instagram, twitter, WA, dan Facebook dan lain sebagainya. Semoga musibah wabah Covid 19 ini segera berlalu dan generasi penerus bangsa bisa mengikuti pembelajaran di sekolah kembali.Secara umum guru maupun siswa sudah sangat merindukan duduk bersama, untuk memperoleh ilmu serta mencari pengalaman untuk bisa menggalang hidup di masa depan.

Related posts