Makna Iedul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp

Oleh : Laila Sari SPd MPd*

OPINI—Makna idul fitri memiliki arti penting bagi umat Islam di dunia. Pada hari tersebut, umat muslim merayakan usainya puasa ramadan selama satu bulan penuh. Idul Fitri disambut dengan penuh suka cita, masyarakat tumpah ruah menggemakan takbir dan melaksanakan salat Ied.

Read More



Serangkaian silaturahmi dilakukan pada idul fitri. Moment bermanfaat dan berkumpul bersama tak pernah terlewatkan dalam menyambut idul fitri. Idul fitri merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalankan puasa ramadan.

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah yang artinya kebiasaan. Hal ini karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka. Sementara kata fitri memiliki dua makna yang berbeda menurut beberapa pendapat. Kata fitri bisa berarti “berbuka puasa” dan “suci”.

Makna Idul fitri juga dapat digambarkan sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah.

Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya, ia akan memiliki sikap yaitu: tetap istiqomah memegang agama tauhid yang berkeyakinan bahwa Allah itu maha besar dan hanya kepada-Nya kita memohon. Tetap berlaku sebagai hamba Allah yang selalu taat kepada perintah-Nya.

Sesungguhnya hakikat hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk menyempurnakan hubungan vertikal dengan Allah (Habluminallah) dan secara horizontal membangun hubungan sosial dengan baik (Habluminnanas).

Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saatnya kita menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah dengan cara memperbaiki hubungan sesama (human relation) secara baik. Manusia terlahir tanpa beban kesalahan apapun, tiap insan lahir suci tanpa noda dan dosa.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam sebuah hadist, “setiap kelahiran itu adalah fitrah. Maka kedua orangtua nya lah yang menjadikan anak-anak mereka Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”.

Puasa sebulan penuh selama bulan suci ramadan disyariatkan Allah SWT untuk mengajarkan umat islam tentang makna ketakwaan. Maka itu Allah menetapkan takwa sebagai predikat kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa ramadan hingga tiba pada puncak kemanangan hari raya kemenangan idul fitri.

Takwa secara etimologis memiliki kata dasar “waqa” yang berarti menjaga, melindungi, hati-hati, waspada, memperhatikan dan menjahui. Para penerjemah Al-quran mengartikan takwa sebagai kepatuhan, kesalehan, kelurusan, perilaku baik, teguh melawan kejahatan dan takut kepada Allah.

Pada penghujung Ramadan, sudah ada hari raya yang menanti. Banyak yang mengaitkan hari raya Idul Fitri sebagai hari untuk mudik, melakukan halal bi halal, menghidangkan berbagai macam makanan hingga berkumpul bersama keluarga. Idul Fitri merupakan puncak dari ibadah puasa yang sudah dilakukan selama bulan ramadan.

Idul fitri di tengah pandemi justru menjadi momentum bagi umat islam untuk menunjukkan karakter takwa yang sesungguhnya. Wabah korona membuka tabir betapa ketahanan penting sekali bagi sebuah bangsa dalam keterbatasan gerak sosial akibat kebijakan pysical/social distancing kita justru semakin dekat dengan perasaan senasib dan sepenanggungan.

Tumbuh kesadaran dalam diri untuk patuh dan taat aturan karena kita butuh untuk saling menjaga agar tidak tertular atau menularkan virus.

Setiap muslim yang lulus dari madrasah ramadan harus benar-benar menjadi pribadi yang bersih (suci) dan saleh. Kuat iman dan kepribadiannya, bersih hati dan pikirannya, halus budi pekertinya, serta tumbuh kepeduliannya kepada sesama terutama pada kaum duafa. Itu semua buah dari ketakwaan yang diraih selama ramadhan dan dipraktikkan pasca ramadhan dengan istiqamah.

Pandemi Covid-19 tidak mengubah makna lebaran idul fitri hanya beberapa tradisi yang berubah seiring dengan kebutuhan untuk mencegah penyebaran virus korona baru penyebab Covid-19 ini. Di masa pandemi Covid-19, tradisi lebaran masih masih bisa dijalankan merki harus menggunakan tata cara yang tidak melanggar protokol kesehatan. Di sisi lain, banyak hal positif baru yang bisa dilakukan tanpa harus mudik ke kampung halaman.

Idul fitri dalam masa pandemi seolah-olah akan menghilangkan kultur yang sudah berjalan bertahun-tahun. Padahal, tetap bisa dilakukan dengan cara yang berbeda. Momen ramadhan dan idul fitri biasanya identik dengan ziarah kubur.

Pada masa pandemi ini hal tersebut tetap bisa dilakukan dengan cara membacakan tahlil dari rumah begitu pula dengan tradisi sungkeman, masyarakat dinilai masih bisa melakukannya tanpa harus bersentuhan fisik atau berkerumun, jika bertemu sesama dijalan tetap sampaikan mohon maaf lahir batin, tidak usah bersalaman tetapi memberikan isyarat tubuh yang baik dan sopan.

Hal yang sama juga bisa dilakukan saat melakukan salat tarawih dan salat id selama ini tidak ada larangan untuk melakukan salat sunnah tersebut. Masyarakat tetap bisa melakukannya di rumah baik secara mandiri maupun berjamaah di rumah. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan itu namanya kita sedang menajga jiwa. Menjaga jiwa adalah tujuan syariah yang paling besar.

Umat muslim di dunia termasuk di Indonesia tahun ini, mengalami suasana yang berbeda, dalam merayakan hari raya Idul Fitri. Pandemi covid-19 tidak mengubah makna lebaran namun, sebagian tradisi berubah seiring dengan pencegahan penyebaran virus corona baru penyebab pandemi.

Beberapa hal baru yang terjadi saat ini di antaranya: larangan mudik, shalat idul fitri pun diminta di
gelar di rumah dan kebiasaan silaturahim dilakukan melalui piranti daring.

Lantas, bagaimana cara masyarakat memaknai hari raya idul fitri di tengah pandemi covid-19 ini?

Wabah ini harus menjadikan pribadi muslim menjalani hidup sesuai nilai dan etika sosial yang diajarkan agama. Saling menolong, gotong royong, silaturahim dalam arti mengenal lebih dekat kesulitan saudara-saudara kita serta saling menguatkan dan memberi dukungan.

Inilah momentum untuk menghadirkan manfaat dan keberkahan bagi masyarakat bangsa dan negara. Wabah ini harus mentransformasi kesadaran kita bahwa diluar takdir kehendak Allah untuk menguji hamba-Nya, melalui wabah ini Allah SWT ingin agar kita mengukuhkan kebersamaan serta memperkuat persatuan dan kesatuan untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusian.

Setiap muslim yang lulus dari puasa ramadhan harus benar-benar menjadi pribadi yang bersih, suci, dan shaleh.

Kuat iman dan kepribadiannya, bersih hati dan pikirannya, halus budi pekertinya, serta tumbuh kepeduliannya kepada sesama terutama pada kaum dhuafa. Itu semua buah dari ketakwaan yang diarih selama ramadhan dan di praktikkan pasca ramadhan dengan istiqamah.

*Penulis adalah Dosen Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh



Related posts